Telekomunikasi di Indonesia, Milik Siapa?

Di negara manapun, bidang telekomunikasi selalu mempunyai peran penting dalam kemajuan teknologi dan taraf hidup suatu bangsa. Telekomunikasi juga merupakan bidang yang menyentuh hajat hidup orang banyak. Mungkin karena itu juga, perusahaan telekomunikasi dunia berlomba-lomba untuk berebut pangsa pasar di negara-negara lainnya. Dan seharusnya, negara-negara yang menjadi incaran perusahaan besar dunia tersebut, tidak serta merta dengan tulus ikhlas mempersilahkan perusahaan asing menjadi raja telekomunikasi di negerinya.

Tapiiiiii, apa yang terjadi di Indonesia ???

Indonesia seperti sepotong pizza di atas meja yang diamati oleh orang-orang kelaparan, lengkap dengan pisau di tangan kanan dan garpu di tangan kiri. Begitulah telekomunikasi indonesia, senantiasa membuat air liur perusahaan telekomunikasi asing mengalir dengan derasnya. Berlomba berebut pangsa pasar di indonesia.

Siapa yang tidak tertarik berbisnis telekomunikasi di Indonesia? Sebuah negara dengan luas daerah yang membentang dari 6o LU-11o LS, 95o BT-141o BT. Negara dengan pola hidup konsumtif di masyarakatnya dan pola hidup mewah di pejabat Negara dan orang-orang kayanya. Negara dengan beribu film dan sinetron di televisi,yang senantiasa membangkitkan gairah hidup konsumtif dan mewah. Lengkap lah sudah hasrat yang menggebu untuk menggenggam Indonesia

Berikut ini adalah cuplikan perjalanan wajah perusahaan telekomunikasi Indonesia :

Etisalat (investor dari Uni Emirat Arab) membeli 15,97% saham PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) milik kelompok Rajawali pada Desember 2007.

Singtel (investor Singapura), memiliki 35% saham di telekomsel. Sedangkan Telecom Malaysia, memegang mayoritas saham di XL. Indosat pun saat ini dimiliki oleh Qatar Telecom, dengan saham sebesar 40,8%.

Februari 2008, Saudi Telecom Company yang berbasis di Arab Saudi bersama Maxis Communications asal Malaysia memproklamirkan Axis melalui bendera PT Natrindo Telepon Seluler. Saham Axis dimiliki oleh 5% perusahaan lokal, 44% Maxis Telecomunication, 51% Saudi Telecom Company.

Bahkan PT Telkom Indonesia, salah satu perusahaan BUMN, sebesar 48% lebih sahamnya dimiliki oleh pihak asing.

Walaupun saat ini kita masih bisa membahasakan bilang bahwa perusahaan telekomunikasi dikelola bersama antara pihak asing dan pemerintah. Tapi saya kuatir, ketika suatu saat nanti anak cucu kita bertanya tentang siapa pemilik telekomunikasi di Indonesia, maka kita akan kebingungan untuk menjawabnya, karena saat itu sudah tidak ada lagi saham telekomunikasi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Semoga saja tidak….

Dedi Setiawan @ Lab Tele, IT Telkom

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Motivasi dan inspirasi menulis :

- Sinyal telepon seluler saya yang semakin jelek

- detik.com dan detik.com

- Wikipedia

About these ads

9 thoughts on “Telekomunikasi di Indonesia, Milik Siapa?

  1. huah.. topik hangat yang sedang diperbincangkan para cendekia bangsa

    yup, semoga saja saham telekomunikasi yang dimiliki bangsa tetap dapat dipertahankan

  2. Lebih sedihnya lagi Ded ya, ngga’ cuma dunia telekomunikasi bangsa kita yang sapi perah asing.
    - Perusahaan2 besar asing membuat pabrik (istilahnya manufaktur ya? :) ) di Indonesia karena mereka bisa semena2 ngasih gaji dan ke-ngga-nyamaanan bekerja buat buruh2 di Indonesia yg pemerintahnya EGP(EGP-nyontek lagunya Maia :)). Dengan sengaja menyebut merek: Nike, Reebook, Adidas, GAP, dkk. :mrgeen:
    - Minyak bumi, barang tambang, kayu, dan SDA lainnya. Sudahkah bangsa kita menikmatinya selayaknya sebagai pemilik sah atas kekayaan negeri ini?? haha..kayaknya ngga’ deh, paling cuma kecipratan lumpur untuk merendam rumah dan sejuta kenangan atasnya. huhuhu… jadi sedih.
    - dan seterusnya…

    Indonesia butuh pemimpin yg punya hati dan nyali. Terus semangat Ded, mungkin kamu orangnya. :)

  3. Satu sisi kita gak mau menjual aset penting kita. Tapi disisi lain kita tidak ada yang laku dijual, kecuali aset2 penting itu.
    Menurutku masalahnya lebih dalam dari aset penting dikuasai oleh negara asing, tapi masalahnya adalah manusianya yang gak siap untuk maju.
    Bisnis kalo terlalu dilindungi juga hasilnya seperti PLN dan Pertamina. Milik kita tapi menjijikan kinerjanya.

  4. kalau orang awam kayak saya sih bisanya cuma berharap aja pemerintah bisa buat peraturan yang sehat buat para inpestor, win-win solution gitu. yang penting winnya jangan kebanyakn buat investor asing, soalnya investor asing kan orientasinya pasti cuma keuntungan beda sama investor lokal.

  5. mendingan negaranya aja yang di jual..terus dikelola asing…orang2nya di matiin aja….kasian banget sih indonesia…sama aja kayak penjajahan jaman bahela…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s