Pemuda,Mendobrak Kebekuan Moralitas Bangsa

Kusampaikan salam hangat ku, untuk semua rekan-rekan seperjuangan di berbagai belahan dunia… SALAM MAHASISWA!!!

 

Arus deras semangat mahasiswa (pemuda) tidak akan pernah berhenti bergemuruh selama keadilan masih tercabik-cabik oleh tangan kotor pemerintah korup dan nilai kebenaran masih terinjak-injak oleh kaki hina penguasa tak bermoral. Ia tidak akan pernah bisa ditahan oleh bendungan-bendungan tirani, tidak juga oleh tanggul-tanggul kediktatoran. Sejarah telah banyak bicara untuk membuktikan semangat mahasiswa yang tidak pernah lekang termakan jaman peradaban itu.

Gerakan mahasiswa Argentina tahun 1955 berhasil meluluhlantakkan kekuasaan diktator Juan Veron. Gerakan mahasiswa Hongaria tahun 1956 berhasil mengusir mahaguru (baca : dosen) beraliran stalinis dari kampus. Gerakan mahasiswa Kuba tahun 1957 gemilang mencabut kekuasaan diktator Batista. Lalu ada juga gerakan mahasiswa Spanyol yang menumbangkan penguasa diktator Jenderal Franco pada tahun 1965.

 

Gerakan mahasiswa di Indonesia pun tidak ketinggalan. Sebut saja pergerakan mahasiswa angkatan ’66 yang meneriakkan tritura (tri tuntutan rakyat) yang dibarengi dengan penggulingan kekuasaan Soekarno, yang pada saat itu sudah ingin berkuasa seumur hidup; angkatan ’74 yang menorehkan tinta sejarah MALARI (malapetakan lima belas januari) dengan tuntutan otonomisasi Negara dari intervensi asing dan penyikapan isu NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kampus).

 

Gerakan mahasiswa Indonesia angkatan ’78 pun memberikan sumbangan sejarah dengan mengangkat isu realisasi demokrasi, transparansi, akuntabilitas , serta pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen dengan icon menolak Soeharto sebagai calon presiden (Demokrasi Suatu Keharusan, Anwari WMK, 2004). Dan akhirnya, angkatan ’98 mampu menghancurkan kekuasaan bercorak militer dan represif rezim orde baru dibawah naungan rindangnya pohon beringin selama 32 tahun, Soeharto. Gerakan mahasiswa pun berlanjut ke tahun 2001 dengan pencabutan predikat presiden dari Gusdur, gitu aja kok repot!

 

Mereka telah menggoreskan sebuah catatan kebanggaan di lembar sejarah manusia. Bahkan jauh hari sebelumnya, yaitu pada 28 Oktober 1928, mereka telah mengucapkan sumpahnya, yang dikenal dengan sumpah pemuda, untuk berbangsa satu, bangsa Indonesia; bertanah air satu, tanah air Indonesia; berbahasa satu, bahasa Indonesia. Lalu bagaimana dengan mahasiswa saat ini ???

 

Kebanyakan mahasiswa saat ini masih terlalu senang “di-ninabobo-kan” RoDA-isme (Romantisme, Dugemisme, dan Apatisme). Berbangga-bangga dengan budaya westernisasi, sambil bersusah payah menghapus jati diri bangsa yang mulia.

 

Kaum muda saat ini sudah sangat memaklumi terjadinya fenomena free sex, bahkan di suatu komunitas mahasiswa, keperawanan pun identik dengan simbol “wong ndeso”, menjadi caci maki dan ejekan. Sambil mereka terheran-heran mempertanyakan mengapa angka keperawanan tidak menyentuh angka 0% saja. Semoga komunitas seperti ini tidak ada dan tidak akan pernah ada di STT Telkom.

 

Tidak sedikit kaum muda saat ini yang lebih memilih untuk melakukan “dzikir” full aroma porno, “i’tikaf” semalaman di diskotik, “bermunajat” dengan khusuk kepada setan, sambil kepala goyang kanan goyang kiri, tubuh berjoget kompak mengikuti alunan musik, dan tangan mencekik leher botol miras. Efeknya terasa esok harinya, tubuh lemah dan loyo, tapi semangat “kepemudaannya” mendorong untuk berpikir, “ke diskotik mana nanti malam?”

 

Ada juga kaum muda yang lebih memilih untuk tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Bermata tapi tak melihat, bertelinga tapi tak mendengar, berhati tapi tak merasa. Prinsipnya simpel saja, “gue ya gue, elu ya elu! Asal gue seneng, lu ? EGP, Emang Gue Pikirin! “

 

Sebuah auto correct untuk kita semua, meminjam kata-kata Cecep Darmawan (dosen ilmu politik UPI), “kalau dulu pemuda itu satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa, maka sekarang pemuda itu satu rupiah. Artinya, dipersatukan oleh rupiah untuk melakukan suatu tindakan”. Belum lagi menjadi pejabat, sudah selap sana selip sini. Bahkan kita hanya bisa tersenyum kecut ketika ada yang mengolok-olok kita sambil menanyakan dimana nilai idealisme mahasiswa. Hal ini turut berkontribusi dalam menciptakan degradasi eksistensi gerakan mahasiswa di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang sedang berada di persimpangan.

 

Fenomena RoDA-isme merebak karena kebanyakan mahasiswa tidak menyadari (atau tidak mau sadar?) tentang posisi dan perannya, sebagaimana yang sering disampaikan dalam rangkaian acara pengenalan dunia kampus, sebagai agent of change (agen perubah), moral force (kekuatan moral), dan iron stock (perangkat keras) suatu bangsa.

 

L’ Histoire Se Repete (sejarah akan selalu berulang), begitulah ilmuan Perancis mengajari kita. Jangan sampai sejarah bangsa ini hanya menjadi dongeng pengantar tidur. Perlu ada pelajaran yang diambil dari rangkaian sejarah yang berharga itu. Perlu ada persiapan minimal yang dilakukan oleh mahasiswa Indonesia. Pertama, merekonstruksi soliditas gerakan. Menurut pengalaman dan analisis penulis, serta hasil diskusi dengan beberapa pihak, ternyata gerakan mahasiswa belakangan ini cenderung jalan di tempat dan hal ini diperparah lagi dengan adanya fragmentasi gerakan, tampak jelas ketika kita bicara orang kanan dan orang kiri dalam tanda kutip.

Kedua, membangun kembali kebanggaan terhadap jati diri orang Indonesia. Mari tinggalkan dan cegah segala macam westernisasi yang merusak, free sex dan drugs adalah contohnya.

 

Ketiga, sampaikan, bela, dan perjuangkan kebenaran. Kadang mahasiswa masih terlalu gagap untuk masuk ke ranah sosial dan politik. Pengalaman penulis ketika berdialog tentang sosial politik dengan seorang rekan, pendapatnya lebih kurang seperti ini, “gw gak peduli dengan politik. Semuanya sama aja, gak Si A,B ato si C. Sama-sama korupsi!”. Saya hanya tersenyum saja. Mungkin rekan saya ini mengalami trauma politik yang cukup akut berdasarkan pengalaman masa lalu.

 

Tentu saja semua permasalahan tidak dapat di-generalisir seenaknya. Mahasiswa memang harus senantiasa netral, tapi bukan berarti menolak segala sesuatu yang dilontarkan oleh sekelompok atau golongan orang tertentu. Tidak sedikit diantara kita yang terjebak dalam perasaan takut ditunggangi sehingga lidah kita terasa kelu untuk meneriakkan kebenaran. Hmm, ditunggangi ? emangnya keledai ^_^.

 

Kalau begitu kasusnya, alangkah mudahnya orang lain meredam gerakan moral kita, cukup dengan sedikit sindiran berbau tuduhan bahwa kita ditunggangi oleh kelompok tertentu, maka kita akan langsung diam seribu bahasa. Tidak seperti itu teman! Jangan pernah menjadi orang seperti itu. Guidance-nya gampang saja, dengarkan tentang kebenaran yang diucapkan, lalu liat kerja nyatanya. Jika sesuai, maka kita bela, tapi jika tidak sesuai, maka jangan pernah ragu untuk meninggalkannya. Selama memiliki tujuan yang sama, saya rasa tidak perlu ada yang namanya paranoid politik secara berlebihan, karena memang yang kita bela adalah kebenaran.

 

Keempat, kembali kepada jati diri kita sebagai mahasiswa, bahwa kita adalah gerakan intelektual (intellectual movement), ayo kembali kita budayakan trias tradition –discussion (diskusi), reading (membaca), dan writing (menulis). Untuk menyampaikan maksud dan tujuan kita, tidak perlu kita memakai budaya kekerasan, tidak perlu kita melestarikan budaya premanisme!

 

Akhirnya, semoga kita bisa menjadi pemuda tangguh yang turut berkontribusi menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa ini, menghasilkan suatu kebaikan yang berguna untuk kebaikan lainnya, dan begitu seterusnya. Tiba saatnya nanti kita memimpin negeri ini, maka jangan ada lagi bangsa dari rumpun melayu yang melecehkan bangsa kita, maka jangan ada lagi bangsa asing yang menghina bangsa kita. Biarkan kita menjadi seorang pemuda yang mampu melintasi The history of world civilization (sejarah peradaban dunia). Hidup pemuda Indonesia !

4 thoughts on “Pemuda,Mendobrak Kebekuan Moralitas Bangsa

  1. pemuda hari ini pemuda yang disumpah bukan menjalani amanat sumpah pemuda.
    Terima kasih kesediaan pengutip pendapat saya

  2. ^_^ ok pak… kapan2 kita bisa diskusi ya….
    (walaupun kita belom pernah diskusi sebelomnya, karena waktu di acara “junta pemuda” di taman salman itb, saya cuma mendengarkan pemaparan bapak. dan sebelum acara selesai saya sudah izin pergi duluan karena ada rapat dengan teman2 dari unpad, itb, dan upi)

  3. pemuda adalah orang yang mampu meneriakkan “kebenaran” ditengah orang yang berteriak “atas nama kebenaran”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s