Sahur Formalitas

 

 

Bulan Ramadhan tlah beberapa waktu berjalan. Tepatnya, 8 hari sudah umat islam menjalankan ibadah puasnya. Tentu saja, selama 8 hari ini, ada orang-orang yang merasa bahwa waktu berjalan sangat cepat sehingga sepertinya tidak sempat melakukan semua urusan, dan ada juga orang yang merasa bahwa waktu berjalan sangat lambat seperti jalannya ulat, atau bahkan seperti diam ditempatnya seonggok mayat. Ntah lah, masing-masing orang punya rasa dan masing-masing rasa punya nilai tersendiri.

Teringat suara bijak sang ayah, dua hari lalu, dari seberang Pulau Sumatera ketika terjadi percakapan mesra via telepon. Saat itu, sehabis makan sahur, saya sengaja menyempatkan diri mencari nomor kontak dengan dengan inisial “M”. Yupz, nama yang saya cari akhirnya terlihat, “MOM – My Lovest Woman”.

Menunggu beberapa saat sampai terdengar nada panggil. Akhirnya terdengar suara sahutan dari seberang sana. Percakapan pun mengalir. Bercengkrama dengan ibu, ayah, dan adik tercinta dengan maksimalisasi fungsi telepon. Saling tegur sapa, menanyakan kabar dan saling mendoakan adalah sesuatu yang hampir pasti terjadi ketika percakapan dengan keluarga terjadi via telepon.

Ramadhan tentu memiliki ciri khas tersendiri. Ada list pertanyaan tambahan dari sang ayah ketika berdialog, yaitu : “udah makan sahur nak ?”. Kalau orang lain yang ditanya tentang itu, mungkin itu adalah pertanyaan biasa saja. Tapi ketika itu ditanyakan kepada saya, bisa jadi itu adalah pertanyaan yang mengungkapkan harapan, kecemasan, dan ledekan. Saya hanya tertawa renyah saat pertanyaan itu terdengar. Lelaki penuh wibawa di seberang sana pun turut tertawa. Mungkin kami sama-sama mengenang pengalaman Ramadhan sebelum-sebelumnya, saat saya sulit bangun untuk makan sahur, bahkan setelah pintu kamar digedor-gedor. Ya, pertanyaan itu untuk memastikan bahwa saya sudah makan sahur.

Di akhir cengkrama dengan sang ayah, beliau kembali menekankan akan arti pentingnya sahur. Pada intinya beliau berpesan bahwa sahur itu memegang peranan penting saat berpuasa. Utamanya adalah karena itu sunah Rasul. Efeknya adalah menjaga kesehatan dan kesegaran tubuh sehingga walaupun tidak makan dan minum pada siang hari, tetap bisa menjalankan aktifitas sebagaimana mestinya.

Saat ini, saya pun teringat percakapan dengan 2 orang teman saya, kemarin. Saat itu sedang makan malam selepas solat magrib. Setelah tegur sapa dan sebagainya, topic percakapan kami kemudian adalah membahas sahur.

Salah seorang teman mengatakan bahwa sebenarnya dia merasa malas untuk makan sahur. Seorang teman yang lainnya juga mengamini itu. Kemudian saya coba mengingatkan bahwa sahur itu sunah. Lalu dengan santainya, salah seorang teman saya itu berkata, “iya sih, saya juga sering bangun sebentar pas sahur, udah itu minum segelas air. Yaaaah, itung-itung ngambil sunahnya. Dah itu tidur lagi”

Hahaha, saya hanya bisa tertawa renyah, lalu memasukkan suap terakhir nasi saya. Saya hanya tertawa, ternyata bagi sebaian orang, sahur hanya dianggap sebagai formalitas belaka. Kalau sahurnya sekedar formalitas, apakah puasanya juga sekedar formalitas belaka . . .? jawabannya terserah pada Anda. ^_^

tulisan dipublish pertama kali pada 20 september 2007 di: http://dhedhi.blogs.friendster.com/dhedhi/2007/09/sahur_formalita.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s