Memandang Indonesia dari Darah Juang

Disini negeri kami, Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya, Tanah kami subur tuan

Dinegeri permai ini, Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah, Pemuda desa tak kerja

Mereka dirampas haknya, Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami, padamu kami berjanji.
(darah juang)

Miris, bahtera besar bernama Indonesia ini selalu berhasil menorehkan cerita duka lara bagi penumpangnya. Tragis, berbagai bencana tak pernah bosan datang silih berganti. Negeri yang di masa lalu makmur dan subur ini, kini seolah meluapkan kekesalannya.

Lirik darah juang di awal tulisan ini seolah menjadi kurang tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia saat ini. memang benar bahwa di negeri ini berjuta rakyat bersimbah luka berdarah-darah, tapi negeri ini tidak lagi permai seperti dulu. Memang benar banyak anak kurus tak sekolah, tapi saat ini kalimatnya tidak berhenti sampai disitu; anak kurus tak sekolah, tak makan, lalu mati kelaparan.

Ya begitulah, menjadi kurang tepat karena memang keadaan Indonesia sudah tidak ditopang lagi dengan hamparan padi yang menguning dimana-mana. Samuderanya kini miskin kekayaan bahari. Tanahnya kini tak lagi subur; tanah kami gersang tuan. Tanah tempat berpijak, yang kini lagi menyalak galak, seolah merengek minta diperhatikan.

Ketika musim hujan datang menghampiri, seolah tanah Indonesia enggan untuk meminum air deras yang mengguyurnya. Layaknya balita yang dipaksa untuk minum susu ketika ia memang sudah kenyang, yang terjadi adalah mual dan muntah. tanah Indonesia pun seperti itu, tak peduli dimana tempat dan kapan waktunya. Yang pasti, ketika keengganan itu hadir, yang terjadi kemudian adalah genangan air yang menganak sungai. Banjir, begitu kita menyebutnya. Dan tanah Indonesia tidak pernah pandang bulu, baik di daerah maupun ibu kota negara, sama-sama pernah ditenggelamkan oleh banjir. Dan tanah Indonesia tampaknya tidak begitu memperhatikan perasaan manusia yang berpijak di atasnya, baik orang desa maupun orang kota, sama-sama berceloteh tentang rasa kesal dan malu, tetapi harus sabar, mungkin lebih tepatnya lagi pasrah.

Ketika musim panas datang menghampiri, seolah tanah Indonesia sedang mengalami sakit panas dalam. Kalau pada manusia gejalanya bisa digambarkan dengan sakit tenggorokan, bibir pecah-pecah dan kekurangan cairan. Pun begitu dengan tanah Indonesia. Galian tanah yang dalam, yang biasanya kita sebut dengan istilah sumur, seolah mencontoh gejala panas dalam pada manusia; airnya mengering, bunyi timba yang dicemplungkan kedalamnya bukan lagi memperdengarkan suara tabrakan antara ember timba dengan air, tetapi berubah menjadi suara ember timba yang menghantam dasar sumur yang nyaris tanpa air. Tanah permukaan pun turut mengamini, retak-retaklah ia.

Tapi, saya suka bagian akhir dari lagu ini, liriknya menyisakan harapan yang hingga kini masih relevan. Tentang masih adanya generasi harapan; yang rela menorehkan darahnya di kancah perjuangan bernama Indonesia. Saya sangat yakin dan percaya, generasi itu masih ada, mungkin menjelma menjadi diri kita. akhirnya, dengan bangga kita bisa bernyanyi, bunda relakan darah juang kami . . .

===============================================================

3 maret 2008, 21.00 @Villatel putra, Bandung
Inspirasi dan motivasi menulis :
ð Berita kelaparan di Sulawesi
ð “cuap-cuap” tentang banjir Jakarta di suatu milis

One thought on “Memandang Indonesia dari Darah Juang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s