Ketika Ramainya Pesan Hidup, Tak Jua Melahirkan Kearifan

Apa sebenarnya yang tak bisa dipetik oleh orang-orang yang setiap hari menyaksikan banyak kejadian dalam hidup dan kehidupannya? Setiap hari kita dijejali dengan berbagai kisah kehidupan, ntah itu sedih ataupun senang. Setiap hari juga kita menonton tayangan kehidupan antar manusia, ntah hina ataupun bersahaja. Setiap hari yang terdiri dari rajutan waktu, yang kita bongkar lembar demi lembar untuk mengurai problematika yang ada. Mungkin bukan karena tak ada bisa dipetik dari rentetan kejadian itu, tapi jangan-jangan karena kita enggan untuk memetiknya, sehingga hikmah hilang begitu saja, melangkah jauh, hilang tak berbekas…

Ada bangsa kera, yang terkenal dengan kedunguan dan kelicikannya, pernah hidup di bumi ini. Tidak tanggung-tanggung, seorang Musa, seorang Yusuf dan seorang Isa pun pernah diutus untuk memperbaiki tingkah polah kehidupan mereka, sayang sikapnya tak berubah, malah makin menambah-nambah. Sayang sekali, mukjizat di balas dengan kedunguan hati yang hitam pekat. Perintah untuk memasuki Bumi Suci yang dijanjikan mereka tolak dengan dengan hati pengecut meminta dispensasi, “Ya Musa, engkau berperang berdua saja dengan Tuhanmu”. Padahal sesaat sebelum itu, bangsa kera itu telah menyaksikan bagaimana Laut Merah terbelah dan Fir’aun tenggelam di dalamnya. Maka apa lagi yang mereka ragukan? Bahwa bersama Musa dan Tuhannya, mereka akan hidup makmur penuh kedamaian berdiam di Bumi Suci yang dijanjikan. Ah, andai mereka berfikir, mereka tidak perlu dihukum tersesat selama 40 tahun di Padang Tih.

Belakangan ini kita juga disuguhkan berita tentang ulah anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) RI yang melakukan tindak asusila terhadap sekretarisnya. Terlepas dari mencuatnya berita tersebut adalah karena alasan politis atau tidak, tapi nyatanya kita disuguhkan drama percintaan yang salah alamat. Cinta, mungkin itu adalah ungkapan kesenangan di dalam hati, gairah ketertarikan yang terekam oleh mata dan gelora kenikmatan yang berdiam di sanubari. Tidak ada yang salah dengan cinta. Mencintai dan dicintai itu tidak salah, tapi harus tetap dalam koridor yang sah. Ah, tidak tahukah mereka, jika di gedung dewan yang terhormat saja terjadi skandal seperti itu, apalagi di pinggir-pinggir perumahan kumuh rakyatnya. maka jangan terlalu heran, dipinggiran negeri ini, telah menjamur warung “remang-remang”, lengkap dengan mucikari, wanita penghibur, dan lelaki hidung belangnya. Sudahlah, jangan lanjutkan pembahasan ini sampai ke kota-kota besar, bisa makin pilu hati ini….

Ntah lah, ada begitu banyak kejadian dalam hidup ini, seharusnya ada beribu hikmah yang bisa dipetik, lalu disebar sebagai bibit kearifan, hingga akhirnya mampu menumbuhkan berjuta pohon kebaikan. Kalau tidak ada hikmah yang bisa dipetik, mungkin selama ini kita hanya melihat kejadian berdasarkan fenomena. Sudah saatnya kita kita ubah cara pandang kita, jangan lihat hidup dari fenomena, lihatlah dari hakikat. Jika masih belum berhasil juga, mungkin hati kita yang telah gersang, kekeringan menunggu mati. Jangan sampai itu berlarut-larut, berdoalah. Ya, ketika ramainya pesan hidup tak jua melahirkan kearifan, maka berdoalah…. Ya Tuhan kami, bukakan pintu hati kami…

Dedi Setiawan, 27 Juni 2008, 17.30 WIB

@ Rumah di Lampung, Never Ending Motivation Center ^_^

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Motivasi dan inspirasi menulis :

–   Majalah Tarbawi edisi 182 Th. 10

–   Bercermin di Telaga Cinta Sang Guru, oleh Tim Redaksi Tarbawi Press

–   Kisah Bani Israil yang dikutuk menjadi kera dan dihukum tersesat di Padang Tih selama 40 tahun

–   Skandal anggota DPR RI dari fraksi partai berlambang Banteng Bermoncong Putih. Ah, ternyata warna rambut yang seputih moncong banteng tersebut tidak memberi efek apa-apa kepada beliau.

–   Ya Rabb, beri kami semua hidayah-Mu dan beri kami kekuatan untuk tetap berada di jalan-Mu.

–   Gambar diambil dari : http://anugerahfashion.blogspot.com/2007_12_01_archive.html

4 thoughts on “Ketika Ramainya Pesan Hidup, Tak Jua Melahirkan Kearifan

  1. Semoga kita diberi kemampuan menangkap hikmah dari setiap kejadian, permasalahan yang ada, amien. D) Semoga niat untuk membaharui, berbenah diri tuk menjadi lebih baik selalu ada amien…
    Benah diri, mulai dari diri sendiri, bila kuasa, segera tularkan ke sesama….:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s