Meretas Soliditas Komunitas

Banyak orang tergugah melihat korban perang. Beberapa menangis melihat rakyat dibantai habis. Beberapa yang lainnya menggalang solidaritas dengan berteriak, berdemo, lalu mengumpulkan sedikit dana untuk disumbangkan. Setelah itu bubar. Tidak jelas benar kelanjutannya. Apakah titik atau sekeadar koma, tetapi biasanya respons terhadap korban perang selalu begitu.

Ada kemiripan dalam sikap terhadap korban perang dan rindu akan hadirnya bacaan yang bermutu: lebih banyak yang sekadar berteriak dari pada yang melakukan tindakan nyata. Masing-masing berteriak; menghujat perang yang jahat dan mengkritik bacaan tak bermutu. Lalu, adakah perbaikan yang dihasilkan dari teriakan saja tanpa kerja nyata? Bukankah lebih baik jika orang-orang itu bersatu dalam suatu wadah, lalu melakukan gerakan yang lebih terorganisasi dan memiliki fokus yang jelas?

Nah, ini masalah tersendiri. Banyak orang yang sadar tentang suatu masalah, tetapi sedikit yang mau menyelesaikannya bersama-sama. Banyak orang hebat dengan segala potensinya, tetapi sedikit yang mau menyatu dengan orang hebat lainnya. Padahal, tentu akan lebih baik jika orang-orang dengan ide cemerlang itu bersatu dalam satu wadah untuk mencapai suatu tujuan bersama.

Maka, komunitas merupakan sarana efektif untuk menghimpun orang-orang itu. Agar potensi individu tidak tergulung oleh zaman. Agar kehebatan pribadi tidak melayang diterpa globalisasi. Agar keunggulan perorangan tetap bisa eksis di tengah krisis.

Selain itu, ada alasan lain mengapa bergabung dalam suatu komunitas menjadi penting. Kalau diperhatikan, hampir semua aktivitas masyarakat saat ini tidak terlepas dari kerja-kerja berkelompok, baik di bidang politik, pendidikan, budaya, ataupun ekonomi. Mereka menyadari bahwa keterbatasan pribadi dapat ditutupi dengan kelebihan anggota lainnya. Dan faktanya, hasil kerja mereka bisa sangat efektif, efisien, dan produktif.

Jadi, jalan panjang menuju perbaikan masyarakat bisa dimulai dengan menghimpun potensi-potensi yang berserakan. Bisa dimulai dengan menyatukan kelebihan-kelebihan yang dimiliki tiap individu, tetapi tetap dengan hasil kreasi yang unik. Untuk tujuan yang besar itu, rasanya kita harus mengamini pinta Iqbal dalam sajaknya, “Himpunlah daun-daun yang berhamburan ini.”

Minggu, 21 Juni 2009, Forum Lingkar Pena (FLP) Bandung memasuki episode baru dalam perjalanannya. Di musyawarah cabang FLP Bandung itu, Wildan Nugraha, menyampaikan laporan pertanggungjawaban sekaligus menyerahkan amanah kepemimpinan kepada ketua FLP Bandung periode 2009-2011, Dedi Setiawan.

Empat tahun sebelumnya, suksesi ketua umum FLP juga sukses dilakukan. Dalam rangkaian musyawarah nasional itu, M. Irfan Hidayatullah menggantikan Helvy Tiana Rosa. Saat itu, Irfan memang tidak seterkenal Helvy, tetapi empat tahun berlalu, terbukti FLP tetap bisa bertahan, bahkan makin kokoh.

Seperti ada pesan tersirat yang ingin disampaikan dari suksesi yang terjadi di tubuh FLP, bahwa untuk menjadi komunitas yang sehat, FLP harus mengikis habis figuritas. FLP ingin membangun sistem, bukan ketokohan. FLP milik semua, bukan punya individu.

Selain itu, suksesi kepemimpinan juga merupakan bukti berjalannya kaderisasi di tubuh FLP. Jadi, popularitas bukanlah segalanya, melainkan kapasitas dan kapabilitas. Dengan semangat pembelajaran itulah, FLP terus tumbuh dan berkembang.

Dan tidak salah rasanya jika Ahda Imran, kolumnis Harian Pikiran Rakyat, –dengan sedikit bercanda– dalam acara Fokus Sastra Se-Nusantara pada tanggal 3-5 Juli 2009 di Lembang, Jawa Barat, mengatakan bahwa soliditas dan struktur organisasi yang rapi di tubuh FLP bahkan mampu mengantarkannya menjadi partai politik. Terlepas dari pernyataan yang cukup menggelitik itu, ada fakta yang tidak bisa dibantah, bahwa FLP saat ini menjadi komunitas kepenulisan yang cukup solid, berhasil membentuk strukturnya mulai dari pelosok tanah air hingga ke luar negeri.

Jalan masih panjang. Soliditas terus diuji. Sambil tetap membangun jaringan dengan komunitas lainnya, FLP terus berjuang memberikan karya terbaik untuk bangsa.

Dedi Setiawan

Tulisan ini dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat,  Kamis, 13 Agustus 2009 (http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=92175)

5 thoughts on “Meretas Soliditas Komunitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s