Perpisahan


bush dilempar sepatu

Moment perpisahan bersama orang yang dicintai selalu menjadi potongan waktu yang sangat sulit dilupakan. Hampir selalu ada rasa haru yang menyisa di benak kedua belah pihak; yang ditinggalkan dan yang meninggalkan. Bahkan, seringkali ada embun yang menggumpal di mata, lalu bertumpuk menggenang memenuhi ruang kosong di kelopak mata. Jika sudah tak tertampung lagi, ia pun mengalir menjadi air mata. Haru. Haru sekali. Itu adalah potongan waktu di saat kita ingin memperlihatkan sesuatu yang terbaik, sesuatu yang sulit dilupakan. Sesuatu yang akan dikenang sepanjang hidup, bahkan sepanjang masa.

Itu pemandangan ketika cinta menjadi bahan bakar bagi raga yang saling mencintai. Di sana kita lihat gerak tulusnya. Tulus. Tulus sekali. Tidak berbalut kepalsuan, juga tidak terbungkus kemunafikan. Maka peristiwa-peristiwa indah seperti itu abadi di benak seorang sahabat yang ditinggalkan sahabatnya, atau seorang ibu ketika berpisah dengan anaknya, atau seorang murid yang tak lagi bersama dengan gurunya. Bahkan antara tuan dan hewan peliharaannya. Bukankah kita pernah melihat anak kecil yang menangis ketika kucing peliharaannya mati? Bahkan ada yang lebih mengharu biru lagi, yaitu pemaparan sejarah yang mencatat tentang seekor kuda perang yang menangis di pusara tuannya: Khalid bin Walid. Luar biasa!

Itu kalau kita bicara tentang peristiwa yang didasari oleh cinta. Bagaimana kalau kita bicara tentang benci?

Moment-nya bisa sama, yaitu pada saat perpisahan, tapi kesannya bukan penghormatan, melainkan penghinaan. Kejadiannya bisa sama luar biasanya, tapi tidak berbentuk kasih sayang, melainkan kemarahan. Ada banyak contoh kisah seperti ini di banyak penggalan sejarah kehidupan manusia, salah satunya seperti yang baru-baru ini terjadi.

Di akhir masa jabatannya ia melakukan kunjungan perpisahan. Tapi ini bukan kunjungan perpisahan biasa. Ini juga bukan kunjungan perpisahan ke rumah tetangga di samping rumah. Ini tentang kunjungan perpisahan kenegaraan. Maka pada hari itu ia mengunjungi Baghdad, negeri seribu satu malam itu. Ia adalah tamu negara yang dihormati. Ia melakukan konferensi pers. Lalu ia menutup konferensi pers itu dengan ucapan terima kasih dalam bahasa arab: khairan katsiera.

Tapi kunjungan perpisahan itu tidak berakhir dengan happy ending. Sedetik setelah itu, sebuah sepatu dilempar ke arahnya. Lalu, sebuah sepatu kembali melayang ke arahnya. Dalam tradisi Arab, lemparan sepatu adalah bentuk penghinaan yang paling rendah. Ya, itulah kisah kunjungan perpisahannya: George W. Bush, Presiden Amerika saat ini.

Mungkin itu memang pantas diterimanya. Setelah bertahun-tahun ia menabur benih kebencian di mana-mana. Setelah selama masa jabatannya ia banyak menjandadudakan dan meyatimpiyatukan banyak orang-orang yang tak berdosa. Setelah ia menawarkan konsep demokrasi, tapi menyabotase pemilu di Palestina. Setelah ia meneriakkan HAM, tapi tangannya berlumur darah pejuang Afganistan, Iraq, dan negara muslim lainnya. Mungkin itu memang pantas diterimanya, bahkan lebih dari itu.

Begitulah perpisahan. Seolah ia menceritakan tentang apa yang sudah kita lakukan selama ini. Ada benarnya juga kata-kata para orang tua kita dulu: siapa menabur benih, pasti akan menuai hasil. Jika ingin mengakhiri segalanya dengan baik, sudah semestinya kita berusaha menjalani segalanya dengan baik. Dan tentunya, yang menjadi impian kita adalah bagaimana mendesain perpisahan yang baik dengan dunia ini, agar kita tak perlu malu ketika bertemu dengan-Nya nanti.

Dedi Setiawan, 16 Desember 2008, 22.00 WIB

@ Buah Batu Regency

=================================================

Inspirasi dan motivasi menulis:

Khalid Muhammdan Khalid, “Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah”

Harian Media Indonesia tanggal 16 Desember 2008

Detik.com

–    Gambar adalah hasil print screen dari YouTube

21 thoughts on “Perpisahan

  1. hehe….
    Jadi inget waku perpisahan BEM Kak TW..
    Kak TW yang keren bgt, malah diceplokin telor busuk..
    Wah… parah… Ampe akhwat2 pada kesel gitu kan, waktu itu…
    Tapi, insyaALLAH semuanya tidak akan tertukar di mata ALLAH…

  2. baru denger kemarin cerita ini di TV one.
    coba kompakan ya..lemparnya bareng2 101 sepatu..!!!

    btw dari mana aja kang..baru posting lagi ??

  3. Aku bisa memahami perasaan si pelempar sepatu itu….. Yg kurang menyenangkan adalh komnetar orang2 yang mengatakan bahwa itu tidakkan yang tidak baik, seharusnya tidak berbuat seperti itu.. Okelah emang itu tindakan yang tidak patut tpi pelemparan itu samasekali gak ada artinya ketimbang kebijakannya yang memporak-porandakan Irak…. Buktinya juga ampe skarang senjata pemusnah massal yang dia incar gak penah ketemu…

  4. dilempar sepatu rasanya belum ada apa-apanya dibandingkan dibombardir dengan bom dan tanah tempat kita hidup dijajah, seperti yang dirasakan rakyat Palestina, Irak, Afghanistan dll. untung Bush ga dilempar granat….

  5. Berpisah dari dunia yang penuh dengan keindahan yang menipu, dan berjumpa dengan Keindahan Yang Maha Abadi dan Yang Maha Indah. ya Allah.. sampaikanlah kami kepada perjumpaan dengan-Mu. Amin.

  6. Brave man…!!!!
    Sampe2 sepatunya dihargain mahal ya…sampe dilelang…mantap…
    Trus sepatu sejenis di Irak dijual US$45 hebat…..
    Coba ngelemparnya pake Mpek2…bisa jadi mahal kali ya harga Mpek2 didunia…
    Omset tukang Mpek2 bisa meningkat kali ya…….
    he…he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s