ci*ta dan hianat

Kalau ada rasa yang melebihi tidak enaknya merasakan cinta yang tak memiliki pelampiasan, maka saya tidak pernah ragu untuk menempatkan penghianatan di posisi kedua dalam list perasaan tidak enak itu. Yang saya maksud cinta yang tak memiliki pelampiasan bukan lah cinta yang tak berbalas. Karena memang kita tidak dapat menyamakan antara perasaan Ibrahim AS saat mencari Rabbnya dengan perasaan noura saat berharap kepada fahri dalam Ayat-ayat cinta*. Cinta yang tak memiliki pelampiasan, secara sah dan meyakinkan hanya akan menimbulkan kebingungan tak bertepi. Terus menerus mencari hingga bertemu dengan tepian harapan atau berakhir sedih dengan kematian tanpa tepian tempat berharap.

Sementara penghianatan, ia bisa bermetomorfosa menjadi bentuk apa saja dengan segala akhir yang tidak terduga. Rayuan manis anak remaja yang berbohong kepada orang tua untuk membeli narkoba, tentu saja dengan alasan membeli buku pelajaran, merupakan contoh paling lumrah yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Lalu bagaimana akhirnya ? berakhir indah dengan cinta atau berakhir horror dengan duka, itu diserahkan melalui pendekatan yang kita ambil.

“honey, maaf. Sepertinya kita ga bisa ke tempat mama, mungkin sabtu minggu depan ya. Soalnya aku lelah banget nih”. Begitu kalimat yang meluncur dari bibir sang suami di suatu malam, setelah mendapati istrinya menunggu di depan rumah untuk menagih janji diantar ke tempat orang tuanya. Ya, kalimat menggantung memang lebih aman digunakan untuk menutupi bahwa sang suami lelah karena main billiar bersama teman sekantor tadi sore sepulang dari kerja, bukan karena kerja lembur mengejar deadline tugas kantor. Ini pun satu bentuk penghianatan yang ujungnya juga tidak bisa dikalkulasi secara pasti. Akhir kisah ini tidak ditentukan oleh seberapa lama waktu tunggu, karena menit atau jam hanyalah entitas kecil yang menggambarkan secuil penantian. Ending kisah ini juga tidak mutlak ditentukan oleh seberapa besar kelelahan mental dan fisik yang timbul akibat menunggu, karena kelelahan mental dan fisik hanya bentuk kecil dari pengorbanan yang besar. Kembali, akhir kisah ini akan berakhir indah dengan pemakluman atau berakhir perang dengan kegaduhan, tentu saja kemungkinan kedua bisa terjadi ketika sang istri mengejar kejelasan kalimat menggantung itu…

Cinta memang hampir selalu bisa bersanding dengan segala rasa, yang pada akhirnya akan menimbulkan wujud lain dari cinta. Ketika emosi bersanding dengan cinta, maka yang terjadi adalah cemburu. Rasanya hampir tidak ada orang yang menolak bahwa cemburu adalah wujud lain dari cinta. Ketika egois bertaut dengan cinta, maka yang terjadi adalah cinta posesif. Keinginan yang kuat untuk membuktikan bahwa mencintai harus memiliki adalah kasus ekstrim dari pertautan keduanya. Ketika cinta berkolaborasi dengan sedih, maka simpati dan empati akan muncul sebagai gantinya. Tapi, cinta tidak akan pernah bisa akur bila disatukan dengan hianat. Cinta yang dibalut dengan penghianatan atau penghiatan yang dibalut dengan cinta hanya akan menampilkan cerita sandiwara yang menjijikkan.

================================================================

motivasi dan inspirasi menulis :
=> dialog “garing” dengan seorang teman di suatu pagi
=> kegundahan hati karena gak PeDe nulis (menyebabkan blog ga update).. ntah kenapa… belum berani menyimpulkan secara pasti

 

*sampai saat ini, ntah kenapa saya masih belum berani untuk membaca karya Habiburrahman elShirazy itu. Mengintip sedikit isinya secara acak, dengan serta merta saya dipaksa untuk men-judge bahwa novel itu mampu bertutur indah tentang kisah kasih anak manusia. Ah, novel seindah itu, sayang rasanya untuk dinikmati saat ini. mungkin nanti, ntah kapan….

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

3 thoughts on “ci*ta dan hianat

  1. aslm..
    Ciyeh… mantap2 !!
    Yang namanya Cinta menurut ana ya Cinta,
    Kalau cembru itu benuk lain dari cinta dan ga ada hubungannya ama Emosi
    Cinta posesif itu bukan Cinta, karena Cinta berbeda dengan rasa ingin memiliki
    Itu cuman sok tau ku lho ya Ded…
    Tapi, sebenerbya kalau ngomongin Cinta asyikan Cinta ke ALLAH dulu kayanya ya…?
    Pesan buat Dedi :
    Segerakan NIkah, Ded !!
    hehehe…🙂

  2. wa’alaikumsalam wrwb

    yupz, setiap orang bisa punya pendapat berbeda ttg hal yang satu ini…

    ya iya lah,,, cinta kepada-Nya itu di atas segalanya….

    wew,,,, hati2.. hati2… hati2 provokator ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s