“Wah, enak dong, dapet paketan!” begitu gurau teman sekosan dulu ketika obrolan kami nyerempet tentang janda. Entahlah, seingat saya, tidak pernah kami menyengajakan diri untuk ngobrol tentang janda. Obrolan itu tiba-tiba saja muncul, termasuk ketika akan menghadapi sidang skripsi. Supaya pembaca tidak terlalu jauh menerka-nerka ujung obrolan kami, maka saya beritahu saja, obrolan kami selalu berhenti sampai keberuntungan soal buy one, get one free. That’s all!

Berbulan-bulan setelah obrolan yang lucu-lucu kurang ajar itu, rupayanya saya masih belum melupakannya. Menurut saya ini topik yang terlalu sayang untuk dianggap sekadar obrolan iseng. Maka saya mulai menantang pikiran saya sendiri: kalau saya menikahi janda, apa yang akan terjadi dengan hidup saya?

 

Sayekti Pribadingtyas dalam bukunya The Power of Janda membagi janda menjadi dua kategori, yaitu janda “alim” dan “nakal”. Gampangnya, janda alim merupakan janda yang tetap menjaga kualitas dirinya. Mereka bisa membedakan mana laki-laki yang serius dan yang tidak. Dan kalaupun mereka memutuskan menikah lagi, mereka punya standar yang jelas bagi calon suaminya. Dengan standar tersebut, tidak semua laki-laki punya nyali mendekati janda jenis ini.

Sedangkan janda nakal, konon lebih disukai semua jenis laki-laki dalam “urusan ranjang”. Janda jenis ini tampak seksi, sehingga terlihat lebih menyenangkan, juga membosankan. Mereka didekati, dipuja, sekaligus untuk diremehkan. Bagaimanapun, daya pikat yang hanya bertumpu pada urusan seks tidak dapat dijadikan pondasi untuk hubungan jangka panjang, kan?

Fortunately (atau unfortunately? :p) saya tidak mengenal janda jenis terakhir itu. Janda-janda yang saya kenal, atau minimal saya tahu, adalah mereka yang secara cerdas menjalani hidup sebagai janda. Ada pegawai BUMD yang membesarkan anaknya seorang diri misalnya. Ia memilih bercerai karena tertipu dengan keyakinan yang dianut oleh mantan suaminya. Setelah mengalami jatuh bangun, sekarang dia cukup sukses.

Suatu kali saya bertanya padanya, “Dengan segala materi yang kamu dapat melalui kerja keras, apa sebenarnya yang ingin kamu tunjukkan?” Dia diam sejenak, menarik nafas, dan dengan yakin ia menjawab: Saya bekerja untuk anak saya. Dia tidak punya bapak, namun setidaknya dia tidak kekurangan dari segi materi. Kamu pikir saya cari duit dan beli mobil untuk gaya-gayaan? Salah besar, saya hanya tidak ingin anak saya kehujanan.

(Saya merenungi dalam-dalam kalimat itu, kawan-kawan… The power of mother, eh? Dahsyat!)

Ada juga seorang guru SD yang memilih menjadi janda karena suaminya selingkuh. Single fighter, ia berjuang menyekolahkan anak-anaknya sampai jadi sarjana. Padahal kita tahu, profesi guru SD itu dilematis: mereka mendidik anak orang di sekolah, tapi sebenarnya mereka kesulitan untuk membayar uang sekolah anak-anaknya sampai tingkat sarjana, apalagi di universitas yang bagus.

 

Mungkin dua janda di atas merupakan pembuktian dari ungkapan, “Kalau anak ditinggal bapak, maka jangan khawatir, ada ibu yang mengurusnya. Tapi kalau anak ditinggal ibu, jangan terlalu berharap ada bapak yang mengurusnya.” Well, kembali ke pertanyaan awal: kalau saya menikahi janda, apa yang akan terjadi dengan hidup saya?

Saya pikir tidak apa-apa. Peluang saya hidup bahagia masih sama besar dibandingkan dengan bila saya menikahi seorang gadis. Sama seperti ketika memutuskan menikahi seorang gadis, yang perlu dilakukan ketika memutuskan untuk menikahi janda adalah menjamin bahwa dia adalah orang yang baik dan cocok untuk mendampingi kita.

Janda atau gadis, saya rasa tidak masalah. Dalam beberapa contoh, Allah bahkan menakdirkan sosok janda untuk mendampingi orang-orang besar. Soekarno misalnya, ia ditakdirkan meretas jalan revolusi bersama seorang janda bernama Inggit Garnasih. Dan untuk Muhammad shallallahu Alaihi wa sallam, Allah memilihkan sosok janda bernama Khadijah untuk menemani perjalanan dakwahnya. Pastilah ada alasan sangat kuat mengapa tokoh-tokoh itu ditakdirkan memiliki fase hidup bersama janda.

Akhirnya, menikahi janda? Siapa takut! Begitulah menurut saya. Bagaimana menurut Anda? :)