Bercermin dari Perjanjian Hudaibiyah (1)

Berawal dari mimpi Sang Rasul, yang menceritakan bahwa Kekasih Allah itu bersama para sahabatnya memasuki masjidil haram, mengambil kunci ka’bah, melaksanakan thawaf dan umrah, sebagian sahabat ada yang mencukur dan sebaian yang lain ada yang memendekkan rambutnya, maka menjadi cerahlah wajah para sahabat. Mereka senang tak terkira, ada guratan harap di wajah itu. 

Tidak perlu berlama-lama menahan diri dalam pengharapan karena memang tak lama kemudian Rasulullah mengumumkan hendak melakukan umrah. Mereka pun bersiap-siap, membawa perlengkapan dan akhirnya berangkat dengan suka cita. 

Belum lagi rombongan itu menapaki hangatnya dataran mekah, mereka sudah dihadang oleh pasukan kafir Quraisy. Diantaranya, tersebutlah nama Khalid bin Walid (sebelum masuk islam) sebagai komandan pasukan penunggang kuda, yang berpikir cerdas untuk menghabisi kaum muslimin saat mereka mendirikan solat. Namun sayang, gayung tak bersambut, hukum solat khauf (solat di tengah-tengah pertempuran) pun diturunkan. Gagal sang komandan Khalid melaksanakan rencana cerdasnya, lalu ia pun berkata dalam hati, “Tahulah aku bahwa orang-orang ini ada pembelanya, karena siapakah yang memberi tahu orang-orang ini tentang taktik yang aku baru rencanakan dalam hatiku untuk menyergap mereka saat mereka lalai?”. 

Singkat cerita, episode harap kaum muslimin ini menampilkan cuplikan perjanjian hudaibiyah. Perjanjian pun tertulis, kedua pihak telah bersepakat, begini isinya :

  1. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam harus pulang pada tahun ini, dan tidak boleh memasuki mekah kecuali tahun depan bersama orang-orang muslim. Mereka diberi jangka selama tiga hari berada di mekah dan hanya boleh membawa senjata yang biasa dibawa musafir, yaitu pedang yang disarungkan. Sementara pihak quraisy tidak boleh menghalangi dengan cara apapun.
  2. gencatan senjata di antara kedua belah pihak selama sepuluh tahun, sehingga semua orang merasa aman dan sebagian tidak boleh memerangi sebagian yang lain.
  3. barangsiapa yang ingin bergabung dengan pihak Muhammad dan perjanjiannya, maka dia boleh melakukannya, dan barang siapa yang ingin bergabung dengan pihak quraisy dan perjanjiannya, maka dia boleh melakukannya. Kabilah mana pun yang bergabung dengan salah satu pihak, maka kabilah itu menjadi bagian dari pihak tersebut. Sehingga penyerangan yang ditujukan kepada kailah tertentu, dianggap sebagai penyerangan terhadap pihak yang bersangkutan dengannya.
  4. siapapun orang quraisy yang mendatangi Muhammad tanpa izin walinya (melarikan diri), maka dia harus dikembalikan kepada pihak quraisy, dan siapa pun dari pihak Muhammad yang mendatangi quraisy (melarikan diri darinya), maka dia tidak boleh dikembalikan kepadanya.

Ketika harap menjadi sirna, kaum muslimin pun bersedih. Wajah ceria pun bertukar dengan kemurungan. Pupus sudah harapan mereka, terbang tinggi segala mimpi untuk melaksanakan thawaf dan umrah tahun ini. Perih tergores hati mereka, semata-mata karena tidak mengetahui hakikatnya. 

“wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka di atas kebatilan?”. Tanya Umar bih Khaththab, sahabat yang dikenal dengan kekerasan sikapnya, kepada Rasul mulia.

= = = insya Allah bersambung = = =

===========================
perpustakaan STT Telkom
22 Januari 2008, 19.10 WIB

2 thoughts on “Bercermin dari Perjanjian Hudaibiyah (1)

  1. Ping-balik: Mencintai dengan Sebisanya « Tarian Keyboard

  2. Salam sejahtera selalu, aplikasi dari perjanjian hudaibiyah dalam nilai sosial kemasyarakatan yakni:
    1.adanya akad perjanjian sah antara muslaim dan non muslim,2.keta’atan(disiplin) dalam mematuhi aturan yang berlaku bersama, 3.ketertiban umum dalam tatanan sosial, budaya, ekonomi dlsb, &trims buat tuliosannya, ana repos ok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s