UNTUK “IBUKOTA NEGERI PARA DEWA”
============================
Dengan apa kubalas cintamu, Ma?
Kata puji lebur terdistorsi
sebelum udara menuntaskan kerjanya
mengantar Hertz terendah pada daun telingamu
sedang metafora tak pernah purna
mengukir kasihmu dalam bait-bait kata
Setiap kali keputusasaan menyergap
kupanggil memori terindah kebersamaan kita,
lalu engkau seperti melepas jiwa
menitipkannya pada angin di tenggara Sumatera
mengarungi mil selat sunda
sampai di sebuah cekungan barat Jawa.
Jiwa yang kau lepas itu
menyulam lagi asa jiwaku
Kureguk berkah mata air air mata
saat kau menerbangkan asa ke langit tertinggi
di sisa malam yang masih kabut
bukankah namaku tak pernah luput kau sebut?
Sedang lisanku terlalu tergesa menyebutmu
di ujung munajat yang tak kunjung khusyuk
@istana inspirasi
27 Desember 2010
January 14, 2011 at 21:45
Wah..apa aku yg pertama?wew…jarang2 nih
Bait ke 3 di paragraf pertam, dalem hihihihi…
January 14, 2011 at 22:06
knp mesti bernostalgia sama memori2 indah??? knp gag lebih menatap ke depan.. move on dsb??
January 14, 2011 at 22:20
Manteb puisinya. Ada seseorang yang saya rindukan, sesaat setelah membaca ini..
January 14, 2011 at 22:46
jalan-jalan malam ketempat sahabat, semoga sukses selalu…
January 14, 2011 at 23:49
sumpah, merinding bacanya nih..
January 15, 2011 at 09:58
Puisi yg indah
Bundamu bahagia jikalau membacanya
Oh ya, jika berkenan silakan mampir lagi. Ada yg anget banget di blogku
January 15, 2011 at 13:25
Mencoba menhayati setiap kata yang tersaji, hm….. kapan aku bisa membuat pusi seperti ini ya
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
January 15, 2011 at 21:56
Kata puji lebur terdistorsi
sebelum udara menuntaskan kerjanya
mengantar Hertz terendah pada daun telingamu
sedang metafora tak pernah purna
mengukir kasihmu dalam bait-bait kata
suka paragraf pertama, nyains dan nyastra (alah..alah istilahnya…)
nice post, Kang…
January 15, 2011 at 22:52
[...] jari jemari ini bergetar dan bergetar menari diatas keyboard, dari tarian keyboard tertulis puisi indah untuk ibu. Selasai membaca puisi mampir di blog baru shobat yang launching beberapa hari lalu. Sukses dan [...]
January 15, 2011 at 22:58
Paragraf terakhhir, Mamahku banget tuh.. terharu membacanya..
January 16, 2011 at 05:46
lanjut sob…salam mampir..
January 16, 2011 at 20:05
wau puisi yang sangat indah, dan saya belum bisa bikin hal yang begini, salam kenal dan sukses selalu
January 16, 2011 at 20:13
dalemm..jadi teringat sama ibu saya hiks
January 17, 2011 at 21:54
bahasa puisi yang indah, bikin ingat sama ortu nih kalo lagi dirantau
January 18, 2011 at 14:23
apakah ibu punya ajian yang dihembuskan
sehingga kerap kali kurasakan Homesick berkepanjangan?
apakah ibu punya samudera
sehingga kurasakan dingin menyandera
ketika dunia yang gersang garang mendera?
kau jawab “aku punya cinta untukmu,”
January 19, 2011 at 17:10
essentially Like this..
January 21, 2011 at 10:43
jadi pengen pulang….
January 22, 2011 at 21:29
menawan..ibumu harus baca mas^^
January 25, 2011 at 21:01
Jujur mas, Saya blank kalo baca puisi /:(
January 28, 2011 at 22:13
[...] Puisi untuk Ibu « Tarian Keyboard [...]