Motivasi terbesar dalam hidupku : Berjumpa denganNya dalam kondisi terbaik.

Hidup ini penuh dengan cobaan, rintangan, dan godaan. Berdasarkan fitrah tersebut dan memang begitulah realitas di kehidupan nyata, maka untuk menjadi manusia paripurna yang manusiawi, saya menyebutnya dengan sebutan “manusia seutuhnya”, diperlukan sesuatu yang mendorong manusia tersebut agar mau dan mampu bergerak ke arah itu. Ya, Untuk bisa menjadi manusia seutuhnya memang diperlukan motivasi yang tiada henti, dahsyat luar biasa.

Motivasi merupakan sesuatu yang membuat kita melakukan sesuatu. Perbuatan baikkah atau perbuatan burukkah, semuanya itu pasti dilakukan karena ada suatu motivasi tertentu, disadari atau tidak, diakui atau tidak. Dari anak kecil yang sering merengek kepada ibunya sampai dengan para manusia lanjut usia yang sering merajuk kepada anaknya, pasti memiliki motivasi yang menyebabkan mereka berprilaku seperti itu.

Motivasi juga menentukan akan berapa lama kita mampu bertahan untuk melakukan suatu perbuatan. Sekejap atau berabad lamanya suatu aktivitas dilakukan, itu tergantung dengan motivasinya. Lama atau tidaknya seseorang ketika menghadiri suatu pertemuan merupakan contoh paling mudah untuk mencontohkan fenomena ini. Kita mungkin sudah terbiasa dengan istilah “setor muka” di suatu pertemuan. Jika motivasi menghadiri suatu pertemuan adalah hanya “setor muka”, maka tidak perlu heran jika ada orang datang, basa-basi sebentar, sapa sana sapa sini, lalu berpamitan untuk pulang.

Menurut penulis, beberapa hal yang harus melekat pada suatu motivasi agar motivasi itu senantiasa terjaga dan menghasilkan sesuatu yang baik adalah:

1. Motivasi tersebut haruslah bersumber dari sesuatu yang baik

Untuk menghasilkan output yang baik, maka sesuatu yang menjadi input pun harus baik. Memang tidak ada jaminan bahwa sesuatu yang dimulai dengan sesuatu yang baik, akan menghasilkan sesuatu baik pula, paling tidak hal ini akan berlaku jika kita memandang suatu persoalan dengan memakai kecamata manusiawi untung dan rugi. Tapi paling tidak, menurut logika berpikir praktis, hal ini jauh lebih besar persentase kemungkinan terjadinya bila dibandingkan dengan kita mengerjakan sesuatu dengan input yang buruk lalu berharap output yang baik.Bagaimana mungkin teko yang diisi dengan kopi yang hitam akan mengeluarkan susu yang putih bersih. Dalam contoh positif, kita bisa melihat lebah, hewan yang memakan sesuatu yang baik dan menghasilkan sesuatu yang baik. Intinya, inputnya baik harus baik terlebih dahulu, baru kemudian mengharapkan output yang baik.

2. motivasi tersebut haruslah bersumber dari sesuatu yang tidak terbatas oleh waktu

yupz, kalau kita mengharapkan motivasi yang tahan lama alias ga abis-abis sepanjang hidup kita, maka sudah seharusnya sumber motivasi itu adalah sesuatu yang ga’ ada matinye. Loh, emangnya kenapa kita mesti gitu ? ya iya lah, klo ga kayak gitu, maka motivasinya ga akan awet alias ga tahan lama. Misalnya nih ya, kita giat belajar dengan motivasi supaya bisa mengerjakan tes masuk ke perguruan tinggi yang kita idam-idamkan. Nah, begitu kita udah nyelesain tes ujian masuk perguruan tinggi itu, terlepas dari hasilnya diterima atau tidak, maka kita akan segera melupakan apa yang telah kita pelajari. Soalnya kan kita belajar Cuma buat ngerjain tes ujian masuk aja. Dengan kata lain, semangat kita hanya terjaga sampai dengan pengerjaan soal ujian saja.

Contoh lain, misalnya kita rajin ke masjid Cuma untuk diliat oleh tetangga kita yang cantiknya masya Allah. Nah, ini juga bahaya banget. Bayangin aja, masa’ kita rajin solat Cuma untuk diliat oleh makhluk alias carper (cari perhatian). Gimana coba klo ternyata kita tau klo tetangga kita itu sedang pulang kampung selama 1 minggu, so otomatis donk selama 1 minggu itu kita jadi ga semangat buat solat berjamaah di masjid. Itu masih mending klo 1 minggu, gimana klo ternyata tetangga kita itu bukan pulang kampung, tapi ternyata pindah rumah ke tempat lain atau pindah ke alam lain (baca : meninggal dunia). Belom lagi kalau ternyata tetangga kita itu mendadak mendapat kecelakaan fatal dan wajahnya tidak lagi secantik dahulu. Nah loohhh, kan jadi kacau. Ini menunjukkan bahwa umur semangat kita buat solat di masjid ditentukan dengan ada/tidak adanya atau cantik/jeleknya tetangga kita itu. Kasihan, sungguh kasihan!

3. motivasi itu haruslah bersumber dari sesuatu yang tidak terbatas oleh ruang

kebayang ga’ sih kedisiplinan di negara kita bila dibandingkan dengan negara luar, kita ambil contoh Negara Singapura aja ya. Di negara kita, Indonesia, segalanya seolah berjalan semrawut dan tidak teratur. Sementara di Singapura, semuanya seolah berjalan dengan teratur dan terkondisikan. Opz, ini bukan berarti saya tidak cinta terhadapa negeri kita ini ya, ini hanya contoh aja, supaya membuka mata kita. Ok, kembali ke topik ya. Konon katanya, orang-orang Indonesia yang berkunjung ke Singapura adalah orang yang disiplin dalam berlalu lintas, padahal di negaranya (Indonesia) mereka adalah orang dengan tingkat pelanggaran lalu lintas yang tinggi. Loh, kenapa bisa kayak gini ??? iya, soalnya mereka berpikir, klo di negara Indonesia, polisi yang seharusnya menegakkan hukum, ternyata masih bisa dibeli dengan uang 10 ribu (ugh! Begitu murahnya kah harga diri polisi Indonesia ??? ), sementara di Singapura tidak ada tawar menawar dalam hukum. Jadi mereka lebih takut kalau mau melanggar hukum di Singapura.

Nah, sumber motivasi sebaiknya tidak seperti contoh kedisiplinan di atas. Contoh kedisiplinan pada contoh di atas itu masih terpatok oleh ruang, masih terpaku oleh letak geografis.

Ya, minimal ada tiga syarat supaya motivasi bisa tetap terjaga. Bahwa sumber motivasi haruslah dari sesuatu yang baik, serta tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sumber motivasi tidak boleh bersumber dari sesuatu yang buruk jika mengharap sesuatu keluaran yang baik. Sumber motivasi juga harus bisa menjamin kita untuk melakukan sesuatu, terlepas kapan pun waktunya dan dimana pun tempatnya.Kalau saya boleh sharing dengan Anda, maka saya akan mengatakan bahwa sumber motivasi terbesar dalam hidup saya adalah bertemu dengan-Nya dalam keadaan terbaik. Dia adalah Dzat Terbaik, tidak ada yang lebih baik dari-Nya. Lalu ketika saya mengharapkan berjumpa dengan-Nya dalam kondisi terbaik, maka saya akan senantiasa berusaha agar kondisi saya kapan pun dan dimana pun adalah kondisi terbaik yang bisa saya ciptakan. Karena malaikat maut tidak pernah memberi tau kapan akan datang menghampiri dan ketika sudah menghampiri tidak ada sesuatu yang bisa dijadikan sogokan agar dia mengundur tugasnya untuk beberapa waktu. Maka itu, kapan pun dan dimana pun, saya akan berusaha mengkondisikan diri agar berada pada kondisi terbaik. Dan itu akan berlangsung selamanya. Tidak terbatas oleh tempat, juga tidak terbatas oleh waktu. Semoga saya menetapi jalan ini. Amin Ya Robb.

5 thoughts on “Motivasi terbesar dalam hidupku : Berjumpa denganNya dalam kondisi terbaik.

  1. yupz…sama2… ^_^
    semoga blog ini benar2 bisa dimaksimalkan untuk perbaikan kita bersama. menghasilkan suatu kebaikan yang berguna untuk kebaikan lainnya, dan begitu seterusnya ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s