saya n\' papa

Setiap bangunan megah di muka bumi, selalu dibangun oleh seorang arsitek. Bangunan peradaban saat ini pun dibangun oleh arsitek berjiwa besar dengan kontribusi yang besar juga. Arsitek-arsitek itu mungkin tak selalu memiliki nama besar dan terkenal, tapi arsitek-arsitek peradaban itu tersebar di luas di tempat umum, atau menyusup di tempat-tempat sempit. Tidak peduli di mana tempatnya, nyatanya mereka tetap memberi kontribusi yang besar untuk bangunan peradaban ini.

Masing-masing bangunan ada arsiteknya sendiri. Begitu juga dengan rumah tangga, arsiteknya tak lain tak bukan adalah seorang ayah. Di rumah saya, arsitek itu dipanggil “papa”. Papa, seorang seorang yang darinya saya banyak belajar tentang ketegasan, sikap pantang menyerah, menjadi lebih berani, dan berbagi cinta kasih. Bahkan secara tidak disadari (Alhamdulillah sekarang sudah sadar ^^), salah satu kontributor konsep “motivasi tiada henti” dalam diri saya adalah beliau, ayah saya.

Di malam-malam yang sepi, kadang kami ngobrol bersama, sambil minum teh hangat. Beliau bercerita tentang perjuangan keras yang beliau hadapi. Bercerita tentang masa-masa sulit, masa-masa harus berjuang sendirian, jauh dari orang tua dan kampung halaman. “Papa aja yang waktu dulu serba sulit bisa seperti sekarang, apalagi kamu sekarang yang sudah jauh lebih mudah. Kamu harus lebih baik“. Aiihh, satu lagi konsep “motivasi tiada henti” yang beliau tanamkan kepada saya.

Di sela-sela kegiatan sehari-harinya, beliau masih sempat meluangkan waktu untuk mengajar saya mengaji. Susah payah beliau mengajari saya, bahkan dimulai dari pelafalan huruf “alif, ba, ta, tsa . . .”. Saat SMA pun beliau masih sempat mengoreksi bacaan “bismillah” yang saya ucapkan. Berulang kali beliu mengulang pelajarannya, “Jangan asal mengucapkan, makhroj-nya harus benar“, begitu pesan beliau. Bahkan saat sudah se-gede ini pun, kalau saya pulang ke rumah, beliau suka ngajak ngaji bareng. Semoga kita bisa mengenang ini saat bersama di surga nanti ya Pa. Ah, indah sekali . . . . Allahumma aamiin.

Satu lagi rasa yang berhasil beliau tanamkan di hati anak-anaknya, yaitu perasaan menjadi anak yang paling disayangi di muka bumi (whehehe, narsis ^_^). Pernah suatu ketika saya pulang ke Lampung karena sakit, pas beliau bertemu saya di pool Kramat Djati, sambil memeluk saya, beliau bilang “Nak, papa kangen . . .”, lalu beliau pun terisak. Bukan sekali dua kali juga beliau bilang “anak-anak papa itu beda, apalagi anak bujang papa, pasti paling disayang“. Hahaha, geli juga saya mengingatnya, tapi percaya atau tidak, yang jelas kata-kata itu masih sering saya dengar hingga saat ini. Nyatanya, memang seperti itulah yang saya rasakan.

Ah, pa . . . kenangan-kenangan itu teringat kembali. Di saat umur papa sudah genap setengah abad. Di saat kita jauh…. Biar kita terpisahkan jarak yang jauh dan hanya bisa bertutur lewat telepon, tapi Insya Allah hati kita dekat dan bersatu. Melalui tulisan ini, ananda hanya ingin menggemakan kepada dunia, bahwa saat ini ananda berucap, “Selamat ulang tahun, happy birthday, Met milad ya pa , , ,”. Kepada semua anak di dunia ini, mari bersama kita doakan orang tua kita semua. Robbanaa firlanaa wa liwaalidayna warhamhuma kamaa robbayana soghiiro. Aamiin.


Dedi Setiawan, 19 Juni 2008, 13.00 WIB
@ Istana Inspirasi ( Villatel Putra 105, kelak dari kamar inilah masyarakat akan lebih berdaya)
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Motivasi dan inspirasi menulis :
- Hari lahir papa yang jatuh pada tanggal 22 Juni
- Kenangan bersama papa. Ah, sweet memory ^_^