Bercermin di Telaga Cinta Sang Guru

Seperti hari-hari belakangan ini, saya selalu membeli buku secara tidak sengaja. Lho, kok bisa? Iya, soalnya pas maen ke toko buku, niatnya cuma untuk liat-liat aja, liat aja kan ga beli hehehe…. ga ding becanda, ya klo ada buku yang minat, ya dibeli lah ^_^

Satu per satu buku yang dipajang di dinding udah diliat, dibaca judulnya, diliat pengarangnya, kayaknya ga ada yang cocok dibeli deh. Tenang,,, tenang,,, bukan karena ga cocok ama minat, tapi ga cocok ama kantong hohohoho ^_^

Akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi,,, nih mata kayaknya ga ikhlas klo ga liat-liat buku yang di etalase. Akhirnya dipaksain deh ngeliat-liat buku yang di etalase, walaupun harus sambil jongkok, nungging, n’ miring-miringin badan (agak tengsin juga sih hehehe, tapi ga pa2 ah). Yaaah, teteup ga ada juga yang mau dibeli. Pas ngeliat ke luar toko, Si Echie (adik saya), udah ngeliatin aja, seolah menyampaikan pesan “Buruan tau! Dah lama nieee”. Tapi tunggu,,,,di pojokan etalase, ada judul yang ngebuat mata saya berbinar…. ^_^

Ya Allah, ini keberuntungan yang keberapa dalam membeli bahan bacaan. Edisi khusus suatu majalah yang setahunan ini saya cari ke toko buku, saya kejar ke penyalur resminya, dan harus berakhir dengan kecewa karena ternyata edisi itu udah ga bersisa dan ga diterbitin lagi. Ternyata hari ini saya melihat judul yang sama dalam bentuk buku. Fantastis! Berikut ini saya resensikan untuk Anda…..

Siap? Tunggu dulu…. bernasyid sebentar yukz ^_^, mari kita buka dengan basmalah

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Buku setebal 138 halaman yang diterbitkan Tarbawi Press pada Juni 2007 ini, berjudul “Bercermin di Telaga Cinta Sang Guru“. Di sampul depannya ada foto bersahaja seorang tua dengan tatapan lembut, namun sinar matanya tetap tajam, itulah “sang guru”, KH Rahmat Abdullah.

Bab pertama buku ini berjudul “Telaga Keyakinan dalam Pilar-Pilar Asasiyat“. Dibawah judul itu, tertulis untaian kata yang diambil dari tulisan “sang guru” di kolom Asasiyat Tarbawi edisi 51, begini isinya, “diperlukan suatu hentakan yakin yang akan melahirkan keberanian, keteguhan, dan kesabaran, tertolak dari jaminan yang tak pernah lapuk”. Tulisan ini membawa ingatan saya pada Bilal bin Rabah, seorang mantan budak dari Habsyi. Mungkin karena sesuatu yang disebut dengan “keyakinan” itulah, sang muadzin Rasul itu tahan dipanggang di bawah teriknya padang pasir, lalu sosok lemah itu masih dengan tegar berucap “ahad,,, ahad,,,“.

Bab ini berisi ringkasan pemikiran Ustadz Rahmat, sapaan untuk KH Rahmat Abdullah, yang pernah dimuat di kolom Asasiyat Tarbawi, sehingga tidak heran jika di bab ini kita menemukan banyak kutipan-kutipan tulisan beliau. Jika Anda merupakan tipe orang yang butuh konsentrasi saat membaca, saya sarankan pilihlah tempat yang tenang agar Anda bisa mengerti dan menikmati isinya.

Bab kedua berjudul Denyut Nadinya adalah Denyut Dakwahnya“. Di bawah judul besar itu, ada kalimat yang menyentil para da’i, begini tulisannya, “Bila da’i-nya bermental ayam negeri yang tak tahan angin, mudah kena sampar, dan mengandalkan jatah makanan olahan, maka kiamat dakwah sudah terdengar serunainya”.

Bab ini berisi tentang perjalanan dakwah Ustadz Rahmat. Dimulai dari Kiprah Dakwah Ustadz Rahmat Muda sebagai aktivis KAPPI dan KAMI angkatan ‘66, lalu dilanjutkan dengan Cara Pandang Terbalik yang bisa dijadikan kontrol terhadap laju dakwah. Bab ini ditutup dengan Kegelisahan-kegelisahan Sang Guru, berisi tentang kegelisahan beliau terhadap rutinitas dan kesibukan kader dakwah yang kian menumpulkan mata hati dan menimbulkan kejenuhan.

Judul bab ketiga dalam buku ini begitu indah, “Ketika Bulir-bulir Cinta itu Jatuh Masuk ke Relung Hati“. Di bawah judul ini, kita bisa membaca pesan Ustadz Rahmat, begini isinya, “Di dhuha ini, cahaya mulai terang dan kabut-kabut beringsut menjauhi objek pandang. Perjalanan belum sampai di garis finish. Bila dakwah makin merebak dan komitmen utuh, insya Allah tidak ada masalah yang tak selesai.”

Bab ini dimulai dengan kenangan Mushtafa Kamal, seorang tokoh pemuda yang turut berperan dalam menggulirkan reformasi di negeri ini. lalu dilanjutkan dengan penggambaran beliau sebagai sosok orang tua yang merangkul. Secara keseluruhan, bab ini berusaha menggambarkan energi cinta yang dimiliki oleh Ustadz Rahmat, dan kesan itulah yang membekas pada orang-orang yang pernah berinteraksi dengan dirinya.

Penafsir Sejarah dan Budayawan Merdeka“, begitulah judul bab keempat. Diawali dengan tulisan Ustadz Rahmat yang berjudul “Bandung-Washington-Gaza, Dialog Imajiner Antar Tiga Tokoh Sejarah”. Lalu pembahasan dilanjutkan dengan penggambaran sosok da’i yang mencintai budaya.

Bab selanjutnya berisi tentang wawancara antara Tarbawi dan DR Hidayat Nur Wahid, MA (Ketua MPR RI, 2004-2009).”Ia Penjaga Asholah yang Tidak Membuat Partai Jadi Kerdil“, begitu kesan yang digambarkan, sekaligus menjadi judul dari bab ini. Hasil wawancara yang berjumlah 13 halaman ini juga dilengkapi dengan dua buah foto “sang guru” saat beraktivitas, termasuk foto saat aksi solidaritas untuk rakyat Palestina.

Buku ini dilanjutkan dengan Sebuah Kesaksian“. Isinya merupakan kata-kata Ustadz Hilmi Aminudin yang disampaikan pada saat pemakaman jenazah Ustadz Rahmat. Ah, betapa pilu kesedihan ini, pastilah banyak air mata berderai saat itu, seiring dengan hujan yang mengguyur makammu wahai ustadz.

Politikus kenamaan, Anis Matta, pun turut menyumbang satu bab yang berjudul, “Rahmat Abdullah, Simbol Spiritualisme Dakwah Kita“. Anis Matta memulainya dengan kenangan saat pertemuan pertama dalam suatu dauroh di daerah puncak. Lalu ditutup dengan paragraf yang cukup menyentuh, “Rahmat Abdulla telah pergi merengkuh takdir sejarahnya justru ketika dakwah ini sedang memasuki babak baru dengan tantangan-tantangan baru. Menghabiskan seluruh usia produktifnya dalam perjuangan dakwah, Rahmat Abdullah telah meninggalkan ruang kosong yang besar: simbol spiritualisme dakwah kita yang selalu menghadirkan cinta dalam semua kerja dakwah. Para pecinta adalah pemilik ruh yang lembut. Rahmat Abdullah adalah ruh yang lembut: lembut seluruh hidupnya, lembut cara perginya“, begitu tulisnya.

Teman Bercanda itu Telah Tiada“, begitu kenang sahabat karib Ustadz Rahmat, Abu Ridho. Isnya menggambaran sosok Ustadz Rahmat yang ternyata suka bercanda. Bahkan candanya itu kerap kali bisa meredam konflik. Luar biasa….

Bab selanjutnya dari buku ini adalah “KH. Rahmat Abdullah dari Kuningan Sampai Bekasi“. Berisi tentang kisah hidup “sang guru”, mulai dari menjadi anak yatim, menjadi murid kesayangan KH. Abdullah Syafi’i, kecintaan kepada ajaran Islam, menikah di bulan Ramadhan, bergabung dengan harokah islamiyah, berjuang lewat parlemen yang tergabung dalam Komisi III DPR RI periode 2004-2009, sampai dengan akhir hayatnya kala maut menjemput sesaat setelah mengambil wudhu untuk menunaikan solat maghrib.

Semoga Anak-anak Bisa Menggantikan Abinya“, begitulah kira-kira harapan Sumarni, istri Ustadz Rahmat. Bab ini berisi kenangan istri bersama suami tercintanya. Mulai dari kemesraan yang menghias rumah tangga, sampai dengan kebiasaan-kebiasaan Ustadz Rahmat. Bahkan dialog yang belakangan ini bisa kita lihat di trailer film “Sang Murabbi”, bisa juga ditemukan di sini. “Kalau habis, berarti rejeki mau datang lagi, begitu biasanya kata Ustadz Rahmat kalau sedang tidak punya duit.

Selanjutnya adalah “Kenangan Seorang Adik“, Ahmad Nawawy, adik Ustadz Rahmat. Berisi surat-surat sang kakak kepada adiknya. Menggambarkan perjungan seorang kakak untuk membuat adiknya kembali ke jalan yang benar, alhamdulillah berhasil. Selanjutnya adalah kenangan sopir pribadinya, Syarif Hidayat, tulisan ini berjudul “Ustadz Penyemangat Hidup Saya. Cita-cita Ustadz Rahmat yang dilukiskan oleh seorang muridnya, Mahfudz Abdurrahman, dilukiskan dalam judul “Ingin Tinggal di Pesantren Tahfizul Qur’an“. Buku ini ditutup dengan “Humor-humor Ustadz Rahmat Abdullah“. Di bab terakhir ini, kita akan diajak untuk membaca beberapa humor “sang guru”, salah satunya adala humornya bersama istrinya, yaitu tentang gelar “MM.”, ketika ditanya MM itu apa, ustadz Rahmat menjawab bahwa MM adalah singkatan dari Marni Manyun. Ah, ustadz, bisa saja bercandanya.

Well, buku ini bagus sekali. Isinya mengingatkan saya pada buku “Episode Cinta Sang Murabbi“. Membaca buku ini, kita diajak untuk mengenal sosok Ustadz Rahmat lebih jauh. Mengenal ketangguhan dan kegigihan seorang guru bangsa. (Semoga Allah senantiasa merahmati engkau ya ustadz). Mungkin mata kita akan “berkabut” membaca beberapa kisahnya, apalagi ketika menarik perbandingan antara kita dan dirinya. So, kalau Anda berjodoh dengan buku ini, jangan lewatkan untuk membacanya. Salam…

Dedi Setiawan, 28 Juni 2008, 12.37 WIB

@ Rumah di Lampung, Never Ending Motivation Center ^_^

21 thoughts on “Bercermin di Telaga Cinta Sang Guru

  1. Kalo yg rada2 telmi ada rekomendasi gak gimana bacanya?..hihi..
    Saat mau berpulang beliu dalam keadaan suci (abiz wudhu) ya..
    “Kalau habis, berarti rejeki mau datang lagi“, prinsipnya lucu tapi bermakna…
    Kalo gak dapet bukunya kan bisa minjem bang Dhedhi hihi(geer)…
    btw, thx tas infonya insyaAllah saat cuti nanti gw cari, diSorowako dijamin gak ada, hiksss…
    Oya izin link ya, thax..😀

  2. Moga segala amal ibadahnya disempurnakan dan diterima oleh Allah SWT, dilapangkan kuburnya dan ditempatkan sebaik2nya disisi Allah, amien..

  3. @Rita
    klo telmi (sama donk ^_^), bacanya berulang2 hehehe
    Allahumma aamiin
    ooo.. boleh2 ^_^

    @muhammadamrul
    hehehe… pinjem? iya2… nti kita ketemu di tempat komik itu ya whehehe

    @Sir Arthur Moerz
    sip.. baca deh.. klo kata sy sih, bukunya bagus buat dibaca

    @negthree
    whehehe,,, asal jangan ngasih pr ke anak2 buat baca buku ini ya hehehhee…
    semangat neng… ^_^

  4. Assalamu’alaykum…

    Dedi, saya titip dong beliin bukunya.
    nanti saya transfer uangnya.

    saya juga udah nyari tuh buku sampe kaya’ apaan tau, ga ketemu-ketemu juga.

    tolong ya…
    Jazakallah

  5. @vie achmad
    ok, insya Allah nti dibeliin ^_^

    @kumanz
    wuuuiihh,,, enak aja… ya ada donk ^_^
    ga tau sih last edition or ga,,, yang penting baca hehehehe

    @ven+F@tM@
    ok, sip ^_^

  6. Subhanallah, membaca tulisan ini membuatku terhanyut,ingat saat lihat film sang Murobbi,ada satu kalimat yang membuat orang terpana “kalao tidur jangan sambil nelentang bisa mati!!!”.Jzklh.

  7. jadi semakin rindu alm suami tercinta. nyatanya hati ini semakin ridu, rindu yang tak terperi akan hadirnya murobbi-murobbi lain dari rahim kita
    bukunya sulit juga ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s