Nikmat itu bernama sehat

 

RSUAM, 22 Februari 2007, 09.45 WIB

 

Matahari masih sepenggala ketika dokter rumah sakit mengizinkan saya untuk bisa pulang ke rumah. Enam hari sudah, terhitung sejak hari sabtu, saya menjadi penghuni rumah sakit ini. Dengan tangan kiri dihiasi infuse, rasanya lengkap sudah keterkungkungan ini.

 

Sebuah gigitan nyamuk Aedes Aygepty rupanya sudah sangat cukup untuk meluluhlantakkan semua system kekebalalan tubuh ini. Ya, kembali ke titik nista diri ini, bahwa sesungguhnya diri ini adalah manusia lemah tanpa daya upaya. Tak kuasa, bahkan hanya untuk, menahan sakit yang ditimbulkan oleh seekor nyamuk kecil. Tidak didahului oleh demam-demam ringan, yang biasanya menyertai “penyakit populer” masyarakat, penyakit ini langsung saja nyelonong masuk hingga lemas adalah rasa yang tersisa. Bahkan hanya untuk mengangkat kepala di depan dokter pun sudah tak kuasa lagi.

 

Sempat miris juga hati ini, bayangkan saja, dalam waktu yang cukup singkat diri ini dibuat tidak berdaya. Organ pencernaan pun turut mengamini. Semua makanan yang masuk ditolak. Sehingga, sekali lagi, hanya lemas yang tersisisa. Mata ini boleh berkaca-kaca ketika mengingat kelemahan diri ketika beribadah, tidak bisa dengan sikap terbaiknya. Dunia terasa bergoyang ketika melakukan ritual-ritual religi. Ya,sekali lagi, ternyata manusia adalah makhluk lemah, yang diberikan sedikit kekuatan, lalu terkadang lupa diri hingga akhirnya sombong.

 

Bersyukur diberi sakit, mungkin dengan ini saya bisa menghargai makna kesehatan, walaupun seharusnya tidak harus dengan sakit. Ini semua telah terjadi, tinggal hikmahnya yang harus bisa dipetik. Bagaimanapun, ini adalah pengalaman mahal dan berharga. Mahal karena harus mengorbankan segala aktifitas yang seharusnya saya kerjakan sewaktu sakit, berharga karena memang dengan sakit ini pikiran saya lebih terbuka, hati saya lebih segar, dan saya akan berhati-hati untuk melangkah di hari esok.

Paling tidak ada —- hal yang dapat dipetik :

ð bahwasanya manusia ini adalah makhluk lemah yang diberi sedikit kekuatan untuk menjalani hidup

 

ð dengan sakit, sesungguhnya terkandung pesan bahwa manusia tidak boleh sombong. Buktinya, hanya dengan perantara makhluk Allah yang kecil saja, itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk membuat manusia tidak berdaya.

ð Jaga kondisi badan waktu masih sehat. Ingat lima perkara sebelum lima perkara, salah satunya sehat sebelum sakit.

ð Jangan menunda amal yang akan dilakukan ketika kita masih sehat, bisa jadi setelah kita sakit, maka amal itu tidak bisa kita lakukan lagi.

Apakah kalian masih menunggu kekayaan yang menjadikan sombong, atau kefakiran yang melalaikan, atau penyakit yang merusak, atau ketuaan yang menjadikan pikun, atau kematian yang membunuh, atau Dajjal yang membuat yang ditunggu-tunggu, atau saat kiamat tiba. Maka sesungguhnya kiamat itu sangat berbahaya.

ð jangan pernah kehilangan alasan untuk bersyukur. Bahkan dalam sakit pun terdapat banyak nikmat yang bisa dipetik hikmahnya dan dijadikan pelajaran. “Maka nikmat Tuhan mu yang mana lagi yang engkau dustakan ?”

ð cintai keluarga dan teman, karena akan sulit bagi kita untuk berbagi kepada orang-orang yang kita cintai ketika kita sakit.

 

 

+++++++++++++++ salam sehat +++++++++++++++++++++

 

tulisan ini pertama kali dipublish pada 14 maret 2007 di http://dhedhi.blogs.friendster.com/dhedhi/2007/03/nikmat_itu_bern_1.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s