Tetap Positif di Kala Sensitif

“ih, ngapain sih lu deket-deket gw?! Jauh-jauh sana!”
“Oii ! santai aja kaleeee, udah napas bau pete’, ga usah pake sipe’ !”.

Mungkin dialog sejenis itu sudah sering kita dengar di percakapan sehari-hari. Dialog di saat sensitif, atau sekarang sering diplesetkan menjadi sensipe’, sensi, atau yang lebih singkatnya lagi adalah sipe’, seringkali membuahkan kalimat-kalimat garang nan menusuk hati, membuat sakit hati, bahkan meninggalkan dendam di hati. Beberapa kasus, bahkan berakhir dengan tidak enak hati, malahan ada yang sampai mati. Nah lho, makanya hati-hati….

Lidah memang tak bertulang. Terkadang kita bicara seenaknya, berargumen sekenanya, lalu berakting semaunya. Terkadang suatu masalah kecil malah dibesar-besarkan, hingga mengakibatkan reaksi yang berlebihan. Terkadang juga masalah mudah sengaja dipersulit, padahal kita diajarkan suatu doa, Allahumma yassirna wa laa tuassirna, Ya Allah, permudah, jangan persulit.

Kalau kita masih sering reaktif di saat sensitif, mungkin kita harus berkaca pada kisah Nabi kita, Muhammad SAW, saat menghadapi sang istri tercinta yang sedang cemburu. Bayangkan, betapa malu seorang suami, ketika hendak menjamu tamu, tiba-tiba sang istri terbakar api cemburu karena masakan yang akan dihidangkan bukanlah masakannya. Lalu dibantinglah makanan yang akan dihidangkan itu oleh sang istri.

( >>>> Tiiiingggg…. Diam sejenak,,,, bayangkan apa yang akan anda lakukan jika Anda seorang suami, dan mengalami hal seperti itu? Apakah akan ada susulan piring terbang-piring terbang yang lain? ^_^
Ok, udah cukup ngebayanginnya, kita lanjut lagi ya <<<< )


Rasulullah memang beda, pancaran kasih sayang tampak jelas di raut wajah mulianya, kedewasaan senantiasa menyertai tindak tanduknya, maka kisah tersebut ditutup dengan kalimat sederhana penuh pemakluman, “sesungguhnya ibu kalian sedang cemburu…”. Ya, dengan kalimat sesederhana itu, beliau menjelaskan kepada para tamunya tentang sikap cemburu ibu para mukminin itu.

Jangan salahkan siapa-siapa jika Anda bersikap reaktif, lalu menyesal ketika Anda sadar bahwa Anda telah salah langkah. Jangan seperti Jenghis Khan, panglima perang terkenal dari Mongolia, yang dalam setiap pertempuran senantiasa membawa hewan peliharaannya, seekor rajawali.

Di akhir sebuah pertempuran, Jenghis Khan pun memutuskan untuk beristirahat di sebuah tepian air terjun. Tak lama kemudian, haus datang melanda, Sang panglima pun memutuskan untuk mengambil minum dari tepian air terjun di dekatnya. Ketika mau mengambil air, tiba-tiba rajawali peliharaannya menyambar tempat minum sang panglima, terpentallah tempat minum tersebut. Kejadian tersebut terus berulang hingga tiga kali.

( >>>> Tiiiingggg…. Diam sejenak,,,,Anda ingin membayangkan kisah tersebut ?
Oh tidak, saya tidak meminta anda untuk membayangkan kisah tersebut, karena akan aneh rasanya jika anda membayangkan kuliah atau sekolah sambil membawa seekor rajawali. Saya hanya ingin Anda istirahat sejenak. Ok, sudah siap? Yuk mulai lagi ^_^ <<<<)

Sang panglima pun murka, jiwa raganya dipenuhi emosi yang membuncah, diambilnya pedang perangnya, lalu ditebaskannya ke rajawalinya. Tragis. Kepala terpisah dari badannya, begitulah akhir hidup si rajawali. Rajawali pun mati di tangan sang tuan.

Jenghis Khan beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut, menuju ke mata air. Ketika sampai di mata air, ia menemukan bangkai hewan yang telah membusuk, menjijikkan. Dengan serta merta, sadarlah ia bahwa pada saat menyambar tempat minumnya, sebenarnya rajawali peliharaannya itu sedang memberitahukan bahwa air di tempat tersebut telah tercemar oleh bangkai. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Berkabung, sedih, dan menyesal, mungkin itulah yang dirasakan oleh Jenghis Khan, rajawali setianya, kini telah mati di tangannya sendiri.

Ok, guys… jangan terpancing oleh perasaan sensitif yang negatif. Bagaimanapun kondisi Anda, berusahalah untuk senantiasa menghadirkan sikap positif. Se-jutek dan se-sensi apapun Anda, mulai saat ini, berubahlah! Tebarkan nilai-nilai positif di muka bumi. Salam ^_^

Dedi Setiawan @ 15 Juni 2008, 22.40 WIB
Istana Inspirasi (Villatel Putra 105, dari kamar inilah masyarakat akan lebih berdaya)
= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =
Motivasi dan ispirasi menulis :
– Dialog pada saat makan malam dengan “Duo Makasar Double Ikhsan”
– “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan”-nya Salim A. Fillah
– “Setengah Isi Setengah Kosong”-nya Parlindungan Marpaung
– Dialog via HaPe dengan saudari seperjuangan pada saat laporan pertanggungjawaban suatu organisasi kampus. Walaupun tidak begitu kenal (saya cuma tau nama panggilan, tidak lebih), tapi saya salut, begitu lancarnya lugasnya beliau ngomel-ngomel, ops, salah hehehe, maksud saya menasehati tentang “jaga image”. Terima kasih, semoga Allah membalasnya dengan balasan yang baik. Aamiin.
– Kak Gelar Budiman dengan segala macam kecerdasan, ketabahan, dan doanya. Gimana kabarnya Ginand kak…? Udah besar kayaknya ya ^_^

4 thoughts on “Tetap Positif di Kala Sensitif

  1. hahaha, kasihan dhedhi ga bisa comment ke orang yang punya account multiply, itulah kerennya MP punya killer application, yg mw komentar harus punya juga.

    Makanya bikin lebih dari satu ded, udah banyak yg pake MP lho..

  2. Asalamualaikooomm…
    dedi, mampir nih. hehehe..
    wah, tulisan lo. merangkai katanya aduhai sekali. berat berat lagi topiknya. :p
    butuh suasana hati dan waktu khusus nih baca tulisan lo.
    iya ded, gw jg sering keceplosan nih. need self control.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s