Ketika Hati Rindu Memberi, Maka Tak Ada Tempat Untuk Berdiam Diri

Benih empati dan simpati yang tertanam di rahim kemuliaan dan kebesaran jiwa, akan selalu melahirkan energi untuk bergerak, lalu terus tumbuh menembus semesta, hingga menjadi kerja nyata.

Sudah terlalu sulit untuk dihitung, sudah terlalu banyak untuk dikenang, berbagai kejadian pilu silih berganti, mengukir sejarah di lembar kehidupan manusia. Lautan duka itu terus menerjang, bergelombang. Biarlah duka yang mendalam dan emosi yang hadir, menjadi bahan bakar untuk menggerakkan diri kita. Nyatanya alam ini membutuhkan orang besar dengan segala macam kemuliaannya untuk bergerak sungguh-sungguh dalam berjuang.

Keinginan untuk memberi, selalu menghasilkan energi besar, sampai mendobrak rasio berpikir manusia. Kalau saja al-qur’an tidak bercerita tentang ibunda Ismail AS, mungkin kita sulit untuk percaya bahwa ada wanita sekuat itu. Bagaimana mungkin, di bawah terik matahari gurun pasir yang menyengat, sang bunda merelakan dirinya bersusah payah berlari bolak-balik dari satu bukit ke bukit yang lainnya. Apa yang mendorongnya ? tangis gagah si Ismail kecil yang mengabarkan bahwa ia merasakan kehausan yang teramat sangat. Naluri keibuan tumbuh merekah, ditambah lagi tipuan fatamorgana gurun pasir yang menjanjikan keberadaan air. Dan akhirnya, sejarah pun mencatat tentang kisah heroik seorang ibu bernama Hajar yang memiliki energi besar untuk bergerak demi memberi minum kepada anaknya.

Kalau kita amati, ada perubahan kultur yang terorganisir pada diri pemuda yang berdiam di bumi Indonesia. Begini maksud saya, dari dulu masyarakat Indonesia memang terkenal dengan sifat ramahnya, sekarang? Teteup, Tapi ada sedikit perbedaan, sifat ramah itu dirangkai dengan indahnya salam, “assalamu’alaikum”, dan dibarengi dengan eratnya jabat tangan. Formalitaskah yang mereka lakukan? Tidak! semata-mata mereka melakukan itu karena keinginan untuk memberi. Ya, keinginan memberi doa selamat yang menghasilkan energi besar untuk menepis anggapan “ah, orang aneh, ngucapin salam di mana-mana, padalah ga mau masuk rumah”.

Jauh di bumi Palestina sana, seorang lelaki tua renta bergerak dengan energi besarnya. Tubuh lumpuhnya tidak melemahkan, malah menambah semangat juang. Mata kepalanya memang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi mata hatinya begitu jernih. Memang ia tidak mampu melempar batu, tapi di bawah komandonya, batu-batu beterbangan dari tangan-tangan perkasa pemuda Palestina. Agh,Bukankah Syeikh Ahmad Yassin “hanyalah” kakek-kakek lumpuh di atas kursi roda? Ya benar, tapi pernyataannya tidak berhenti sampai di situ, ia memiliki keinginan untuk memberi, lalu lahirlah energi besar dahsyat luar biasa yang mampu menggerakkan pemuda Palestina untuk berjuang melawan bangsa penjajah.

“ummati,,, ummati”, teringat sesuatu tentang patahan kata itu? Kata-kata itu terangkai di bibir mulia Muhammad SAW sebelum kepergiannya menghadap Rabbul izzati. Umatku ya Allah, umat ku… luar biasa, ternyata keinginan untuk memberi perhatian itu begitu besar, melahirkan energi untuk mengucapkan patahan kalimat yang menyejarah, bahkan di detik-detik terakhir hidupnya. Di detik-detik terakhir hidupnya saja perhatiannya seperti itu, apalagi di masa-masa perjuangan dalam hidupnya, “berat terasa olehnya penderitaan kalian”, begitu At-Taubah 128 mengabadikannya.

Cukuplah sudah kisah-kisah di atas menyatakan bahwa keinginan untuk memberi selalu melahirkan energi besar untuk bergerak. Ayo, ciptakan semangat memberi, ledakkan energinya, lalu bergeraklah dengan penuh keyakinan.

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Dialog di medio februari 2008 dengan senior angkatan 2003 tentang fenomena sedikitnya pengurus di organisasi yang menjadi ujung tombak dakwah ke masyarakat. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan ya Kak.

Nasyid dari Shoutul harokah, Syeikh Ahmad Yassin. Mengenangmu ya syeikh, hampir selalu menyisakan embun di mataku.

Buku Salim A. Fillah, Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Cetakan kesebelas: juni 2007. Penerbit : Pro-U Media.

Hmmm, ternyata keisengan seorang teman “menitipkan dengan paksa” bukunya kepada saya, mampu membuahkan tulisan. Memang saya belum membaca semuanya, (dan tidak berencana membaca semuanya dalam waktu dekat), tapi bagi saya, buku itu adalah buku sedih, buku penuh air mata, mungkin karena baru baca sampai bab 2. Semoga Allah senantiasa memberi energi besar dan memudahkan antum ya akhi. Allahumma yassirna wa laa tuassirna. Ayo, bantu meng-amin-i ^_^

Majmu’atur Rasail, Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al-Banna, jilid 2. Penerjemah : Khozin Abu Faqih, Lc. dan Burhan, MA. Penerbit : Al-I’tishom cayaha umat. 2006

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s