Kemenangan Adalah Piala yang Diperjuangkan, Bukan Kado yang Dihadiahkan

Tubuhnya menggigil. Kepada istri tercintanya, ia minta untuk diselimuti. Tanpa banyak tanya, sang istri pun menyelimutinya. Maka berbaringlah ia dengan tubuh menggigil yang tersembunyi di balik selimut. Tapi ini bukan tentang musim dingin di jazirah Arab berbelas abad yang silam. Ini tentang rasa takut yang dahsyat. Rasa takut yang begitu hebat, setelah rangkaian peristiwa yang memang sangat menakutkan; bertemu makhluk aneh, didekap sampai sulit bernafas, lalu diperintahkan untuk membaca, iqro’!.

Rasa takut itu belum hilang. Rasa menggigil itu masih terasa. Tapi di saat itu juga, ia disapa oleh Rabbnya, diperintahkan untuk bangkit, berjuang memberi peringatan kepada kaumnya.

Begitulah awal risalah kenabian diembannya. Maka mulai saat itu, tiap hembus nafasnya adalah perjuangan, tiap tetes keringatnya adalah kerja keras, tiap aliran darahnya adalah pengorbanan, tiap untaian air matanya adalah kepedulian terhadap umat. Berjuang sekuat tenaga, mendobrak paradigma jahiliyah yang mengakar kuat di otak kaumnya, menghancurkan paganisme yang telah mendarah daging di tubuh bangsa Arab saat itu.

Dari sini babak baru perjuangan dimulai. Ia membina masyarakat. Ia mendidik kader militan. Ia menciptakan komunitas. Ia meretas jalan. Ia membangun peradaban. Ini semua bukannya tanpa harga. Ada harga yang harus dibayar olehnya; cercaan dan hinaan, harta dan tenaga, serta darah dan air mata. Dan ia melunasinya.

Ia dilempari dengan batu. Giginya patah. Wajahnya berlumur darah. Ia terusir dari tempat lahirnya, Mekah. Tapi masyarakat Madinah menyambutnya dengan penuh kehormatan. Inilah uniknya. Benih tarbiyah yang ia semai melalui duta pertamanya, Mush’ab bin Umair, kini tumbuh merekah di di bumi Madinah. Fantastis!

Mekah dan Madinah, menyisakan sejuta kenangan yang tak pernah usang termakan oleh jaman. Kalau Mekah adalah tempat pengokohan aqidah, maka Madinah adalah tempat strategis untuk menyebarkan dan mempertahankannya. Kalau Mekah menjadi tempat dimulainya risalah kenabiannya, maka Madinah menjadi tempat berakhirnya. Kalau di Mekah, bersama Khadijah, ia menerima mandat kenabiannya dalam serial intimidasi kaum kafir, maka di Madinah, dalam pangkuan kedamaian Aisyah, ia menyelesaikan misi kenabiannya.

Cahaya baru itu berpendar ke seantero jagad raya tanpa bisa dihalangi oleh kelamnya ajaran kaum kafir. Mekah kembali dalam genggamannya. Kaum kafir takluk di bawah kakinya yang mulia itu. Dalam waktu sepuluh tahun masa hijrahnya itulah risalah yang dibawanya menjadi sempurna.

Itu sekelumit kisah tentang Muhammad SAW. Ada pertanyaan dasar yang tersisa, bagaimana ia mampu memenangkan kebaikan di atas kejahatan? bagaimana ia mampu menghancurkan tirani jahiliyah lalu membangun pondasi kebaikan, hingga akhirnya menghasilkan suatu kebaikan yang berguna untuk kebaikan lainnya? Apa ini semua pemberian dari masyarakat jahiliyah? Bukan! tentu saja ini bukan kado yang dihadiahkan. Ini adalah piala yang diperjuangkan. Ya, perjuanganlah intinya. Ia berjuang, tidak hanya berbuat. Karena memang hidup adalah perjuangan, bukan sekedar perbuatan.

Mari, bersama tapaki jalan yang telah diretasnya. Bersama juga kita berjuang. Walaupun tidak harus merasakan kemenangannya saat ini, toh masih ada anak cucu kita yang bisa menikmatinya.

Salam semangat…..! ^_^

Dedi Setiawan, 08 Agustus 2008, 17.00 WIB

@ Rumah di Lampung, Never Ending Motivation Centre ^_^

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Motivasi dan inspirasi menulis :

Surat Al-Alaq di dalam Al-Qur’an. Iqro’ bismirobbikal ladzi kholaq . . .

Surat Al-Muddatstsir di dalam Al-Qur’an. Yaa ayyuhal muddatstsir . . .

Catatan tentang “Serial Cinta”-nya Anis Matta

Catatan tentang “Menikmati Demokrasi”-nya Anis Matta

Ingatan tentang “Sirah Nabawiyah”-nya Syaikh Mubarakfurry

“Manhaj Haraki”-nya Syaikh Munir Muhammad Al-Ghadban yang jilid I

9 thoughts on “Kemenangan Adalah Piala yang Diperjuangkan, Bukan Kado yang Dihadiahkan

  1. Ada yang bilang, kita ini bukan mewariskan bumi ke anak-cucu kita. Tapi kita meminjam bumi dari anak-cucu kita.

    Berjuang untuk kebaikan bangsa dan negara demi anak-cucu kita. Seperti Nabi Muhammad berjuang ketika menyebarkan Islam.

  2. Ini twrjadi pada Rosul di gua Hira dengan munculnya malaikat jibril yang memerintahkan beliau untuk membaca, itulah ayat pertama yang diturunkan kepada rosul buta huruf…, Sebelum menghilang malaikat itu meneriakkan “Muhammad Rosulullah….am i wrong?….
    Jadi inget kisah perjuangan Rosul…
    Iya mas, hidup ini adalah perjuangan atas pilihan….Perjuangan tidak akan pernah berakhir sampai akhirnya kita harus kembali mempertanggung jawabkan nya pada Sang Khalik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s