Bertahan dan Menyerang

Haye Vs Ruiz

Sambil mengunyah nasi goreng, saya menonton tayangan ulang pertandingan tinju (WBA Championship) antara John Ruiz melawan David Haye. Pertandingan kali ini sangat penting bagi kedua petinju. Bagi Haye ini adalah ajang mempertahankan sabuk juara, sedangkan bagi Ruiz ini adalah kesempatan untuk menyamai rekor “Si Mulut BesarMohammad Ali dan Evander Holyfield, yaitu menjadi juara dunia kelas berat sebanyak tiga kali.

Sejak ronde pertama, Ruiz sudah menampakkan wajah garangnya. Raut wajahnya menunjukkan amarah sepenuhnya. Tapi justru di ronde pertama inilah Haye langsung berhasil membuat Ruiz terjengkang di atas ring. Dua kali jumlahnya. Ya, dua kali Haye berhasil menghempas Ruiz.

Ronde-ronde selanjutnya adalah ronde-ronde yang memperlihatkan Ruiz sebagai petinju yang berpengalaman. Ia terlihat lebih tenang dan sabar. Sampai akhirnya, di ronde 9, pertahanan Ruiz sedikit terbuka, justru saat ia sedang menjajakan kepalnya ke wajah Haye. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Haye. Tiga tinju pamungkas dari Haye yang mendarat di wajah Ruiz, membuat petinju berjuluk “The Quietman” itu terhempas. Dari pinggir ring handuk putih melambai. Wasit menghentikan pertandingan. Dan Haye berhasil mempertahankan gelar juaranya.

Saya tertegun sesaat. Ah, sayang sekali, sudah tiga perempat pertandingan dijalani, harusnya Ruiz bisa lebih bersabar dan berhati-hati, pikir saya. Harusnya Ruiz masih bisa bertahan sampai ronde 12. Dan kalaupun dinyatakan kalah, paling tidak bukan kalah KO.

<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<=================

FIS dan Quthb

Ya, mungkin ini memang harga mahal yang harus dibayar. Kerja-kerja yang dilakukan dengan kesabaran dalam waktu yang lama, memang bisa hancur jika tidak hati-hati dalam bertahan. Hal ini juga terjadi dalam organisasi, komunitas, dan gerakan lainnya.

Ambil contoh FIS di Aljazair. Kemenangan lewat jalur demokrasi yang dirintis bertahun lamanya, melalui kesabaran yang luar biasa, akhirnya menjadi tragedi berdarah. Kemenangan memang sudah di tangan, tapi sayangnya tidak memiliki pertahanan yang benar-benar kuat.

Ini mirip seperti ketika Gamal Abdul Nasser berhasil merebut pucuk pimpinan di Mesir, kemudian menelikung Ikhwanul Muslimin dan menggantung Sayyid Quthb. Nasser yang pernah berkata, “Saudaraku Sayyid Quthb, kami akan menjadi pembelamu sampai akhir hayat kami,” ternyata malah menjerat leher penulis Ma’alim fit Thariq itu di tiang gantungan ketika rezimnya berkuasa.

Terlepas dari kekalahan itu karena dihianati, dicurangi, atau karena alasan lainnya, dalam setiap pertarungan, idealnya memang harus ada kejelian untuk bertahan dan menyerang. Dalam masyarakat yang relatif aman seperti sekarang ini, bertahan bisa berarti memperkokoh basis massa dan kaderisasi. Menyerang bisa berarti memperluas dan menyebarkan pengaruh.

<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<=================

Ibarat Pertandingan Tinju

Menyerang itu penting. Tapi jauh sebelum melakukannya, tentu harus bisa memastikan bahwa kita mampu bertahan. Hal ini juga yang kita dapat dari Syaikh Munir Al-Ghadban, ketika dalam Manhaj Haraki beliau menerangkan bahwa pada periode pertama dakwah Rasulullah, yang menjadi karakter ke-9 adalah “memfokuskan pada pembinaan aqidah”, baru kemudian karakter ke-10, “berdakwah secara terang-terangan setelah terbentuk kader-kader inti yang kuat”.

Saya jadi teringat Ruiz Vs Haye. Kalau diibaratkan pertandingan tinju, mungkin aktivitas kita di organisasi, komunitas, atau gerakan lainnya adalah sebuah kepalan tinju yang siap dilepaskan. Pada tiap kepal tinju yang akan dilepaskan, idealnya harus ada perhitungan apakah bisa menjangkau lawan atau tidak. Jangan melepas tinju jika kiranya tidak dapat menjangkau lawan. Bertahan saja dulu dengan penuh kesabaran. Tapi jika dirasa dapat menjangkau lawan, jangan lupa memastikan bahwa pertahanan kita tetap kokoh dan lawan tidak dapat melakukan serangan balik yang menyebabkan kita KO!

Dedi Setiawan
5 April 2010 @ Ruang Baru Dunia Baru

*ditulis dengan rasa malu yang sangat, sepertinya saya semakin tak mengerti apa artinya kontribusi. Apa makna partisipasi tanpa kontribusi?

9 thoughts on “Bertahan dan Menyerang

  1. makanya dlm fiqh prioritas, ilmu diutamakan dlm beramal…wlau keduanya hrus berjalan beriringan. So, ilmu adlh bntuk pertahanan tsb.

    Keep on bloging! ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s