Pemuda Berketuhanan, Menyebar Kebaikan Tanpa Batas

memberidanmenerima.jpg

“kak, apa konsentrasi menyeru kepada kebaikan itu hanya terbatas kepada kalangan tertentu saja?”, lebih kurang begitulah pertanyaan seorang penanya dalam sebuah pertemuan santai di suatu sore. Tunggu, sebelum kita lanjutkan, agaknya perlu kita sepakati bahwa kita tidak akan membahas tentang jawaban dari pertanyaan tersebut, karena nyatanya analisis alasan terhadap munculnya pertanyaan tersebut jauh lebih menarik daripada jawaban atas pertanyaan tersebut.

Begitu narsiskah para penyeru kebaikan selama ini sehingga hanya memperhatikan, memperjuangkan dan merealisasikan kebaikan yang hanya berkaitan dengan dirinya. Apakah penyeru kebaikan hanya berkonsentrasi pada satu golongan saja, bukankah semua golongan adalah objek seruannya. Apakah para saudara di anggota dewan rakyat hanya memperjuangkan para konstituennya saja, bukankah seharusnya ia milik seluruh rakyat. Ah, ada banyak pertanyaan yang susul menyusul sebagai konsekuensi dari analisis mengapa pertanyaan di awal tulisan ini bisa muncul ke permukaan.

Menyeru, atau biasanya disebut dengan kata “mengajak”, kepada kebaikan sudah seharusnya menjadi kewajiban setiap orang, siapa pun dia dan apa pun pekerjaannya. Dan diajak ke arah kebaikan adalah hak setiap orang, siapa pun dia dan dari mana pun ia berasal. Mungkin klasifikasi antara si pengajak dan yang diajak sudah sering kita temui di kehidupan nyata, tapi semoga itu hanya berada di tataran strategi prioritas, tidak bertahan pada aplikasi kelanjutannya. Oiya, hampir saja terlupa, sebaiknya tidak berhenti pada “ajak-mengajak”, tapi teruskan usaha itu ke tataran konkretisasi dan realisasi.

Yang perlu disadari adalah bahwa sebagai seorang pemuda yang berketuhanan, masing-masing kita memiliki kewajiban untuk mengajak semua manusia ke arah kebaikan, tidak terbatas agama, ras, apalagi golongan. Rasanya kita sudah bosan mendengar problematika bangsa kita yang dari hari ke hari mengalami guncangan moralitas. Andai saja setiap pemuda Indonesia mengajak satu sama lain ke arah kebaikan, maka permasalahan moralitas yang sudah menjamur di tanah air Indonesia ini akan segera terselesaikan. Kok bisa? Ya, bisa! Karena ketika seseorang senantiasa diajak ke arah kebaikan, maka akan tergerak hatinya untuk melakukan hal-hal yang baik dan berusaha untuk mengajak yang lainnya untuk bergabung dalam kebaikan. Mungkin memang tidak akan terlalu berefek ketika yang mengajak ke arah kebaikan itu hanya satu atau dua orang, tapi bayangkan jika yang mengajak itu adalah setiap orang yang dijumpainya. Wuiih, itu akan menjadi penekanan dan perulangan suatu pesan yang luar biasa efektif. Tidak percaya ? cobalah!

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

Ah, bukankah lagu Bagimu Negeri sudah tidak asing lagi ditelinga kita, bahkan sudah dikenalkan sejak kita duduk di bangku SD (Sekolah Dasar), waktu tiap hari masih memakai seragam kebanggaan putih merah. Ya, janji, bakti, dan pengabdian untuk memperbaiki keadaan negeri, bahkan dunia ini, bisa kita mulai dari hal yang paling kecil, yaitu mengajak kepada kebaikan dan menciptakan kebaikan itu sendiri. Tidak perlu narsis golongan, karena memang sebagai sebagai pemuda Indonesia yang berketuhanan, kita dituntut untuk bisa menjadi anugerah terindah bagi seluruh penduduk negeri ini, bahkan dunia. Untukmu indonesiaku, padamu baktiku. Salam!

Catatan :
Di tulis dengan bahasa nasionalis ^_^ => aku bangga menjadi pemuda Indonesia yang berketuhanan. Mencoba untuk menjadi pemuda Indonesia yang baik, melakukan sesuatu yang baik dan berguna untuk kebaikan lainnya, dan begitu seterusnya.

17 maret 2008. 09.35 WIB @ Villatel Putra, Bandung

= = = = = = = = == = = = = == = == = = = = = = = = = = == = = = = = = = = = = = = = =

Inspirasi dan motivasi menulis :

Majmu’atur Rasail, Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al-Banna, jilid 3. Penerjemah : Asep Sobari. Penerbit : Al-I’tishom Cayaha Umat. Cetakan pertama, Maret 2008.

Alhamdulillah, pencarian terhadap buku ini selama setahun lebih (sejak febrari 2007), berakhir sudah. Seorang saudara seangkatan menghadiahkannya untuk saya. Terima kasih saudaraku. Semoga Allah merahmati dan memberkahi segalanya. Allahumma aamiin.

Diskusi dengan ust. Herman, jum’at pagi 14 maret 2008.

Setelah sekian lama hanya mendengar nama, akhirnya saya berjodoh bertemu dengan anda ya ustadz. Walaupun kita berbeda sikap dalam pilgub, it’s ok lah, masing-masing punya pendapat dan sikap. Nyatanya saya tetap terkesima dengan pembawaan anda.Inspiratif dan komunikatif. Enerjik dan berwawasan luas. Salut . . .!

Pertanyaan seorang adik kelas pada satu kesempatan kajian rutin islam intelek. Nada bicaranya datar dan tanpa tekanan, tapi justru pertanyaan seperti itulah yang kadang membuat saya terus berpikir, bahkan setelah pertanyaan itu tuntas dijawab.

2 thoughts on “Pemuda Berketuhanan, Menyebar Kebaikan Tanpa Batas

  1. bagimu negeri jiwa raga kami ??

    kalo menurut saya (org awam), sebuah ketidakmungkinan
    pengorbanan jiwa raga demi sebuah negeri tanpa dibarengi oleh sebuah
    IDEOLOGI PASTI

    buat saya, seorang muslim awam, relakan jiwa tuk berpisah dari raga ini adalah
    keharusan saat panggilan IDEOLOGI PASTI itu datang

    banyak sejarah terkaburkan
    org2 yg katanya nasionalis ternyata hanya seorang yg tak jelas perannya
    tapi lihat saja org yg bener2 nasionalis seperti Karto Suwiryo,Daud Bereuh, Kahar Muzakar. mereka dianggap pengkhianat.padahal siapa yg pengkhianat??

    sejarah didistorsikan dgn memunculkan nasionalis kemunafikan

    I’Love Indonesia, i’m swear,
    I’m Moslem Indonesia

  2. nah,,, ini dia boz.. kadang2 nasionalis or ga nasionalis itu tergantung warna bendera…. itu yang saya ga suka.

    padahal sekarang ini yang penting bukan hanya sekedar klaim aja… klaim nasionalis or ga itu ga penting! yang penting sekarang itu kerja nyata, buktiin kecintaan kita kepada bangsa melalui kerja nyata… jangan ampe ada orang yang ngaku nasionalis tapi ternyata kelakuannya merugikan negaranya (Ex : korupsi!) -> ah, ga usah disebutin lah ya contohnya ^_^… puluhan tahun kita dah sering ngeliat contoh yang kayak gitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s