Ada masa di mana kita hanya berdiam di sudut gelanggang. Menonton orang-orang yang sedang berjuang. Kita merasa lelah sebelum melakukan apa-apa, kecuali kesibukan yang tidak memiliki banyak arti. Atau kita sudah merasa kalah, bahkan sebelum menyaksikan debu-debu gelanggang beterbangan. Pahitnya, kita kalah oleh ketakutan dan nafsu diri sendiri. Sedihnya, kita tak punya pembelaan kecuali kalimat klise yang juga tak jelas apa maknanya: Saya tahu ini salah, tapi mau gimana lagi….

Produktivitas menurun. Disiplin memudar. Waktu menguap sia-sia entah bagaimana caranya. Matahari baru saja muncul, lalu naik sepenggala, sampai di puncak ubun-ubun, segera tergelincir dilipat malam. Duh, Gusti, hari-hari seperti berlari tak terkendali! Bagaimana ini?

Jangan panik. Hal yang harus dilakukan adalah berhenti sejenak, berpikir, merenung, secepat-cepatnya membangun kesadaran, lalu menata ulang hati dan hidup kita. Tapi kita semua tahu, menulis dan membaca ini semua tidaklah segampang melakukannya, kan?

Mungkin karena itulah kita mesti banyak belajar dari kisah orang-orang yang sukses merevisi hidup mereka. Sebutlah misalnya Hee Ah Lee. Terlahir dengan kaki sebatas lutut dan jari tangan “hanya” berjumlah empat, pada akhirnya ia mampu menjadi pianist kelas dunia berjuluk “Four Fingers Pianist”. Bagaimana kerasnya ia berlatih? 10 jam dalam sehari selama lima tahun untuk satu lagu!

Atau belajarlah dari Ushairam yang tidak menyia-nyiakan peluang untuk merevisi hidupnya. Ushairam yang selama ini dikenal sebagai prajurit Quraisy, belum pernah terlihat mendirikan salat, namun tubuh berlumur darahnya ada di barisan kaum Muslimin. Bagaimana bisa? Rupanya sesaat sebelum pecah perang di bukit Uhud, hidayah menyapa dan ia menyambutnya. Ia pun membela kaum Muslimin dan gugur dengan predikat “penghuni surga yang belum pernah salat”.

 

Dari Hee Ah Lee dan Ushairam minimal kita belajar dua hal: secepat-cepat memaksimalkan peluang dan segiat-giatnya berusaha. Semua memang tidak mudah. Harus ada kesadaran dan tekad yang menyertai. Karena memang sulit meningkatkan potensi diri ketika sedang tidak ingin memperbaiki diri. Kita tidak ingin bukan karena tidak bisa, tapi mungkin karena tidak sadar bahwa kita mampu melakukannya. Mungkin juga karena kita sudah terlampau jauh jatuh, hingga enggan dan malu untuk bangkit. Tapi percayalah, perasaan enggan dan malu itu hanyalah godaan yang menarik-narik agar kita terjatuh lebih dalam lagi. Tinggal pilih, mau jatuh lebih jauh atau segera bangkit dengan cita-cita setinggi langit.

Makanya kita harus segera tersadar. Sesadar Hee Ah Lee dan Ushairam melakukan penolakan pada keterpurukan. Sampai akhirnya kita mengubah kalimat pembelaan kita: Saya tahu ini salah, maka itu akan saya perbaiki, secepat-cepatnya, segiat-giatnya.

Salam semangat, sahabat!

Advertisement