Cinta dari Darah dan Ruh

Tulisan ini saya persembahkan untuk ibunda tercinta, yang hari ini usianya telah menyentuh angka setengah abad kurang satu tahun, selamat ulang tahun ya Ma . . . juga untuk semua anak manusia, yang terlahir dari rahim seorang ibu. Aslinya tulisan ini adalah surat untuk bunda tercinta, tapi karena tulisan ini akan dipublish, maka hal2 manja sengaja disensor dari tulisan ini hehehehe ^_^

Lelaki itu sudah mengabdi kepada ibunya sampai tuntas. Ia menggendong ibunya yang lumpuh. Memandikan dan mensucikannya dari semua hadastnya. Ikhlas penuh ia melakukannya. Itu balas budi dari seorang anak yang menyadari bahwa perintah berbuat baik kepada kedua orang tua diturunkan Allah persis setelah perintah tauhid.

Tapi entah karena dorongan apa ia kemudian bertanya kepada Umar bin Khattab, “apa pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?” Lalu Umar pun menjawab, “Tidak! Tidak cukup! karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya, sementara ibumu merawatmu sembari mengharap kehidupanmu.”

satu lagi kisah nih Ma …. Seorang lelaki sedang thawaf dengan menggendong ibunya, maka lelaki itu bertanya kepada Rasulullah, “apakah dengan ini saya telah melaksanakan kewajiban saya kepadanya?”Rasul menjawab “Tidak! Tidak sebanding dengan satu kali hentakan (saat melahirkan)

============================================================================================

Haduh, bercucuran air mata Penulis waktu ngebaca kisah di atas. Mereka yang jasanya begitu besar aja gak bisa ngebales jasa ibunya, apalagi saya. Begitu besarnya jasa Ibu. satu kali hentakan saat melahirkan, untuk membalasnya pun penulis (dan semua anak di dunia) gak mampu dan gak akan pernah mampu.

Gak ada budi yang bisa ngebales cinta ibu dengan impas seimpas-impasnya, apalagi mau melebihinya. Tak kan pernah! Sebab cinta ibu mengalir dari darah dan ruh. Memang anak adalah buah cinta dari dua hati. Tapi ia tidak dititipkan dalam dua rahim. Ia dititip dalam rahim seorang ibu selama sembilan bulan : disana sang anak hidup bergeliat dalam sunyi sembari menyedot sari pati kehidupan seorang ibu. Lalu ia keluar diantara cucuran keringat dan darah.

Penulis (dan semua anak cowok di dunia ini) emang gak akan pernah ngelahirin, tapi Penulis tau kepayahan waktu hamil dan melahirkan dari Al-Quran

: “Dan kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah …” (QS Luqman : 14)

dan ini juga . . .

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula) . . .” (QS Al-Ahqaaf : 15 )

wah,,, emang gak salah klo Allah menjanjikan bahwa matinya seorang ibu di saat melahirkan, itu adalah mati syahid. ^_^

Untuk semua ibu (ayah juga) dan calon ibu (ayah juga) kalau nanti sudah mempunyai anak, Penulis cuma mau ngasih semangat, jangan pernah menyerah. Terus didik anak-anak yang dititipkan Allah sebagai amanah dan karunia, karena itu investasi kebaikan untuk bekal di dunia dan akhirat. Bentuklah pribadi-pribadi muslim yang unggul, lalu dari tiap pribadi itu akan terbentuk keluarga muslim yang unggul, dan dari keluarga itu akan lahir masyarakat muslim yang unggul, hingga akhirnya nanti ke tingkat dunia muslim. Dari semua perjuangan yang telah mengucurkan keringat dan air mata, jangan pernah mengeluh. Semoga nanti perjuangan ini berbuah senyum bahagia dan manisnya kebahagiaan. Ya, penulis (dan semua anak di dunia) mau Mama “Menjadi wanita Paling Bahagia”, seperti kata DR Aidh al-Qarny

Untuk semua manusia yang terlahir dari rahim seorang ibu, penulis mengajak kita semua untuk aktif saling mendoakan, agar cita-cita membentuk tatanan masyarakat yang mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam dapat segera terwujud. Jangan pernah sungkan untuk meminta doa kepada orang tua kita. Karena ridho Allah itu tergantung ridho orang tua juga. Semoga kehidupan ini berakhir dengan happy ending and full barokah. Ikrarkan janji secara serius, bahwa kita akan berjanji untuk bertemu di syurga. kayak reuni gitu deeeeh.

Terima kasih Ma, terima kasih Pa. kasih sayang, pendidikan, keteladanan dan semuanya yang gak bisa disebutin satu persatu karena saking banyaknya.

Terima kasih ya Allah, untuk orang tua yang Kau anugerahkan untukku. Allahummaghfir lii waliwaalidayya warhamhuma kamaa robbayaanii shoghiiroo… aamiin ya robbal ‘aalamin

5 thoughts on “Cinta dari Darah dan Ruh

  1. Sama, pembaca juga bercucuran air mata nih, padahal aku jg perempuan,ibu, tp ikut terharu….
    Pasti ortu bangga mengetahui ini adalah tulisan anak lanang, satu2nya lagi….Pemahaman agamanya luas, insyaAllah, amienšŸ˜€

  2. Thank’s ya postingannya…
    gwa jadi pingin pulang dan bersujud dikaki kedua orangtua gwa, gwa pingin peluk mereka, gwa pingin bisikan, gwa sayang mereka, gwa cinta mereka. Thank’s…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s