Melatih Keberanian

Bisa jadi kamu punya ide bagus. Tapi tanpa keberanian, ide itu jadi percuma. Jangankan mau mewujudkannya, mengungkapkannya saja kamu takut. Maka melatih keberanian merupakan salah satu syarat penting untuk mewujudkan ide kreatif.

Saya bilang melatih. Karena saya percaya bahwa setiap orang sebenarnya punya keberanian. Hanya saja, ada yang terlatih untuk menggunakannya, ada yang tidak.

Konon sebuah surat kabar nasional punya cara unik untuk mengasah keberanian jurnalis foto juniornya. Redaktur surat kabar itu membekali jurnalisnya dengan kamera pocket warna pink. Dan jurnalis tersebut diminta mengambil gambar di tengah keramaian pasar.

Bayangkan, warna pink, warna yang menggoda orang-orang untuk melirik. Ketika tombol shutter akan ditekan, satu dua orang langsung melihat ke arah jurnalis tersebut. Mungkin sang jurnalis junior berpikir mengambil gambar pada kesempatan yang lain. Tapi yang terjadi kemudian, setiap kali ia ingin mengabadikan moment, satu dua orang kembali menoleh ke arahnya. Menantang, bukan?

Awal mula saya latihan public speaking, saya diharuskan berbicara di depan penumpang bis. Seperti pengamen saja. Bedanya saya bukan bernyanyi, melainkan berbicara. Ada yang antusias mendengarkan, ada yang tidak. Namanya juga pertama kali, kikuk bukan main saat itu. Tapi setelahnya, rasanya lega bukan main!

Saat masih berstatus mahasiswa saya sering nonton di bioskop sendirian. Bagi saya ini latihan mental. Saya harus melawan stigma orang bahwa yang nonton sendirian itu tidak punya teman, tidak gaul, dan sebagainya. Peduli amat? Toh di dalam bioskop tidak ada yang memperhatikan saya datang sendirian atau rombongan. Kenyataannya, saya banyak teman , saya mengikuti perkembangan jaman, dan ehem, meski tidak ganteng-ganteng amat, saya juga tidak jelek-jelek amat hehe.

Ide saya untuk melatih keberanian terus berlanjut sampai saat ini. Seringkali di keramaian saya bicara ngasal ke istri. Lalu orang-orang memandang dengan wajah heran. Kalau sudah begitu, biasanya wajah istri saya langsung merah, lalu pura-pura tidak kenal. Inilah salah satu kalimat asal-asalan yang saya ucapkan:

hawsialoung ciang oung mang tum hambruuu hambruuu hambruuuu….

Jangan dikira mudah, walau tidak susah juga. Tiga kata terakhir itu dibunyikan dengan menggetarkan bibir, plus nahan ketawa. Emang apa artinya? Tidak ada!

Nah, bagaimana sahabat, sudah dapat ide untuk melatih keberanian? Lakukan!

About these ads

6 thoughts on “Melatih Keberanian

  1. Haha…. istriku juga sering marah, katanya saya malu maluin. Masuk warung, duduk, tanya menu, setelah itu……, “maaf tidak jadi pesan”. Saya senyum, istri melotot dan pedangang bingung sendiri.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s