SBY Poco-poco, Mega Undur-undur, Soeharto Maju-maju

Para elit politik kembali lempar wacana. Pendapat tajam nan lucu kembali menghiasi media informasi di tanah air. Tajam karena bisa membuat merah telinga kubu yang dikritik, lucu karena memang para elit politik itu menggunakan istilah yang (terkesan) asal sehingga menyisakan rasa geli yang menggelitik.

Sebut saja pendapat Megawati, Ketua Umum PDIP, yang berpendapat tentang pemerintahan SBY, “Pemerintah saat ini, saya melihat seperti penari poco-poco. Maju satu langkah, mundur satu langkah. Maju dua langkah, mundur dua langkah. Kadang malah jalan di tempat”. Ntah dapat ilham dari mana, kok bisa-bisanya pemerintahan diibaratkan seperti sedang menari poco-poco. Kocak. Saat saya membaca berita ini dari harian Radar Lampung, tanggal 1 Februari 2008, yang terbayang adalah kumpulan ibu-ibu yang lagi senam diiringi lagu poco-poco. Hahaha, semenggelikan itukah pemerintahan SBY? ^_^

Sepertinya ungkapan “siapa menabur benih, ia akan menuai hasil” berlaku di sini. Melalui ketua fraksinya di DPR, Sutan Bataghoena, Partai Demokrat membalas lawakan megawati dengan mengatakan, “Kalau kebijakan SBY tentang pemberantasan kemiskinan ibarat penari poco-poco, Megawati ibarat penari undur-undur. Tidak pernah maju, tetapi mundur terus”. Kritik dibalas kritik. Hahaha, rakyat Indonesia seperti sedang menonton lawakan Srimulat, antar pemain saling balas. Ngomong-ngomong, pernahkah Anda mendengar tarian undur-undur? ^_^

Nah, lain halnya dengan mantan Presiden Soeharto yang saat ini sedang “bermukim” di Istana Giribangun. (Tunggu sebentar,… tentang istana ini, saya harap Anda tidak bertanya kepada saya tentang siapa gusti prabunya, soalnya saya juga bingung mau menjawab apa. Bertanya kepada para punggawanya? Ah, jangan bercanda, mana berani saya ^_^). Mantan orang nomor satu di Indonesia itu sepertinya sedang mendapat sanjungan dari berbagai media informasi di Indonesia. Mungkin lagu Pancasila bisa mewakilinya, mari kita sedikit mengingat liriknya “Pancasila dasar negara, rakyat adil makmur sentosa. Pribadi bangsaku, ayo maju, maju. Ayo maju, maju. Ayo maju, maju”.

Ya, seperti itulah media berbicara tentang Soeharto, paling tidak untuk beberapa hari terakhir ini. Bapak Pembangunan, Sang Pahlawan, Jenderal Besar . . . Sepertinya nyaris tanpa celah. Bak seorang putri cantik nan jelita yang berdiam di menara gading. Tak tersentuh! Padahal, sedikit pun kita tidak boleh lupa bahwa “tak ada gading yang tak retak”.

“Soeharto”, nama itu seolah kini menjadi bersih. Padahal di tahun ’97-’98 hingga dua minggu yang lalu, nama itu selalu dikaitkan dengan sesuatu yang negatif (Ya ampun, bilang KorupsiKolusiNepotisme aja susah bener sih! ^_^). Media, ya media berperan penting di sini. Membuat saya bertanya-tanya, siapa aktor di balik media?!

Kalau PDIP dengan Mbak Mega, Demokrat dengan SBY, apakah pewacanaan pembersihan nama Soeharto merupakan indikasi bahwa Golkar akan bernaung di bawah rindangnya beringin Soeharto pada tahun 2009 nanti? Tak perlu menjawab sekarang, karena waktu setahun masih lama. Tapi yang pasti, bangsa kita adalah bangsa pemaaf. Bangsa yang senang dibelai dengan romantisme masa keemasan, ketika tiap petak sawah Indonesia mengeluarkan padi terbaiknya, swasembada pangan! Ketika tiap kilometer jalan raya diaspal dan gedung-gedung bertingkat didirikan, zaman pembangunan!

Lalu kita pun lupa, ketika bahtera bernama Indonesia ini hampir karam di hempas badai moneter. Lalu kita pun lupa, ketika mulut kebenaran dibungkam oleh rezim represif. Lalu kita pun lupa, ketika muslimah indonesia harus keluar dari sekolahnya karena memakai jilbab. Lalu kita pun lupa, ketika para pegawai negeri digiring untuk memilih suatu partai dalam pemilu.

Saya setuju ketika kita menjadi bangsa pemaaf (secara individu), tapi jangan jadi bangsa pelupa! Ah, sudahlah, kita sudah lupa itu semua. Sekali lagi, media berperan untuk membuat kita lupa terhadap hal-hal sensitif seperti itu. Bagi media, masa itu telah usai, tidak perlu diungkit-ungkit. Mungkin saat ini media sedang berpesan “ayo kita jadi bangsa yang pelupa” ^_^

4 thoughts on “SBY Poco-poco, Mega Undur-undur, Soeharto Maju-maju

  1. Asww.Sepakat Kak,,cm utk “kita menjadi bangsa pemaaf (secara individu)” loh…..tp tetap menegakkan keadilan & kebenaran tanpa pandang bulu (emank power rangers?? ^_^).Jadi Kak,,,Qt sharusnya gmana???Ayo2,,,,jd hrs gmana????

  2. wa’alaikumsalam wrwb.

    Oh, tentu donk, keadilan dan kebenaran teteup harus ditegakkan.

    saya sih tetep optimis bahwa keadaan akan menjadi lebih baik. Kita harus bagaimana . . . ? minimal, awasi kinerja + ingetin saudara2 kita yang ada di pemerintahan. sarananya . . . ? diserahkan kepada masing2 individu ^_^

  3. wah,,kakak cepet jg jwbny…..okey ide ka2k disepakati….BUT WE HV TO ADMIT
    keberhasilan & sisi positif tiap dekade pemerintahan dan pelakunya dibalik segala kekhilafanya (klo bs dikategorikan khilaf ^_^ ).

    Oiya..jadi inget.Mana pisang coklatnya?????????????????????????????????????????????????????????

  4. Ping-balik: SBY Poco-poco, Mega Undur-undur - KompasForum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s