Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

Perihal Novel yang Tak Pernah Selesai

 

 

Kebaikan merambat tanpa mengenal batas. Bagai garpu tala yang beresonansi, kebaikan menyebar dengan cepat.”

 

 

Setelah sukses dengan dengan novel Hafalan Shalat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, Bidadari-Bidadari Surga, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Pukat, dan Burlian, tahun 2010 ini Tere Liye menyapa para pembacanya dengan karya terbarunya. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, begitulah judulnya. Sebuah judul yang cukup panjang dan filosofis.

 

Novel ini mengisahkan kehidupan keluarga miskin yang terdiri dari ibu dan dua orang anak yang masih kecil; Tania berumur 11 tahun dan adik laki-lakinya berumur enam tahun. Mereka tinggal di rumah kardus dengan lingkungan yang tidak terurus. Guna membantu sang ibu yang sakit-sakitan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, kedua kakak-beradik itu harus mengais rejeki dari bis ke bis. Mereka mengamen, si kakak bernyanyi dan si adik memainkan “alat musik” dari tutup botol yang dirangkai.

 

Sampai suatu ketika nasib baik menghampiri. Mereka bertemu Danar, “malaikat penolong” yang dikirim Tuhan untuk keluarga mereka. Perlahan namun pasti, kehidupan keluarga miskin itu menjadi lebih baik. Sang ibu menjadi lebih sehat dan bugar. Kakak-beradik itu pun bisa melanjutkan sekolahnya. Dan mereka tak lagi tinggal di rumah kardus.

 

Namun langit tak selamanya cerah, tapi juga tak selamanya mendung. Dalam keadaan ekonomi yang makin membaik itulah sang ibu meninggal dunia akibat sakit yang menahun. Tania dan adiknya lalu diasuh oleh Danar. Dan dalam keadaan pedih yang teramat sangat itulah Tania mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke Singapura. Ia pun bersekolah di Singapura.

 

Kisah dalam novel ini kemudian didominasi oleh keberhasilan demi keberhasilan yang diraih Tania saat bersekolah di Singapura. Ia menjalani pendidikannya dengan lancar. Lulus dari SMP dengan nilai memuaskan, Tania kembali mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah setingkat SMA di Singapura.

 

Tapi cerita belum selesai sampai di sini. Ada masalah lain yang muncul. Ini tentang cinta. Novel ini sekaligus menunjukkan uniknya tema cinta: meski sudah sering dibahas, tapi pembaca tidak bosan, karena cinta seringkali datang dengan redaksi yang berbeda. Meski sudah ada Layla Majnun, Romiet dan Juliet, Ayat-Ayat Cinta, dan banyak lagi novel lainnya, tapi tetap ada ruang untuk Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin.

 

Begitulah yang dialami Tania. Bertahun-tahun ia merasa senang berada di dekat Danar. Ia selalu menunggu kedatangan lelaki berwajah menyenangkan itu. Dan merasa tak senang ketika ada perempuan lain di samping lelaki yang jago mendongeng itu. Tapi saat itu Tania belum mengerti tentang apa yang dirasa olehnya.

 

Ketika Tania tumbuh menjadi remaja yang tangguh, ia semakin berdebar ketika bertemu Danar. Mengertilah ia bahwa itu yang dinamakan cinta. Seperti umumnya remaja, ia menjalaninya dengan alamiah. Ia membiarkan perasaannya mengalir begitu saja. Ia menjalaninya tanpa banyak pertanyaan.

 

Tania tumbuh menjadi gadis dewasa, cantik, dan pintar. Danar semakin hari semakin matang, tenang, dan memiliki berjuta pesona. Kuncup hati Tania yang selalu disiram kebaikan Danar akhirnya benar-benar mekar sempurna jadi bunga cinta.

 

Tapi di sinilah tragedinya. Secara psikologis, Tania masih terbebani dengan latar belakang hidupnya. Berjuta tanya dan prasangka muncul di benaknya. Pantaskah ia mencintai “malaikat penolong” keluarganya? Jangan-jangan Danar nanti malah menganggapnya sebagai adik yang tak tahu diri.

 

Di tengah kegalauan seperti itulah, ia mendapat kabar bahwa Danar akan menikah dengan gadis pilihannya. Seketika bunga cinta Tania yang mekar itu menjadi layu. Danar akhirnya menikah dengan gadis pilihanya. Kejadian ini mengubah banyak sifat dan sikap Tania.

 

Ketika akhirnya, melalui novel berjudul Cinta dari Pohon Linden yang ditulis Danar, terungkap bahwa laki-laki itu sebenarnya juga mencintai Tania, semuanya telah terlambat. Hati Tania terlanjur hancur. Keluarga Danar terlanjur membeku tanpa kehangatan. Mereka saling mencintai, tapi terhalang oleh pikiran yang rumit. Dan akhirnya, Cinta dari Pohon Linden menjadi novel yang tak pernah selesai untuk ditulis.

 

 

Mengamati “Daun yang Jatuh”

 

Menurut Ahmadun Yosi Herfanda, yang dikutip oleh Gola Gong dalam bukunya Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup, plot adalah rangkaian sebab-akibat yang memicu krisis dan menggerakkan cerita menuju klimaks. Plot dalam novel ini dapat diumpakan seperti daun yang jatuh. Ada kesan apik sekaligus tragis ketika mengamati daun yang jatuh karena tertiup angin. Daun itu selanjutnya akan melayang-layang di udara selama beberapa saat. Dan akhirnya mencapai klimaks ketika menyentuh tanah.

 

Begitulah perumpamaan novel ini. Dari awal Tere Liye dengan apik menyuguhkan cerita yang meninggalkan kesan tragis. Dengan menggunakan diksi “hujan”, suasana hati pembaca dikondisikan untuk menerima kisah selanjutnya.  Ditambah lagi penggambaran tentang hujan yang menimbulkan efek dingin, yang selanjutnya “membekukan seluruh perasaan. Mengkristalkan semua keinginan.” Kemudian dilanjutkan dengan kalimat “Malam ini, semua cerita harus usai.” Pembaca dibuat penasaran sekaligus yakin bahwa novel ini menyimpan permasalahan “besar” yang memang belum selesai.

 

Selanjutnya novel ini menggunakan alur cerita mundur (flashback) untuk menceritakan latar belakang konflik. Dimulai dari pertemuan dua pengamen cilik dengan seorang muda yang memiliki berjuta pesona, sampai dengan kisah dalam novel Cinta dari Pohon Linden. Lalu cerita berpindah lagi ke masa sekarang, saat Tania ingin menyelesaikan konflik yang dialaminya. Cerita dalam novel ini dengan lincah berpindah dari masa kini ke masa lalu. Dengan anggun penulisnya menggabungkan alur maju (progresif) dan mundur (flashback).

 

Tapi novel ini bukan tanpa kekurangan. Terdapat sebuah kesalahan saat menarasikan perhitungan waktu pernikahan Danar, “Jam lima subuh laptopku berkedip. Lima jam sebelum pernikahan dilangsungkan.” Harusnya “Empat jam sebelum pernikahan dilangsungkan”, karena pada dua halaman sebelumnya diketahui bahwa Danar menikah tepat pukul 09.00.

 

Di novel ini juga tercatat minimal dua kali kesalahan dalam penulisan nama tokoh. Dan terdapat banyak sekali penjelasan tambahan, kalau tidak mau disebut “komentar pengarang”, yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Misalnya pada saat Dede mengklaim dapat menyelesaikan lego yang rumit hanya dalam hitungan detik, selanjutnya –dengan menggunakan tanda kurung, ditulis penjelasan seperti ini: (bohong sih!). Contoh lain, ketika penjaga toko memuji kecantikan Tania, dijelaskan oleh pengarang bahwa penjaga toko itu memang tidak membandingkan Tania dengan siapa-siapa. Terkesan ada kekhawatiran pada tingkat intelektualitas pembaca sehingga pengarang merasa perlu memberi penjelasan tambahan pada deskripsi dan dialog dalam novel ini.

 

Dilihat dari pesan moral, novel ini layak mendapat acungan jempol. Perjuangan Tania, mantan pengamen jalanan, yang kemudian sukses menyelesaikan studinya di luar negeri, bisa memberi motivasi kepada para pembaca. Melalui tokoh-tokohnya, novel ini menggambarkan pentingnya berkata jujur dan menepati janji.

 

Novel ini dengan cerdas memberi pengertian kepada anak kecil tentang topik kematian. Selain itu, novel ini juga mendorong untuk tegar menjalani kehidupan. Bahkan kepahitan hidup sebenarnya tetap dapat direfleksikan melalui raut wajah yang menyenangkan. Dengan ungkapan yang menarik dan filosofis, novel ini menginspirasi pembaca untuk melakukan kebaikan, seperti lead pada tulisan ini misalnya. Ya, novel ini memang layak diapresiasi.

About these ads

2 thoughts on “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin

  1. dan aku terlambat mengetahuinya, ketika smua telah berlalu…

    knapa aku melewatkan novel ini? sejak 2010 ya publishnya?
    **hadeeeu,tepok jidat

    boleh pinjem :mrgreen:

    danke u

    ~w~

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s