Mencintai dengan Sebisanya

Berkumpullah kita di taman kehidupan. Lalu bertanyalah pada diri sendiri, tentang suatu tanya yang kadang mengusik diri: layakkah kita untuk mencintai?

Sebab mencintai tak layak dilakukan oleh orang miskin kapasitas. Hanya jika kita memiliki kapasitas yang memadai, maka kita layak mencintai. Hanya dengan begitu kita bisa menunjukkan rasa cinta, sekaligus menggenggam tanggung jawabnya.

Tentang mencintai, kadang saya merasa terseok-seok mencoba mencintai, terutama kepada Sang Nabi. Pertanyaannya masih sama, layakkah saya mencintai? Walau cinta kepada nabi bukan seperti cinta kepada lawan jenis, tapi tetap pertanyaan itu menggelayut di hati: layakkah saya untuk mencintai?

Pada suatu bedah buku di Jatinangor, saya bertanya kepada Mas Tasaro, penulis Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan, “Anda ini kan bukan syaikh, tapi kenapa begitu percaya diri menulis tentang Muhammad?” Lalu ia menanggapi, “Urusan saya adalah menuliskannya. Selesai sampai di situ. Itulah usaha saya untuk mencintainya.”

Ah, sederhana sekali jawabnya. Sesederhana itu: melakukan apa yang dia bisa. Ya, setiap orang (itu berarti kita juga) bisa menunjukkan cinta kita, sebisa kita. Sebisa kita, bukan berarti sekadarnya saja. Sebisa kita, merupakan istilah yang menggabungkan “usaha terbaik” dan “tanggung jawab”. Ya, selamat mencintai, sebisa kita.

*diedit dari esai singkat yang saya tulis untuk sayembara “kecil” yang diadakan oleh seorang teman, Rampa Maega, guna mendapatkan novel Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan

20 thoughts on “Mencintai dengan Sebisanya

  1. indah sekali, benar setiap orang punya kapasitas yg berbeda dalam mencintai, cintailah yg kita cintai sesuai dgn kapasitas yg kita bisa🙂

  2. jangan menunggu kapasitas kita besar, baru berbagi cinta dengan sesama😀
    sama halnya dengan berbagi, janganlah menunggu kaya untuk berbagi sesuatu pada sesama🙂

  3. Sesederhana itu: melakukan apa yang dia bisa. Ya, setiap orang (itu berarti kita juga) bisa menunjukkan cinta kita, sebisa kita. Sebisa kita, bukan berarti sekadarnya saja. Sebisa kita, merupakan istilah yang menggabungkan “usaha terbaik” dan “tanggung jawab”.

    Sepakat kang, sepertinya kudu ada evolusi istilah sebisa kita..
    Qe³

  4. setuju juga.. sebisa yang kita mampu tapi bukan ala kadarnya, sebisa dan semaksimal usaha kita untuk mencintainya..

    oya sudah baca bukunya? kebetulan saya punya novel tasaro yg pertama dan jadi pensaran dengn novel ini, tapi belum dapat resensinya hehhe..

    salam🙂

  5. @uni
    sepakat sangat🙂
    jangan menunggu, yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kapasitas

    @jona
    ya, ketika saya mengedit tulisan ini, saya baru menemukan pencerahan itu😀

    @nurrahman18
    hihi, iya tuh

    @Mr Surya
    bisa bisa bisa🙂

    @Yohan
    ya, senang bisa saling berbagi🙂

    @’Ne
    Emmm, menurut saya novelnya bagus.
    membaca novel ini kita seolah dihadapkan pada fragmen terpisah antara Kasva dan Muhammad

    @Gado-Gado
    iya, betul itu…

    @Kakaakin
    alhamdulillah dapet😀

  6. jadi ingat puisinya Sapardi Djoko Damono yang “Aku Ingin”…

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
    dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu
    kepada api yang menjadikannya abu

    Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
    kepada hujan yang menjadikannya tiada

    —mencintai dengan sederhana, sepenuh bisanya, sepenuh mampunya…
    ^^v

  7. Belum update kang? Ok cma mau meminta maaf dgn sederhana namun tulus, Minalaidzin walfaidzin mohon maaf atas segala khilaf yg terucap dan tersirat-happy idul fitri 1431H

  8. salam dedhi!

    akhirnya saya jumpa blog kamu, setelah sekian lama🙂

    i like that phrase ” mencintai sebisa kita”, boleh saya baca esei penuhnya?

    :: arafah, malaysia, masih ingat?

  9. Membaca novel Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan seperti punya ppintu kemana aja-nya Dora Emon. Satu sisi rasanya kita ikut hanyut dalam petualangan Herkules ala Kasva dan Masya, dan di bagian lain terharu saat membaca shirah baginda Muhammad SAW.
    Sete;ah novel ini, jadi penasaran pengen baca juga Menatap Punggung Muhammadnya Fahd Djibran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s