Satu Kata Untuk Ahmadiyah, Bubarkan!!!

Carut marut “Insiden Monas” ternyata meninggalkan banyak PR untuk diselesaikan. Mulai dari penyerahan diri panglima Komando Laskar Islam, Munarman, penangkapan Ketua FPI, Habib Rizieq, sampai dengan (rencana) pengusutan siapa provokator di pihak AKKBB yang bertanggung jawab terhadap insiden tersebut.

Tapi saat ini saya sedang tidak mau menganalisis tentang PR-PR itu, saya ingin konsentrasi ke pembahasan Ahmadiyah saja. Tulisan kali ini bermula dari komentar di tulisan saya yang berjudul ”Kenaikan Harga BBM, Pembubaran Ahmadiyah, AKKBB Vs KLI… Ah, Hebatnya Media Membentuk Opini

Ok kita mulai ya. Siap? yak!

Bermula dari pendapat mbak ”reni” :

” Kenabian Mirza Ghulam Ahmad yang dimaksud oleh kaum Ahmadiyah adalah kenabian yang telah diisyaratkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai Isa akhir jaman dan Imam Mahdi (laa mahdiyya illa Isa), jadi bukan kenabian yang berdiri sendiri, atau dalam istilahnya Gus Dur; rasulli fii rasulillah atau rasulnya rasul.
Gak perlulah kita menganggap mereka sesat, ingat pesan Allah SWT didalam Al-Qur’an berikut: ” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. – Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih had. (QS. al Baqarah: 277).

Paham kenabian pasca Muhammad saw, yang dianut oleh Ahmadiyah, boleh saja diperdebatkan atau tidak disetujui. Tetapi perdebatan itu terlalu jauh dari yang utama, karena yang paling mendasar dalam keberimanan adalah pengakuan tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah. Ahmadiyah bukan saja tidak lari dari prinsip tersebut, tetapi banyak beramal untuk membina ketauhidan itu.

Amal shaleh Ahmadiyah telah terbukti banyak memperluas pengaruh Islam di daratan Eropa. Sehingga suara adzan telah menembus masyarakat yang terkenal sekuler dan modern. Tidak terhitung berapa banyak orang-orang yang berkehidupan sekuler dan modern di barat yang terpanggil masuk Islam. Masjid-masjid didirikan di sejumlah kota, dan buku-buku tuntunan Islam pun disebar dalam berbagai bahasa. Dan mereka yang masuk Islam berkat dakwah Ahmadiyah bukanlah Muslim yang bersaksi Mirza sebagai rasulullah menggantikan Muhammad, melainkan mereka yang bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah. Bukankah itu suatu amal shaleh yang memang melekat dengan keberimanannya?

Marilah kita jujur dalam menilai Ahmadiyah. Terhadap sesuatu yang berbeda atau menganggap “sesat” sekalipun sejauh disertai dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, silahkan. Namun tidak tepat, kalau ketidaksukaan atau ketidaksesuai paham, kemudian menutup kebaikan yang telah dilakukan oleh Ahmadiyah. Tuhan mengingatkan: Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. ( Al Maidah: 8).

Klaim kenabian atas Mirza Ghulam Ahmad boleh diperdebatkan. tetapi bisakah dijelaskan bahwa Mirza terbukti hendak menggelincirkan iman para pengikutnya, atau membelokkan persaksian atas diri Muhammad sebagai Rasul, atau membelokkan pengikutnya untuk lari dari al Qur’an?”

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada mbak reni sudah mengutip Al-Qur’an surat Al-Baqarah 277, sehingga mengingatkan kita semua untuk menjadi orang yang beriman dan beramal saleh. Ok, back to topic, kalau saya membaca komentar mbak reni, itu adalah komentar yang sangat permisif tentang adanya pendapat yang menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi. Saya tidak setuju dengan logika yang dibangun oleh mbak ”reni”. Dan saya tidak mau berpanjang lebar menghabiskan energi untuk membantah logika dengan logika, karena itu saya mengutip Surat Al-ahzab ayat 40 yang berbunyi :

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Walaupun di surat itu sudah ditulis dengan jelas bahwa Rasulullah adalah penutup para Nabi, tapi saya tetap ingin mengutip tafsir Ibnu Katsir tentang ayat tersebut untuk memperjelas maksud dari ayat tersebut, berikut ini isi tafsirnya :

Ayat ini merupakan nash yang menunjukkan tidak adanya nabi setelah Nabi Mohammad saw. Jika tidak ada Nabi setelah beliau saw, lebih-lebih lagi seorang Rasul. Sebab, kedudukan risalah (menyampaikan risalah) lebih khusus daripada kedudukan nubuwwah (kenabian). Pasalnya, setiap Rasul adalah nabi, tidak sebaliknya. Oleh karena itu, masalah ini telah disebutkan oleh hadits-hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh mayoritas shahabat dari Nabi saw. Imam Ahmad menuturkan dari Thufail bin Ubay bin Ka’ab dari bapaknya, dari Nabi saw, bahwasanya Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya, perumpamaan diriku dibandingkan para nabi terdahulu, seperti halnya seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, lalu ia memperbagus dan menyempurnakan rumah tersebut. Akan tetapi, ia melupakan sebuah lubang sebesar batu bata, dan tidak ditutupnya dengan batu bata. Lalu, orang-orang berjalan mengelilingi rumah itu. Tetapi mereka heran dan berkata, “Seandainya lubang ini bisa ditutup dengan batu bata, niscaya ia akan sempurna?. Dan perumpamaan diriku dibandingkan para nabi terdahulu, seperti halnya lubang batu bata itu”.[?HR. Imam Ahmad]..Imam Ahmad juga meriwayatkan sebuah hadits, dari Anas bin Malik, bahwasanya Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya, risalah dan nubuwwah telah terputus. Tidak akan ada rasul dan nabi setelahku..”[HR.Imam Ahmad]

Jadi, untuk seluruh umat Islam, siapapun yang mengajarkan bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad SAW, walaupun ia tetap mengajarkan solat, maka ajaran seperti itu wajib kita tolak, karena itu adalah ajaran yang sesat dan berusaha untuk menyesatkan orang lain. Pendapat yang menyatakan bahwa ada nabi setelah Nabi Muhammad adalah pendapat yang menentang Firman Allah dalam Surat Al-Ahzab(40).

Lho, bukankah di tulisan mbak reni, Mirza Ghulam Ahmad itu dianggap sebagai Al-Masih ? Nah, untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya ingin mengutip comment dari Mas Gagah di tulisan yang sama. Supaya hemat energi ^_^. Terima kasih untuk ”Mas Gagah” . . .

Ini pendapatnya “Mas Gagah” :

@reni

Saya menemukan paling tidak 3 kesalahan dalam paragraf pertama reni

Kesalahan pertama:
Kalimat “laa mahdiyya illa Isa” (Tidak ada mahdi selain ‘Isa) yang dikutip oleh reni sesungguhnya adalah potongan dari hadits berikut:
“Tidaklah bertambah urusan melainkan semakin sulit, dunia semakin rusak. manusia semakin bakhil; dan tidaklah datang kiamat melainkan atas manusia yang paling jelek. dan tidak ada Al-Mahdi kecuali Isa bin Maryam.” [Sunan Ibnu Majah 2: 1341.dan Mustadrak Al-Hakim 4: 441-442]

Bagaimana derajat hadits ini menurut para ‘ulama’?

Hadits ini adalah dha’if karena dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Muhammad bin Khalid Al-Jundi. Mengenai Muhammad ini Adz-Dzahabi mengatakan “Al-Azdi berkata mungkar haditsnya.” dan Abu Abdillah Al-hakim berkkata, ”majhul.” Dan saya sendiri –Adz-Dzahabi- mengatakan bahwa
haditsnya yang berbunyi Laa Mahdiyya Illaa Isa 1bnu maryam (Tidak ada Mahdi kecuali Isa Ibnu Maryam) merupakan khabar mungkar yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.” [Mizanul I’tidal 3: 535].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,”Hadits ini dha’if Abu Muhammad bin Al-walid Al-Baghdadi dan lain-lainnya berpegang pada hadits ini, padahal dia tidak dapat dijadikan pegangan. Dan hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Yunus dari Asy- Syafi’i, dan Asy-Syafi’i
meriwayatkan dari seorang laki-laki penduduk Yaman yang bernama Muhammad bin Khalid Al-Jundi, yang dia ini tidak dapat dijadikan hujjah, dan hadits ini tidak terdapat di dalam Musnad Asy-Syafi’i. Dan ada yang mengatakan bahwa Asy-Syafi’i tidak mendengarnya dari Al-Jundi dan Yunus
tidak mendengarnya dari Asy-Syafi’i.” [Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah 4: 211]

Mengenai Muhammad bin Khalid Al-Jundi ini Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dia majhul (tidak dikenal).” [Taqribut Tahdzib 2: 157]

Ringkas kata, hadits itu adalah dhaif menurut para ahlinya (’ulama’), dan hadits dhaif tidak boleh digunakan sebagai dalil. Itu dia kesalahan pertama reni: menggunakan hadits dhaif sebagai dalil dalam masalah ini.

Kesalahan kedua:
Kalaupun hadits itu shahih sehingga reni berhak menggunakannya sebagai dalil, ia masih bermasalah dengan sesuatu yang sangat jelas. Sesuatu yang sangat jelas itu adalah bahwa MIRZA GHULAM AHMAD JELAS BUKAN ‘ISA BIN MARYAM. Pertama, Mirza ghulam Ahmad sendiri tidak pernah mengaku sebagai ‘Isa bin Maryam; Kedua, kalaupun Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai ‘Isa bin Maryam, ia tidak memiliki bukti pendukung apapun: ia tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ‘Isa bin Maryam ketika beliau turun kembali ke dunia.

Memangnya apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang ‘Isa bin Maryam ketika beliau turun kembali ke dunia? Silakan baca hadits ini.

“Ketika Allah telah mengutus al-Masih Ibnu Maryam, maka turunlah ia di menara putih di sebelah timur Damsyiq dengan mengenakan dua buah pakaian yang dicelup dengan waras dan za ‘faran, dan kedua telapak tangannya diletakkannya di sayap dua Malaikat; bila ia menundukkan kepala maka menurunlah
rambutnya, dan jika diangkatnya kelihatan landai seperti mutiara. Maka tidak ada orang kafirpun yang mencium nafasnya kecuali pasti meninggal dunia, padahal nafasnya itu sejauh mata memandang. Lalu Isa mencari Dajjal hingga menjumpainya di pintu Lodd, lantas dibunuhnya Dajjal. Kemudian Isa datang kepada suatu kaum yang telah dilindungi oleh Allah dari Dajjal, lalu Isa mengusap wajah mereka dan memberi tahu mereka tentang
derajat mereka di surga.” [Shahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Asyrothis Sa ‘ah, Bab DzikrAd-Dajjal 18: 67-68].

Adapun Mirza Ghulam Ahmad, siapakah orang itu? Ia hidup di India atau Pakistan, bukan turun di menara putih di sebelah timur Damsyiq. Kehadirannya tidak membuat semua
orang kafir yang mencium nafasnya menjadi meninggal dunia. Ia juga jelas tidak pernah membunuh dajjal. Lalu bagaimana bisa reni mengidentikkan Mirza Ghulam Ahmad
dengan ‘Isa bin Maryam??

Itu kesalahan kedua reni.

Kesalahan ketiga:
Karena golongan Ahmadiyah meyakini Mirza Ghulam Ahmad adalah seorang nabi dan Mirza Ghulam Ahmad jelas bukan nabi ‘Isa bin Maryam, maka pembelaan reni terhadap
keyakinan tersebut adalah pembelaannya terhadap keyakinan adanya nabi setelah Muhammad shallallhu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Padahal hal itu jelas-jelas
bertentangan salah satu pokok aqidah dalam Islam yang telah disepakati dan tidak perlu diperdebatkan lagi, yakni keyakinan tidak
adanya nabi lagi setelah Muhammad shallallhu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam. Maka inilah kesalahan ketiga reni.

Well, itulah tadi paling tidak 3 kesalahan yang alhamdulillah langsung bisa saya temukan dalam paragraf pertama reni. Sebetulnya masih ada beberapa kesalahan
yang lain lagi sih di paragraf ini, tapi 3 ini juga mudah-mudahan sudah cukup untuk membantu kita mengenali mana yang benar dan mana yang tersesat. Dan itu juga, kita baru juga mengkritisi paragraf pertamanya saja. Tentu saja, sebetulnya masih ada 5 paragraf lagi yang menyimpan lebih banyak kesalahan.

Wallahu a’lam bishshawab.

Nah, selesai sudah. Ketika Ahmadiyah teteup kekeuh mengaku beragama islam dengan pemahaman seperti itu, maka hanya satu kata untuk Ahmadiyah, yaitu BUBARKAN!!!

Dedi Setiawan @ Artificial Intelligence Laboratory IT Telkom
============================================================
Motivasi dan inspirasi menulis :
– Pendapat Mbak reni yang saya quote
– Pendapat Mas Gagah yang juga saya quote
http://www.ikhwan-interaktif.com/islam/cetak.php?id=2569
situs al-ikhwan
situs HTI

4 thoughts on “Satu Kata Untuk Ahmadiyah, Bubarkan!!!

  1. setujuuuu:).selalu bersembunyi di balik kebebasan beragama!padahal penistaan beragama. selalu meminta untuk berdialog,tapi bukan untuk mencari yang mana yang benar tapi untuk saling memahami satu sama lain.bubarkaan!!🙂

  2. aslmkm,
    wah… kang dhedhi ini ngebahas ahmadiyah juga toh…

    ^_^ bubarkan…. !

    kita mah warga muslim setuju, Tapi pemerintah kadang2 lebih mementingkan motif lain dibanding kepentingan agama.. !_!

  3. Tidak seperti itu ikhwan sekalian.
    Seyakin yakinnya kita terhadap keyakinan kita, dan setidak yakin yakinnya terhadap keyakinan orang lain, tidak ada pembenaran untuk mamaksakan orang lain. Kewajiban kita adalah menyampaikan yang benar. Mengenai hasil kita serahkan kepada Allah. Saya bukan penganut Ahmadiyah, namun saya bisa memahami pikiran mereka. Mereka juga meyakini hal yang sama, untuk menyampaiakn apa yang menurut meraka benar, dan tidak memaksakan islam non ahmadiyah untuk masuk ke ahmadiyah. Biarlah proses pengaruh mempengaruhi berjalan secara natural dan fair. Kita yakin bahwa Allah akan memenangkan yang memang pantas untuk memang.
    Abah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s