Seribu Teman belum cukup, Satu Musuh Terlalu Banyak

yang sedang sepi, hatiku
katakan pada teman-teman ku
lewat dialog hati yang terdalam
yang tak terhambat oleh jarak
“bahwa aku merasa sepi”

. . . . . .


Begitulah, kebutuhan terhadap teman bisa diungkapkan melalui bahasa apapun. Jika lidah tak mampu bertutur, maka janganlah ia dipaksa, karena hanya kekeluan yang akan terjadi, walalupun sebenarnya pertemanan (baca : persahabatan, atau dalam tingkatan yang lebih tinggi lagi kita menyebutnya dengan sebutan persaudaraan) selalu bisa memahami makna pesan yang disampaikan oleh si pengirim pesan. Jika lisan tak lagi sanggup menggambarkan rasa, maka jangan terlalu gundah, karena cepat atau lambat, ia akan menemukan cara kreatif untuk mengungkapkan rasa yang dimiliki oleh si pemilik rasa. Pada kenyataannya, bahasa lisan selalu berhasil merubah bentuknya menjadi apapun ; bahasa tulisan, bahasa tubuh, bahkan dengan bahasa lain yang belum terpikirkan istilahnya sekalipun, untuk bisa mengungkapkan rasa apa yang dirasa.

Nyatanya, kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Ah, bumi ini begitu kaya; banyak ragam yang dimiliki, banyak kepribadian yang menghiasi, dan banyak kejadian yang terjadi. Dengan berbagai macam ragam bentuk dan kepribadian yang dimiliki, cukupkah suatu permasalahan diselesaikan melalui satu pendekatan saja? Tentu saja tidak. Saling memahami, itulah kata kuncinya.

Bukankah Abu Bakar yang berhati lembut bisa merajut kisah indah dengan seorang teman berperangai keras yang bernama Umar? Bukankah Muhajirin dan Anshor telah berhasil dengan gemilang membuka mata dunia dalam menunjukkan bahwa perangai dan kecendrungan tidaklah menjadi masalah yang menyebabkan permusuhan? Mereka bisa saling memahami, mengapa kita tidak? Bukankah seharusnya kita juga punya seribu satu alasan yang dibingkai dengan pemahaman yang baik untuk mencegah terjadinya perpecahan?

“Teman”, kata yang terdiri dari lima huruf itu telah berhasil menjadi kata ganti untuk menggantikan orang yang senantiasa terasa baik oleh kita, walaupun mungkin pada kenyataannya tidak selamanya baik. Teman, dialah orang yang kadang selalu ingin kita tatap wajahnya,berdekatan dengannya, meski sebenarnya tidak ada yang ingin dibicarakan. Karena hadirnya, ia mendatangkan kedamaian. Sedangkan “musuh”, telah berhasil menjadi kata pengganti bagi seseorang yang sudah tidak bisa lagi mendatangkan kedamain, malah mendatangkan rasa tidak nyaman, takut, marah, benci dan gundah.

Pada suatu waktu dalam sketsa kehidupannya, Rasulullah pernah meminta sahabat untuk membalasnya, jika ia pernah menyakiti para sahabat. selain ingin menuntaskan hutang dunia agar tak ditagih di akhirat, ternyata ada pelajaran lain yang bisa kita petik dari sana, yaitu beliau ingin menjaga hubungan baik dengan para sahabatnya, tidak ingin mencari musuh. Beliau mempermudah, tidak mempersulit. Namun, terkadang kita terlalu egois dengan menganggap hal sepele terlalu berat dan hal kompleks dianggap terlalu remeh, sehingga akhirnya menimbulkan polemik yang berujung pada permusuhan. Kedewasaan kita dalam memahami satu sama lain sangat berperan di sini. Karena satu musuh terlalu banyak dan seribu teman belumlah cukup, bukan begitu teman ku?

=============================================================

5 maret 2008, 06.00 @ villatel putra, bandung
Inspirasi dan motivasi menulis :
ð mengamati kondisi pertemanan antara teman yang satu dengan teman yang lainnya di awal maret 2008

4 thoughts on “Seribu Teman belum cukup, Satu Musuh Terlalu Banyak

  1. Alhamdulillah, ana memang ndak sengaja mengkliknya dari google, tapi tulisannya bagus (jangan GR dulu). Saya minta izin mengutip sebagiannya buat nulis artikel, boleh khan?

    Salam kenal dari Faisal di Makassar

  2. Alhamdulillah. Semoga tulisan di blog ini bisa memaksimalkan perannya, yaitu sebagai media untuk perbaikan diri dan umat, Berbagi kisah dan pemikiran,serta Berusaha menghasilkan suatu kebaikan yang berguna untuk kebaikan lainnya, dan begitu seterusnya ^_^

    Insya Allah ga GeEr🙂

    Yupz,,, silahkan… ^_^

    Ya, salam kenal juga…
    Salam semangat….! ^_^

  3. Ping-balik: Kontemplasi Pertemanan « Tarian Keyboard

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s