Hari ini kita hidup di bumi yang kaya rasa. Bumi yang dihuni berjuta perangai. Dalam kondisi seperti itulah kita menjalin pertemanan dengan banyak orang. Sebuah hubungan pertemanan yang sebenarnya rentan retak bahkan pecah. Jika pada suatu masa dalam pertemanan itu kita menghadapi masalah, bijakkah kita menghadapinya dengan satu pendekatan saja? Padahal, sekali lagi, bumi ini begitu kaya rasa dan dihuni berjuta perangai.
Tidak, tidak… satu pendekatan dan sifat egois tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kita butuh saling pengertian, saling memahami, dan belajar untuk saling menyelami perasaan teman kita. Satu lagi, kita harus punya alasan kuat kenapa pertemanan itu harus dilanjutkan.
Mungkin kita sering mendengar dua sahabat bertengkar karena beda perangai, lalu berbeda jalan bahkan saling serang. Sejujurnya, bukan perangai masalah utamanya. Masalahnya adalah seberapa luas hati seseorang untuk memahami dan mengelola perbedaan. Bukankah Abu Bakar yang berhati lembut bisa berteman dengan Umar yang berperangai keras? Bukan sekali dua mereka silang pendapat. Tapi toh hati mereka tetap akrab. Mereka bisa saling memahami, mengapa kita tidak? Bukankah seharusnya kita juga punya seribu satu alasan yang dibingkai dengan pemahaman yang baik untuk mempertahankan pertemanan?
“Teman”, kata yang terdiri dari lima huruf itu telah berhasil menjadi kata ganti untuk orang yang terasa baik oleh kita, walaupun pada kenyataannya tidak selamanya baik. “Teman”, dialah orang yang membuat kita ingin memangkas jarak, ingin dekat meski tak ada yang perlu dibicarakan. Hadirnya ia mendatangkan kedamaian, juga kenyamanan.
Di akhir episode kehidupannya, Rasulullah pernah meminta para sahabat untuk membalas jika mereka pernah disakiti oleh beliau. Lalu seorang laki-laki mengklaim bahwa tubuhnya pernah tersabet oleh Rasulullah di suatu peperangan. Sahabat yang lain unjuk suara, bersedia dicambuk untuk menggantikan posisi Rasulullah. Tapi laki-laki itu tetap pada pendiriannya, Rasulullah tak boleh digantikan, bahkan ia menyuruh Pemimpin kharismatik itu melepas bajunya. Sahabat yang lain geram, menganggap ini penghinaan! Ada yang sudah siap menebas lelaki itu dengan pedangnya. Di akhir cerita, kita tahu bahwa ini hanyalah strategi dari ‘lelaki nyeleneh’ itu untuk menunjukkan cintanya pada Rasulullah. Ia bermaksud memeluk tubuh orang yang dicintainya itu tanpa sekat, berharap syafaat dari dua kulit yang melekat.
Apa yang bisa kita pelajari dari kisah tersebut? Banyak. Salah satunya adalah sifat rendah hati Rasulullah untuk mempertahankan hubungan pertemanan. Bayangkan, seorang pemimpin dunia bersedia dihukum cambuk “hanya” karena ia tak sengaja mencambuk teman seperjuangannya.
Tuntas sudah beliau membayar kesalahan yang tidak disengajanya. Tinggallah sekarang kita di sini, menimbang-nimbang, sudah sesering apa kita kita berbuat salah kepada teman kita? Jangan dulu terlalu bersemangat mengingat yang tidak disengaja, mengingat kesalahan yang disengaja saja rupanya sudah menghabiskan banyak waktu. Bukan, bukan karena kita sulit mengingatnya, malah mungkin kesalahan itu terlalu banyak. Ingatan tentang kesalahan itu meledak-ledak, meronta-ronta ingin tertulis dalam daftar panjang kesalahan kita. Astaghfirullah…
=============================================================
Pada awalnya, tulisan ini hanya bermaksud merevisi tulisan lama yang berjudul “Seribu Teman belum cukup, Satu Musuh Terlalu Banyak”.


April 1, 2011 at 12:45
mantab… mari melihat persamaan kita yang sedemikian banyak, bukannya fokus pada perbedaan yang cuma hanya satu atau dua
^^
April 1, 2011 at 18:30
Kalau saja ada mesin waktu seperti Quantum Lead, Time Voyager, Back to The Future atau apapun itu saya bakal mencegah diri saya di masa lalu untuk melakukan satu kebodohan, Tapi waktu tidak pernah bisa diputar barang sedetik. Pelajaran berharga buat saya, arti teman itu mahal sekali. Sampai detik ini saya merasa kehilangan sahabat saya yang dulu (koq jadi curcol ya?)
April 3, 2011 at 00:21
ternyata hati saya belum luas menerima suatu hal
*kontemplasi.undur diri.merenung
April 3, 2011 at 07:06
Duuhh… jadi ingat, sudah banyak menyusahkan teman. Tak terkecuali yang disengaja…
April 3, 2011 at 23:20
saling memaafkan saja ya
April 4, 2011 at 08:36
ah ga ada foto gw, ga diajak nih.. hehe
April 5, 2011 at 17:56
pinjam kata iklan..
GAK ADA LHO GAK RAME
April 5, 2011 at 21:52
saya langsung teringat kata bijak lama; seribu teman terasa kurang satu musuh terasa lebih
April 6, 2011 at 08:20
sipph….mari kt singkrkan perbedaan yg ada…karena dihadapan Tuhan kt sama
April 6, 2011 at 15:40
kontemplasi, mengambil jeda, paruh waktu tidak sekedar memikirkan, mengenang, tapi juga untuk menambah kekuatan baru. selamat berkontemplasi.
April 7, 2011 at 05:56
ngakak liat foto yang kedua
“itu mas noer ngapain?”
wkwkwk
April 12, 2011 at 10:09
kapan bisa reuni sebanyak itu & main futsal lagi ya??
April 13, 2011 at 06:51
hhhmmm…
iya yah… jadi kangen heheee….
semoga dapet waktu yang pas….
*bandung-jakarta kan deket… bisa lah klo nti ada agenda maen futsal bareng di akhir pekan hihii..
April 13, 2011 at 05:44
di foto yg bawah ada ulet bulu besar ya kk
(just kid)
asiik ya bsa ngumpul2 lgi
#################################
Mohon dukungannya atas event blog yang sedang saya ikuti..
Mohon dibantu dengan mengklik “recomend facebook” dan mengcomment artikel saya
Thanks ya semua
mari kita menjadi pengguna IT yang sadar akan lingkugan
“green computing to save our earth”
>>> http://www.greand.co.cc <<<<
#################################
April 13, 2011 at 09:01
ya, sangat benar sekali… saya merasakan perasaan yang berkecamuk dalam hati waktu dulu. Saat masih muda dan bergaul menjalin pertemanan dengan orang sebaya,==> “Tidak, tidak… satu pendekatan dan sifat egois tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kita butuh saling pengertian, saling memahami, dan belajar untuk saling menyelami perasaan teman kita. Satu lagi, kita harus punya alasan kuat kenapa pertemanan itu harus dilanjutkan.”<==
April 13, 2011 at 09:52
teman adalah orang yang tahu semua tentangmu dan masih mau berteman denganmu…
April 13, 2011 at 10:27
musuh mudah dicari, pertemanan sejati selalu mau saling berbagi
April 13, 2011 at 10:57
saya selalu tersentuh dengan kisah Rasulullah yang diceritakan di atas.
sebuah teladan yang luar biasa di penghujung kehidupan beliau
April 13, 2011 at 12:34
yup setu dengan kang ipul
n juga kita hrus menteladani sikap rasulullah tsb dlam khidupan kita sehari-hari.
April 13, 2011 at 13:45
Wah pasti seru banget tuh
April 13, 2011 at 13:48
Kak.. Kontemplasi tuh apaaan yah? @.@
tuing..tuing..baca tp ga ngerti nih..
April 14, 2011 at 12:46
hehhee… kontemplasi itu merenung, berpikir mendalam ttg sesuatu… gitu jeng fi
April 13, 2011 at 15:11
kayak lagu ya mas? persahabatan bagai kepompong
April 13, 2011 at 16:41
persahabatan bagai kemompong(kata lagu, hehe
)
April 13, 2011 at 18:19
mari kita mencari sahabat yang masih tersebar…salam kenal
April 13, 2011 at 19:22
Sekarang susah mencari pertemanan yang abadi karena semua sibuk dengan urusan diri sendiri dan keluarga
Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
April 13, 2011 at 19:23
teman sm sahabat beda gak mas.. saya juga punya banyak teman tapi yang benar2 dekat dan mengerti saya hanyalah sedikit
April 13, 2011 at 21:28
paling inget masa2 SMA, paling trenyuh…
April 13, 2011 at 23:57
sayangnya… saya selalu di posisi yang dimanfaatkan oleh sahabat2 sy… saya sih nganggap mereka sebagai sahabat… tapi ternyata mereka hanya butuh materi saya…(curcol) apaboleh buat… keinginan kadang tidak sesuai dengan kenyataan… kalo kata bondan “yasudahlah…”
April 14, 2011 at 05:51
kontemplasi yang indah
selalu berusaha menjadi sahabat yang baik.. saling pengertian dan toleransi penting sekali..
April 15, 2011 at 21:54
aloo aciid mampir lagi
April 16, 2011 at 00:36
subhanallah, demikian mulianya akhlak Rasulullah. semoga kita semua bisa meneladani akhlak beliau.
April 17, 2011 at 10:26
Selamat pagi mas Dhedhi, Eyangkung kembali menyapa,
Saya memang lama menunggu ijinmu atas komen saya yll di Menulislah, Menulislah.
Salam blogger
April 18, 2011 at 04:37
Assalaamu’alaikum wr.wb, Dhedhi…
Apabila teman bertemu teman, maka kegembiraan akan timbul. Saya pernah membaca sebuah kalimat mutiara kata bahawa seseorang dapat dinilai dengan hanya melihat teman2nya.
Kisah Rasulullah saw dengan sahabat di atas, sangat mengkagum dan mengharukan. Satu peluang yang baik untuk dapat mendakap tubuh insan mulia tanpa sebarang halangan. Kebijakan dari sebuah kisah sahabat yang tentunya menjadi teladan buat kita semua dalam menghindari permusuhan dan saling bermaafan.
Salam persahabatan dari Sarikei, Sarawak.
April 20, 2011 at 23:31
aku temanmu juga kan om………….ok
salam hangat dari blue
April 24, 2011 at 21:33
Teman temanku sekarang di Mana ya….
May 19, 2011 at 11:21
kunjungan di siang hari
maaf baru bisa berkunjung ke mari
May 20, 2011 at 16:38
Wah jadi ajang introspeksi juga untuk mulai berkawan kembali
June 1, 2011 at 12:00
like this gan. benar sekali bahwa kita harus memiliki hati yang lapang untuk memahami, mengelola, dan menerima perbedaan
June 8, 2011 at 10:54
HEHE…numpang cenat cenut..ting..ting..
September 4, 2011 at 08:26
bagus2 sharingnya.