“Qum ya Hudzaifah…!”
Maka Hudzaifah pun berdiri, berangkat mengintai dan menyelinap ke perkemahan kaum kafir Quraisy pada saat perang Khandaq. Dengan kejujurannya, ia pun mengakui bahwa sebenarnya ia didera ketakutan ketika Rasulullah memerintahkannya untuk melakukan kegiatan spionase itu. Bagaimana tidak, tugas berat itu harus dilakukan di bawah deraan rasa lapar, terpaan hujan es, dan deru topan yang menyapu gunung-gunung di Sahara.
Setelah berhasil masuk ke barisan kaum kafir, ia terjebak pada inspeksi mendadak yang dilakukan oleh pembesar Quraisy saat itu, Abu Sufyan. Sebuah inspeksi yang menyebabkan ia bisa berdekatan dengan pembesar Quraisy itu, sebuah keadaan yang menyisakan ruang cukup leluasa untuk melepaskan anak panah guna membunuh Abu Sufyan.
Apa yang terjadi selanjutnya . . . . . . ???
Yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang menjadi pelajaran bagi kita semua. Dengan kalimat, “kalau bukan karena pesan Rasulullah kepada ku agar tidak mengambil suatu tindakan sebelum menemui beliau terlebih dahulu, tentulah aku bunuh Abu Sufyan itu dengan anak panah”, seolah Hudzaifah ingin menekankan kepada kita bahwa m-e-n-y-i-m-a-k bukanlah sekedar m-e-n-d-e-n-g-a-r.
Kesempatan untuk membunuh Abu Sufyan menganga di depan mata, tinggal menarik busur panah, maka hampir bisa dipastikan bahwa anak panah akan telak tertancap di bidikannya. Tapi Hudzaifah teringat pesan Rasul, bukan untuk membunuh Abu Sufyan ia ditugaskan, tapi hanya untuk mengetahui keadaan kaum kafir Quraisy saat itu. Bagitulah, niat untuk membunuh Abu Sufyan ia urungkan, ia pun kembali ke hadapan Rasulullah dengan segudang informasi akurat yang dibawanya.
Hudzaifah “telah menceritakan” kepada kita, bahwa ia tidak hanya melakukan kegiatan mendengar, tapi juga menyimak. Nyatanya memang terdapat perbedaan yang besar antara menyimak dengan sekedar mendengar. Sama besarnya dengan perbedaan antara kata hearing dan listening dalam bahasa Inggris. Hearing sering hanya diartikan sebagai “ability to hear”, sedangkan listening sering digunakan untuk menunjukkan kemampuan memahami informasi dan melakukan respon terhadap informasi yang diterima.
Agar kegiatan menyimak tak sekedar mendengar, mungkin kita perlu membiasakan diri untuk menatap lawan bicara kita dengan sungguh-sungguh. Dengarkan apa yang ia ucapkan, lalu cerna dan pahami. Selain itu, carilah stimulan non verbal bila merasa bahwa stimulan verbal cukup sulit dipahami. Stimulan non verbal itu bisa berupa raut wajah, gerak tubuh, atau hal lainnya. Selanjutnya, sebisa mungkin berusalah juga untuk mengeleminasi semua gangguan yang dapat menghambat kegiatan menyimak. Yang terakhir, sebaikanya kita menghindari judge terhadap pesan yang disampaikan, jangan bersikap “sok tau!” atau berfikir “pasti dia mau ngomongin tentang ini deh”. Bersabarlah untuk menunggu sampai akhir percakapan, jangan menyimpulkan di tengah, apalagi di awal. Well, semoga kegiatan menyimak, tidak sekedar mendengar, terutama untuk hal-hal yang penting.
Dedi Setiawan, 5 Juli 2008, 12.57 WIB
@ Rumah di Lampung, Never Ending Motivation Center ^_^
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Motivasi dan inspirasi menulis :
- Salah jam waktu mau nganterin Echie (my younger sister) untuk tes masuk SMA. “Bang, echie nih tesnya jam setengah lapan. Buruan donk”. Parahnya, saya ngedenger klo tesnya itu jam delapan. Whuaaaaaa…. parah…! untung aja dia ga telat.
- Khalid, Muhammad Khalid. Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah. Bandung: CV. Diponegoro, Bandung. 1998.
Makasih untuk BM IT Telkom yang udah minjemin buku ini ^_^
- Novianto, Eko. Sudahkah Kita Tarbiyah?. Solo : Era Intermedia. 2007
- QS. Al Mulk : 10, “Dan mereka berkata, “sekiranya (dahulu) kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.”
July 5, 2008 at 6:04 pm
Setuju setuju..
Ini satu skill yang perlu aku latih. Istriku suka marah2 sama aku karena kalo diajak ngomong gak konsen. Pikiran kemana-mana. Kadang istriku perlu jelasin ulang biar aku inget. Parah emang penyakitku ini.
July 5, 2008 at 7:12 pm
yup, that’s it: hearing and listening
udjo juga berpikir demikian
July 6, 2008 at 5:54 am
Horen Sie bitte
kenapa horen hayo..?? hehe..
July 6, 2008 at 9:55 am
kadang kita sendiri kurang memaksimalkan alat indra yang kita punya seperti telinga tidak hanya untuk mendengar, mata tidak hanya untuk melihat, kulit bukan hanya untuk menyentuh, dan yg laennya…
ditunggu postingannnya tentang alat indra yang laen…berat..hehe
July 8, 2008 at 9:37 pm
yup, bahasa psychology; active listening and passive listening..memetik kata2 di akhbar: if listening is so important, why not learn to listen better..ada hikmahnya Allah bagi 2 telinga, 1 mulut; Listen MORE, speak LESS ~ cakapnya senang, praktisnya sussah, especially nature org yg byk bercakap mcm saya
~
August 10, 2008 at 11:11 pm
[...] Simaklah…! itu jeritan bangsa Indonesia. Seolah Indonesia meminta, memohon, dan mengiba. “Tolong [...]