Episode Cinta Sang Murabbi

Penulis : Helvy Tiana Rosa, dkk
Penerbit : pustaka ikadi
Cetakan I : September 2005

Akhirnya berjodoh juga untuk membaca buku ini. setelah sekian lama ngubek-ngubek toko buku untuk nyari buku ini (dan gak ketemu T_T), tanpa sengaja saya menanyakan buku tersebut ke seorang teman. Beruntung! Dialog yang berlangsung saat belajar bareng di sekre tercinta itu membuahkan hasil positif, beberapa waktu kemudian saya meminjamnya.

Mendengar judul buku ini, apa yang terbayang di benak Anda?

Kalau Anda berpikir bahwa buku ini berisi kumpulan tulisan KH. Rahmat Abdullah, selamat! Pikiran kita sama (lalu apa untungnya ? ^_^).

Gak salah-salah banget sih, emang ada beberapa tulisan Ust. Rahmat yang mengawali buku ini. tulisan yang ngebuat dada ini bergemuruh, baik dibaca softcopy or hardcopy-nya, rasanya teteup memberikan kesan yang dalam walau udah dibaca berulang kali. Tulisan yang ngebuat perasaan ini jadi . . . (titik-titik aja ya, susah diungkapin lewat keyboard).

Tulisan pertama yang berjudul “Gairah Cinta Dan Kelesuan Ukhuwah”, diawali dengan menyitir hadist riwayat Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Ibn Adi dan Bukhari, “cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai”.

Lalu dilanjutkan dengan ukhuwah, dijelaskan juga level terendah dan tertingginya. Dan penekanan tentang ukhuwah, “jika ia tidak bersama mereka, ia tak akan bersama selain mereka. Dan mereka bila tak bersamanya, akan bersama selain dia”.

Masalah yang disinggung berikutnya adalah tentang ujian, bahwa manusia akan diuji pada titik terlemahnya. Ini saya kutipkan salah satu contoh paragraphnya :

Ada seorang ikhwah sekarang sudah masuk jajaran masyaikh. Dia bercerita, ketika menikah langsung berpisah dari kedua orang tua masing-masing, untuk belajar hidup mandiri atau alasan lain, seperti mencari suasana yang kondusif bagi pemeliharaan iman, menurut persepsi mereka waktu itu. Mereka mengontrak rumah petak sederhana. “Begitu harus berangkat (berdakwah-red), mendung menggantung di wajah pengantin tercinta”, tuturnya. Dia tidak keluar melepas sang suami, tetapi menangis sedih dan bingung, seakan doktrin dakwah telah mengelupas.

Kembali kita diingatkan kisah Juraij sang abid yang terusik oleh panggilan sang ibu saat sedang solat sunnah, “ummi au shalati” (ibu atau solatku?). Tapi sekarang yang membingungkan malah “Zauji au da’wati” (istriku atau dakwahku?). Untungnya, kisah tersebut ditutup dengan happy ending full barokah. Barakallahu!

Hahaha, cukup menggelitik, mungkin sekarang pertanyaannya sudah terdegradasi, “games or dakwah”, “IP or dakwah”, “tidur or dakwah” . . . dan masih banyak lagi, mungkin. Sekali lagi, ini hanya mungkin, dan semoga tidak terjadi. Allahumma aamiin.

Tulisan ke dua berjudul “Kerendahan Hati Dan Kepekaan Sosial”. Merupakan sindiran yang begitu dalam untuk para insan pengusung kebenaran. Sindiran tentang sikap rendah hati yang (mungkin) kini telah meninggi dan kepekaan social yang (mungkin) kini telah tuli.

cahaya di wajah ummat” adalah judul ketiga tulisan beliau. Berbicara tentang amal jama’i, tanpa harus bergantung pada kerumunan besar. Menjadi individu yang berdaya, bukan terus menerus menempel dan bergantung pada orang lain.

Tulisan beliau yang terakhir, di buku ini, adalah “kedunguan kasta vs komitmen perjuangan”. Menjelaskan kedudukan setiap individu saat bersinggungan dengan dakwah, tidak peduli anak siapa dan berapa kekayaan ayahnya. Yang pasti, dakwah adalah kemenangan bagi siapa saja yang ingin berjuang.

Selanjutnya, isi buku ini dilanjutkan dengan pendapat dan kenangan orang-orang tentang sosok KH Rahmat Abdullah. Diawali dengan tulisan Helvy Tiana Rosa yang menyentuh hati, lalu dilanjutkan dengan tulisan lainnya, hingga akhirnya tulisan yang menggambarkan sosok KH. Rahmat Abdullah itu genap berjumlah 216 buah.

Buku ini ditutup dengan judul “mengantar kepergian syaikhut tarbiyah KH Rahmat Abdullah (1953-2005)”, sebuah tulisan dari Drs. H Mahfudz Siddiq, MSi. Tulisan ini pun bercerita tentang sosok KH Rahmat Abdullah.

Menurut saya, buku ini bisa menjadi inspirasi dalam kesederhanaan dan keteguhan. Semangat juang yang tak pernah padam, dilanjutkan dengan kerja dakwah yang tak pernah henti. Luar biasa!

7 thoughts on “Episode Cinta Sang Murabbi

  1. Wah, subhanallah.. ternyate bagus juga ntu buku ya..
    awalnya cuman dipandang sebelah mata olehku..
    tapi setelah membaca spoillernya dari kang Dedhi.. Jadi pengen.. pengen.. pengen pinjam juga..
    Pinjam dong akh!!
    Btw, foto nt kereun euy, mirip bet ama Abinya.. : )

  2. hehehhe,,, pinjem ya, kynya emang harus pinjem, soalnya udah ga ada di pasaran. ya udah, nti kita via sms aja ya ^_^

    alhamdulillah, subhanallah, astaghfirullah

  3. Ping-balik: Bercermin di Telaga Cinta Sang Guru « Tarian Keyboard

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s