Pernah saya membaca edisi khusus sewindu majalah Tarbawi, ”Perempuan-perempuan: Mozaik Cinta, Ketulusan, dan Pengorbanan”. Judul yang pas, saya rasa. Karena dalam arti yang utuh dan luas, setiap bicara tentang perempuan, sulit sekali kita memisahkannya dari cinta, ketulusan, dan pengorbanan.

Maka di majalah yang terbit tahun 2007 itu ditemui contoh-contoh perjuangan para perempuan. Mereka perempuan biasa, dengan pembawaan yang sederhana, tapi dengan kontribusi luar biasa. Ambil contoh Mulia Kuruseng dan Wirianingsih yang mendidik belasan anaknya dengan cinta dan kasih sayang, hingga mengantarkan anaknya pada kesuksesan. Bayangkan, bukan cuma satu dua, yang mungkin saya sendiri kesulitan untuk mengurusnya, tapi belasan, dan berhasil!

Dan ingatlah orang-orang sukses yang menginspirasi kita. Setelah kekaguman yang meluap-luap, biasanya bergejolak sebuah tanya: bagaimana mereka bisa sesukses itu? Lalu sadarlah kita bahwa jauh sebelum mereka menjadi ”orang besar”, terlebih dahulu mereka merasakan pendidikan dan kasih sayang ibu. Kalaupun tidak sempat dididik oleh seorang ibu, karena kondisi yang menyebabkan perpisahan, misalnya kematian, toh orang-orang besar itu tetap merasakan jasa seorang ibu; mereka mengecap kasih sayang saat di dalam kandungan, sampai kemudian dilahirkan dari rahim seorang ibu.

Dari sejarah Islam kita juga menyimak banyak kisah perjuangan perempuan. Sebutlah nama Khansa’, ummul mujahidin, penyumbang empat syuhada di perang Qadisia. Asma’ binti Abu Bakar, wanita pemilik dua sabuk, yang memiliki peran besar dalam hijrah Rasulullah. Juga para ummul mukminin yang mendampingi Rasulullah saat mengemban misi kenabian. Dan banyak lagi ibunda atau istri para pejuang Islam lainnya.

Begitulah perempuan-perempuan menjemput takdir sebagai seorang yang mulia. Ia penuhi kodrat hidup yang telah dititipkan Allah kepadanya. Tidak ada halangan untuk berkontribusi dengan tetap mempertahankan sifat manusiawinya. Lemah lembut, tapi kuat. Halus, tapi berpengaruh. Manja, tapi mandiri. Unik, memang.

Tapi perempuan tidak hanya satu jenisnya. Dari sekian banyak jenis, bisalah kita memutuskan kepada yang mana kita mengalamatkan kerinduan. Mengingat kata buya Hamka, perempuan itu per-empu-an, tempat bersandar. Maka dari kedalaman hati yang paling dasar, kita menitipkan harapan besar kepada para perempuan yang mulia. Perempuan yang jujur, ikhlas, dan sabar bersama kita menumbuhkan generasi yang baik dan mencintai kebaikan. Dan karena harapan yang serupa itulah, pagi ini saya sampaikan pada istri, ”jika bukan kepadamu, pada siapa lagi kutitipkan jejak-jejak masa depan.”

 Wallahu’alam.

Dedi Setiawan

Serpong, 5 Oktober 2011

Advertisement