Udah hampir sebulan semenjak KPU mengumumkan nama-nama partai politik (parpol) peserta pemilu 2009. Udah hampir sebulan juga saya berencana untuk memberikan pandangan (emang siapa saya…? hehehehe) terhadap parpol-parpol itu.

Well, siapapun boleh berpendapat tentang partai-partai itu, saya salah satunya ^_^. “Ga’ nyasar nih, masa’ anak teknik ngomentarin kayak ginian…?”, Ya enggak donk, apapun jurusannya, teteup merhatiin perkembangan. Yah, jadi engineer yang politikus kan ga’ salah hehehe

Ok, pembagiannya singkat aja (maklum, ga’ suka yang ribet-ribet), parpol-parpol tersebut saya bagi jadi dua : parpol agamais n’ parpol non-agamais. Lho, kok gitu…? iya, supaya singkat aja. Tadinya sih mau ngebagi partai baru dan partai lama, tapi kuatir nti menimbulkan kesan senioritas-junioritas ^_^ , udah kayak ospek di kampus-kampus aja, jadinya ga jadi deh.

Ok, kita mulai ya…. ^_^

Parpol agamais : singkatnya, parpol ini menjadikan agama sebagai “bahan bakar” geraknya atau minimal dikait-kaitkan dengan suatu agama. Parpol agamais diantaranya adalah : PKB, PPP, PBB, PBR, PMB, PKNU, PDS, dan PKS.

Kalau kita menggunakan pendekatan agama semata, seharusnya kita sudah punya bayangan tentang perolehan jumlah suara parpol-parpol ini, bahkan jauh hari sebelum hari perhitungan suara dilakukan oleh KPU. Misalnya saja seluruh suara umat kristen akan masuk ke PDS. Atau seluruh suara umat islam akan masuk ke parpol-parpol islam. Tapi inilah politik, logikanya terlalu rumit untuk dipahami. Nyatanya adalah bahwa parpol agamais tidak pernah menang sejak rezim orde baru ( whuuaaaaa ….).

Sebenarnya saya cukup miris melihat nasib parpol-parpol agamais ini, terutama untuk yang beragama islam; mereka ditinggalkan umatnya! meningkatnya jumlah parpol agamais secara kuantitatif, ternyata tidak serta merta meningkatkan perannya secara kualitatif. Jumlah yang banyak malah membuat masyarakat semakin bingung menentukan pilihan. Bukan hanya bingung terhadap banyaknya jumlah, tapi juga bingung karena sikap dan tingkah laku para kader partai tersebut.

Ya, masyarakat bingung terhadap citra beberapa parpol islam yang amburadul belakangan ini. Sebut saja skandal “tanjung api-api”. Di sini masyarakat disuguhkan berita tentang seorang Al Amin (bisa dipercaya…?!) yang disinyalir terlibat kasus suap; uang dan perempuan! Belum lagi kisruh berkepanjangan di tubuh PKB. Partai yang mempunyai basis massa kaum Nahdiyin ini, terlibat perang seru antara paman dan keponakan, yaitu Gus Dur dan Muhaimin. Bayangkan, satu partai saja musuhan, apalagi beda partai! Lho, bukannya masih ada partai islam yang lainnya…?

Iya sih, masih ada, tapi coba kita liat lagi. PPP, icon suara islam di era orba, ternyata makin hari makin ditinggalkan konstituennya. PBR yang dibidani oleh “da’i sejuta umat”, ternyata memang hanya mendapatkan suara sebanyak sejutaan saja. PBB yang dianggap sebagai pewaris masyumi, ternyata belum bisa berbuat banyak di kancah perpolitikan Indonesia.

Mungkin PKS masih bisa menjadi harapan. “bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada!”, begitu kata pentolan partai berlambang bulan sabit kembar ini. hal itu memang tidak terlalu mangada-ada; PKS menjadi partai kecil yang mengembalikan uang gratifikasi terbanyak, citra kadernya di parlemen relatif bersih, dan memiliki jaringan yang cukup solid. Bahkan, PKS yang ikut menjadi bidan dalam bergulirnya reformasi, kini menjadi jagoan di berbagai pilkada di tanah air. Jawa barat dengan HADE-nya, Sumatera Utara dengan SYAMPURNO-nya, dan Nusa Tenggara Barat dengan BARU-nya turut menjadi saksi serial kemenanan PKS.

Tapi bukan berarti tanpa kekurangan. PKS hingga saat ini belum memiliki tokoh sentral yang dikenal oleh masyarakat. Kalaupun ada Hidayat Nur Wahid (HNW) yang menjadi ketua MPR, hal itu dinilai belum cukup. HNW memang terkenal di daerah perkotaan, tapi belum punya nama di desa-desa. Selain itu, sikap PKS yang menolak usulan hak angket terhadap skandal BLBI masih menyisakan sesak di hati masyarakat Indonesia. Belum lagi sikap kader-kadernya yang terkesan eksklusif; di kampus terlihat tertutup dan di masyarakat terkesan kaku. Hal inilah yang kadang menyebabkan hilangnya simpati masyarakat terhadap partai dakwah ini.

Dua parpol baru, PKNU dan PMB, untuk saat ini belum bisa banyak dikomentari. Citranya masih relatif bersih karena memang belum ada partisipasi nyata di panggung politik Indonesia. Kalau dilihat prospeknya, mungkin PMB (yang kabar-kabarnya punya kedekatan dengan tokoh Muhammadiyah) akan menjadi parpol alternatif bagi warga Muhammadiyah yang terlanjur kecewa dengan PAN. Maklum saja, belakangan ini PAN terlihat sibuk dengan dirinya sendiri ketimbang menjadi matahari bagi umat.

Parpol non-agamais : singkatnya, partai ini biasanya tidak menyangkut-pautkan dirinya dengan konstituen dari agama tertentu. Di bawah ini adalah pandangan saya terhadap beberapa parpol yang termasuk kategori ini.

Golkar. Partai yang sempat menjadi icon koruptor, kolusi dan nepotisme di akhir periode tahun 90-an ini, ternyata mulai berbenah diri. Berbekal jam terbang yang tinggi, dukungan uang, dan kekuatan mesin parpol, partai berlambang pohon beringin ini mencoba memperbaiki citranya. Hasilnya? Golkar adalah partai pemenang pemilu 2004. Fantastis….!

Tapi belakangan ini golkar sudah mulai ditinggalkan oleh pemilihnya. Akhir yang cukup miris. Berbagai pilkada di tanah air menunjukkan episode kekalahan partai ini. ada beberapa alasan yang menjadi pemicu, diantaranya adalah jagoan yang diusung pas pilkada, dan biasanya incumbent, bukanlah sosok yang menunjukkan prestasi memukau saat diamanahi sebagai pemimpin masyarakat. Sebab lainnya adalah sikap Jusuf Kalla yang terkesan ceplas ceplos dan mengeluarkan kebijakan tidak populis dengan mendukung kenaikan harga BBM. Dan yang terakhir, tentu saja masyarakat saat ini semakin pintar. Masyarakat saat ini sudah punya jargon sendiri, “ambil uangnya, jangan pilih orangnya!”, dan hal ini membuat kekuatan uang yang dimiliki partai ini menjadi tidak berdaya. Agaknya, rindangnya beringin golkar akan menjadi layu di pemilu 2009 nanti.

ok, ampe sini dulu ya…. Istirahat sejenak ^_^ Tinggal dikil lagi sih sebenernya. Tinggal keluarga banteng, keluarga artis, n’ keluarga militer yang belom disinggung-singgung. Tapi,,, ampe sini dulu ah. Insya Allah bersambung ^_^