Pujian dan Kritik

“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari tekanan hutang dan kesewanang-wenangan orang lain”

Hari ini saya kembali mengingat doa itu. Melisankannya, lalu merenunginya kata per kata. Berusaha membayangkan ketika Rasulullah mengajarkan doa tersebut kepada Abu Umamah yang sedang gelisah.

Doa itu juga menjadi semacam peringatan bagi kita semua, bahwa ada banyak hal yang bisa mengganggu ketenangan jiwa. Ada banyak hal yang siap membuyarkan konsentrasi, lalu melumpuhkan kemampuan pengendalian diri kita. Ya, ada banyak hal, dua penyebab di antaranya adalah pujian dan kritik.

Pujian dan kritik, dua hal yang berbeda rasa, namun menghasilkan efek yang sama jika tidak disikapi dengan benar: menghentikan langkah. Pujian mungkin bisa membuat kita senang, tapi benarkah hanya sebatas itu? Rupanya ia menyimpan potensi yang bisa membuat kita merasa sudah berada di puncak bangunan kesuksesan. Itulah yang menyebabkan kita malas (atau tidak terpikir?) untuk menapaki tangga kesuksesan selanjutnya.

Sebaliknya kritik, bisa menggerus rasa percaya diri, menghilangkan semangat, dan melemahkan tekad untuk melanjutkan kerja. Apalagi jika kritik itu tidak memiliki artikulasi yang jelas. Seolah ada yang berbisik-bisik di belakang kita, namun segera lenyap ketika kita menoleh ke belakang. Ia menjadi seperti duri kecil yang melesap jauh ke dalam daging. Kita merasa sakit, tapi kesulitan untuk mencabutnya, karena memang tidak tahu pasti di mana sumber masalahnya.

Apalagi kalau kritik itu lahir dari subjektifitas –entah itu bersumber dari konflik individu atau lainnya. Kita dikritik bukan dari capaian kerja yang diraih. Kita dinilai berdasarkan cara pandang orang tersebut kepada personal kita, bukan dari produktifitas kita. Masalah tambah runyam ketika ada usaha untuk melebarkan konflik individu menjadi konflik kolektif. Lalu secara berjamaah mengambil posisi sebagai kumpulan orang-orang yang terabaikan dan merasa perlu diberi perhatian.

Untuk kasus yang terakhir, jelas itu menyimpan potensi perpecahan dalam suatu kelompok. Seperti ada yang menggunting dalam lipatan. Di luar tampak utuh, namun ketika ditelisik lebih jauh, kain yang kita punya ternyata kian rombeng.

Eh, sudah terlalu jauh kiranya saya bicara tentang pujian dan kritik. Yang terakhir rupanya punya porsi yang lebih besar, dan pembahasannya mulai melantur. Corat-coret ini harus segera berhenti, agar tidak tumpah ruah semuanya. Begini saja, bagi kita yang sedang melakukan kerja-kerja besar, jangan biarkan dua hal tersebut menghentikan kerja kita. Tidak pantas kita berhenti karena merasa puas setelah dipuji. Dan tidak seharusnya kita diam di tempat, atau bahkan mundur, hanya karena kritik.

Kita harus sadar, bahwa kerja-kerja besar tidak selalu menghasilkan decak kagum. Seringkali kritik datang bertubi-tubi bahkan sebelum kita mulai bekerja. Maka saat paling berat, kata Anis Matta, adalah saat kita harus bekerja dan berkarya di tengah penolakan orang lain, pelecehan lingkungan, dan kritik-kritik tajam.

Ya ampun, saya mulai lagi bicara tentang kritik. Sudah, sudah… sudah harus dihentikan tulisan ini. Ya, pujian dan kritik, harus kita sikapi dengan bijaksana. Semanis apapun pujian dan sepahit apapun kritik, tetaplah fokus pada cita-cita dan kerja-kerja besar kita. Dan yakinlah, sama sekali tidak ada masalah dengan pujian dan kritik (baik kritik yang “jelas” maupun yang “tidak jelas”). Karena apapun itu, selama bisa memperkuat tekad kita untuk menjadi lebih baik, bolehlah kita menyebutnya sebagai berkah. Mungkin semacam blessing in disguise.

Di akhir tulisan ini, sekali lagi saya ingin mengingat, merenungi, dan memohon tentang doa di awal tulisan ini. Karena selalu dan selamanya, dalam tiap detik yang kita lalui, keadaan yang mengganggu jiwa itu senantiasa mencari celah untuk menyusup ke dalam diri. Itu keadaan yang membuat kita lemah, baik secara mental maupun fisik. Maka tak ada pilihan lain: jangan sampai kita lumpuh karenanya!

Dedi Setiawan

28 mei 2010, 14.40 WIB

@Antabaru, Bandung

8 thoughts on “Pujian dan Kritik

  1. yups..
    kita memang mesti lebih bijak dalam menghadapi pujian dan kritikan..
    tidak terbuai dengan pujian..
    dan lebih terbuka dengan kritikan..😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s