orientasi berkontribusi (belajar dari anak kecil)

dsc00010.jpg

di saat lagi sibuk2nya ngebongkar motor, tiba-tiba Fadhil, keponakan saya yang masih kecil dan terlahir kembar, mendekati saya. melihat kunci-kunci yang digunakan untuk membongkar motor, melirik ke arah saya (dan saya pun tersenyum kepadanya), lalu tak lama kemudian tangannya mulai aktif memegang kunci-kunci yang berserakan itu, mengangkatnya, melihat dengan seksama, lalu memukul-mukulkannya ke lantai. Ntah apa yang ada di benaknya, saya hanya geli dan pura-pura tidak melihatnya.

Iseng, kemudian saya Tanya kepada keponakan saya itu, “Fadhil lagi ngapain ? “. Tidak ada jawaban, cuma asik memain-mainkan kunci yang dipegangnya. Lalu ayah saya yang dari tadi ada di dekat saya bilang, “dia itu ngebantuin itu”. Lalu saya bilang lagi ke Fadhil, “ emang Fadhil bantuin om?”. Kali ini ada jawaban, Fadhil mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatap wajah saya, lalu kembail asik memegang kunci.

Hmm, saya hanya tersenyum saja. Mencoba menjajaki jalan pemikiran keponakan saya yang masih kecil itu. Ternyata ada satu kata yang rasanya pantas untuk menggambarkan prilakunya di siang itu, kata itu adalah “kontribusi”. Ya, kalau diperhatikan, memang biasanya anak kecil selalu ingin berkontribusi terhadap segala macam pekerjaan orang-orang di sekitarnya.

Kalau berkaca pada prilaku anak kecil, dalam hal ini yang menjadi main topic-nya adalah tentang kontribusi, rasanya kita sebagai orang dewasa (baca : lebih tua dari anak kecil) jauh ketinggalan. Seringkali di kehidupan sehari-hari kita berprilaku cuek bebek saja ketika melihat orang lain bergulat dengan kesibukannya. Bahkan sepertinya banyak orang yang menikmati melihat kesibukan orang lain, sementara dirinya berada dalam keadaan santai-santai saja.

Di dunia organisasi pun biasanya banyak kita temui orang-orang yang berprinsip “gw bakal bantu klo itu berkaitan dengan divisi gw, selain itu? No way!”. Ya, tentu saja semuanya memang harus profesional, tapi kalau memang pada saat itu kita sedang senggang, saya rasa tidak ada salahnya ketika kita membantu teman yang terlihat sedang sibuk mengerjakan sesuatu.

Langkah untuk memulainya pun tidak usah rumit-rumit, cukup mencontoh prilaku anak kecil saja, simpel kok, ga percaya ? yuk kita bahas, cuma 3 langkah, ga lebih! Siap???

Pertama, lihat apa yang dikerjakan. Amati saja dulu. Ini sebagai langkah awal untuk mengerti tentang apa yang sedang dikerjakan oleh teman kita.

Kedua, minta persetujuan teman kita ketika kita ingin membantunya. Jika diizinkan, baru membantunya. Anak kecil pun melakukan hal seperti ini, lihat lagi paragraph di atas, kalau saja pada saat keponakan saya itu menatap saya lalu saya molotot kepadanya, bukannya tersenyum, mungkin ceritanya akan berbeda.

Ketiga, lakukan sepenuh hati. Ikhlas. Itu yang diajarkan oleh anak kecil kepada kita. Saya rasa, pada saat keponakan saya itu memainkan kunci (kita menganggapnya sedang memainkan kunci, tapi mungkin saja dia menganggapnya sedang membantu kita), dia tidak sedang menghayalkan akan mendapat sebungkus permen sebagai imbalan jerih payahnya. So, kita juga ga perlu membantu hanya untuk mendapatkan perhatian atau pengakuan.

Nah, akhirnya . . . kita telah belajar tentang kontribusi dari anak kecil. Lalu, mengapa tidak kita aplikasikan…? ^_^

3 thoughts on “orientasi berkontribusi (belajar dari anak kecil)

  1. Assalamu’alaikum
    tapi ada kok orang yang tipenya akan panik dan bingung jikatiba2 ada orang yang ngebantuin kerjaannya tapi gak bilang2 mau bantu.
    menurut saya (yang minim dengan pengalaman hidup ini), terkadang dibutuhkan komunikasi atau setidaknya informasi(jika memang ingin bikin surprise atau gak ingin ada yang tau mengenai bantuan yang di berikan), jadi jangan sampai niat membantu malah membuat kesusahan orang yang ingin di bantu bertambah…
    mungkin segitu saja, maap-maap ni kalo gak nyambung

    (sedang menyalurkan ghiroh jari untuk menekan tuts-tuts keyboard)

  2. wa’alaikumsalam wrwb.

    saya sangat setuju dengan pendapat Febry, makanya itu di tulisan saya itu tertulis langkah nomor dua ^_^

    minim pengalaman hidup? wah, bisaan aja, merendah nie ye ^_^

    Bagus2,,, menulislah selagi masih diberi kesempatan untuk menulis.
    ingat, sejarah itu ditulis oleh darah para syuhada atau tinta para ulama.
    semoga kita menjadi salah satunya (minimal). Allahumma aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s