Semakin Besar ekspektasi, Semakin Besar Kemungkinan Kecewa

Ekspektasi, yang lebih sering disebut dengan istilah harapan, menjadi kata yang sangat istimewa bagi setiap insan di dunia ini. Terlepas dari profesi yang ditekuninya, penyeru kebaikan atau provokator kejahatan, nyatanya harapan telah memberi alasan untuk bergerak. Berbekal harapan, maka raga akan dipacu untuk mewujudkan apa yang menjadi harapan tersebut, dan itulah yang kemudian kita lihat sebagai gerakan. Dan harapan itulah yang menyebabkan besar atau kecilnya gerakan yang tercipta, pengorbanan yang di keluarkan, dan energy yang dihabiskan.

Itulah dahsyatnya harapan. Kata kunci yang mampu memainkan sulap dengan anggun untuk merubah pribadi tak berdaya menjadi berdaya, pribadi lemah menjadi kuat, pribadi miskin menjadi kaya; untuk yang terakhir, paling tidak ia menjadi kaya hati dengan segala cita yang membuncah di dalam dadanya. itulah kenyataannya tentang dahsyatnya harapan, tidak perlu diturunkan menjadi rumus empiris karena itu sudah berbentuk aksioma.

Tentang harapan ini, ada satu rumus yang tidak bisa kita lupakan, bahwa harapan senantiasa berbanding lurus dengan kemungkinan kekecewaan. Artinya, semakin besar harapan terhadap sesuatu, maka akan semakin besar pula kemungkinanan terjadinya kekecewaan. Seringkali dunia ini menyuguhkan roman kehidupan manusia yang diawali dengan harapan yang besar, tapi kemudian berakhir tragis dengan kekecewaan yang membatin. Itulah hidup, dan itulah rumusnya. Setiap ada harapan, maka akan selalu tersimpan potensi untuk kecewa.

Harapan, itulah kemudian yang menjadikan seorang ibu rela bersusah payah menjaga janin di dalam rahimnya, melahirkan, lalu menyusui sang bayi. Tidak berhenti sampai di situ, sang ibu kemudian merawat buah hatinya sampai tumbuh besar. Itulah ajaibnya harapan. Harapan besar tentang generasi penerus yang mampu membawa kebaikan yang tiada bertepi, itulah yang mendorong sang ibu secara naluriah merawat buah hatinya. Maka jangan heran, ketika ada air mata yang berurai, bahkan sumpah serapah yang meluncur deras, sebagai tanda hancur leburnya perasaan, saat sang ibu menyaksikan buah hatinya bermetamorfosis menjadi anak yang durhaka.

Mungkin harapan juga yang menyebabkan pada hari ini kita bisa mengambil hikmah dari salah seorang sahabat Nabi, Ka’ab bin Malik. Berbelas abad abad yang lalu, pada saat Nabi memasuki Madinah seusai Perang Tabuk, saat itulah orang-orang munafik memasang mimik muka memelas sambil bersilat lidah agar dimaklumi karena tidak mengikuti peperangan, dan mereka semua mendapat pemakluman. Berbeda dengan Ka’ab, ia tidak mencari-cari alasan untuk menutupi kelalaiannya ketika tidak ikut berperang, ia pasrah terhadap keputusan Sang Nabi. Maka keputusan itu pun ditetapkan, seluruh penduduk Madinah dilarang bertegur sapa dengan Ka’ab. Sungguh, lima puluh hari yang menjadikan dunia terasa sempit karena tiada saudara tempat berbagi rasa, sebelum akhirnya Allah memberi keputusan pengampunan kepada Ka’ab dan juga dua orang rekannya; yang juga mukmin, tidak ikut berperang, dan harus menanggung hukuman yang sama seperti Ka’ab.

Masih tentang Ka’ab, mungkin kita bertanya mengapa mukmin seperti Ka’ab harus dihukum karena kejujurannya, sementara orang munafik dimaklumi karena kemunafikannya? Untuk itu, jangan lupa dengan rumus yang telah diungkapkan di atas, bahwa harapan senantiasa berbanding lurus dengan kemungkinan kecewa. Ka’ab bin Malik adalah seorang sahabat yang telah lama bersama Nabi. Ka’ab adalah seorang mukmin yang lurus. Maka ketika ia tidak ikut berperang karena kelalaliannya, itulah yang mendorong dijatuhkannya hukuman atasnya. Orang munafik memang tidak bisa diharapkan, tapi seorang mukmin seperti Ka’ab, jelaslah bahwa ia sangat diharapkan partisipasinya. Sahabat yang telah lama tertarbiyah, maka tidak ada pemakluman atas kelalaian yang sepele.

Ya, itulah rumus sederhana tentang harapan dan kemungkinan kekecewaan. Jika Anda hanya mengharapkan nilai lima, maka anda tidak akan terlalu kecewa ketika mendapatkan nilai empat. Tapi Anda akan kecewa mendapatkan nilai enam, ketika yang Anda harapkan adalah nilai sepuluh.

Rumus itu juga mungkin yang menyebabkan seorang pemimpin mengungkapkan ketidaksenangannya terhadap ketidakhadiran stafnya pada suatu acara atau rapat. Seorang pemimpin mungkin bisa memaklumi ketidakhadiran staf lainnya, tapi nyatanya begitu sulit untuk memaklumi ketidakhadiran seorang staf yang sangat diharapkan kehadirannya, dipercaya karena kapasitas dan kapabilitasnya.

Ah, ternyata begitulah adanya… ketika harapan itu begitu besar, maka bersiaplah untuk menghadapi kemungkinan kekecewaan yang juga besar. Silahkan berharap, tapi jangan lupa tentang kemungkinan kekecewaan itu. Ini bukan tentang intimidasi harapan, tapi ini tentang langkah antisipasi. Selamat berharap saudaraku…

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Dedi Setiawan, 2 Mei 2008, 23.00 WIB @ Villatel Putra, Bandung
Motivasi dan inspirasi menulis :
ð Beberapa kejadian di minggu ini yang membuat saya menyisihkan waktu lebih lama untuk merenung, melihat ke dalam diri saya sendiri.
ð Gejolak perfeksionis yang kadangkala menyapa di beberapa kegiatan, menjadi sedikit over confident rasanya, lengkap dengan sifat otoriternya
ð Sirah Nabawiyah-nya Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury

3 thoughts on “Semakin Besar ekspektasi, Semakin Besar Kemungkinan Kecewa

  1. yup, hanya kematian yang jadi batas antara mimpi, harapan dan kenyataan.

    maka, teruslah berjuang kawan. karena kita tak pernah tau di batas mana Allah SWT akan memanggil kita. Semoga pada saat yang sama Allah SWT memanggil kita kelak, telah kita sempurnakan ekspektasi Allah SWT dalam diri kita: Insan Kamil, Muslim paripurna.

    salamhangat.
    berbagi cerita..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s