Madrid Vs Barcelona (Bicara Mentalitas)

Mari Bicara Tentang Mentalitas

 

Saya bukan penggila bola. Saya lebih senang nonton tayangan highlight terciptanya gol-gol indah daripada menonton penuh pertandingannya. Tapi untuk laga “El ClasicoBarcelona Vs Real Madrid, sudah tiga minggu saya menantikannya. Setiap Kompas menurunkan ulasan tentang kekuatan dua tim ini, pasti saya baca. Saya bela-belain mencari berita tentang laga ini di internet; kegiatan yang sangat jarang saya lakukan. Bahkan saya sengaja berburu tabloid Bola (seingat saya, terakhir kali membelinya saat SMA). Yang lebih heboh? Tidur sekitar jam satu dini hari, Selasa (30/11/2010), saya sempat bermimpi ketinggalan menyaksikan laga ini karena ketiduran. Dalam mimpi itu, habis-habisan saya menyesali diri. Nyatanya, saya terbangun satu menit sebelum pertandingan dimulai.

 

Tentang naluri mencetak gol yang dimiliki Messi dan hasrat membobol gawang yang dimiliki Ronaldo, saya kurang peduli. Yang paling menarik perhatian saya adalah Mourinho, pelatih Real Madrid. Saya penasaran bagaimana pelatih berjuluk “The Special One” itu meracik timnya untuk menghadapi strategi yang diterapkan Pep Guardiola pada Barcelona.

 

 

Jalannya Pertandingan
===================

Bermain di markas Camp Nou dengan dukungan penuh fans fanatiknya, 13 menit pertama benar-benar mempertontonkan serangan garang milik Barcelona. Serangan demi serangan yang dibangun oleh pemain sayap dan penyerang Barcelona benar-benar membuat pemain belakang Madrid harus bekerja ekstra-giat. Tak menunggu lama, laga baru berjalan 9 menit, Iker Casillas sudah harus memungut bola dari gawangnya. 9 menit kemudian, kiper andalan Spanyol itu kembali gagal menghalau bola agar tak menggetarkan jalanya.

Saya pikir, gapapa, nanti juga bakal 3-2 untuk Madrid. Tapi kenyataan membalikkan semuanya.

Kecepatan lari dan gocekan CR7 tidak membuahkan apa-apa bagi Madrid. Serangan yang dibangun begitu mudah dipatahkan. Intinya: baik serangan maupun pertahanan, Madrid begitu berantakan!

 

 

Babak pertama selesai. Dua gol tanpa balas, Madrid dilindas Barca. Saatnya solat subuh di masjid (hehe, ga nyambung ya :p).

Pulang dari masjid, saya ngucek-ngucek mata. Di sudut kiri layar televisi, tertulis skor 4-0. Saya dekatkan lagi wajah ke layar, berharap salah lihat. (Sayangnya) ternyata penglihatan saya benar adanya.

Pertandingan berjalan cukup keras. Kartu kuning terlihat sudah seperti daun jatuh berguguran. Ronaldo dan Messi pun masing-masing dapat satu. Sudah puas dengan empat gol? Belum, Barca menambah satu gol lagi saat injury time. Pertandingan selesai, lima gol tanpa balas, hasil karya Xavi Hernandez (9’), Pedro (18’), David Villa (54’ dan 58’), dan Bojan (91’). Barca membungkam Madrid.

 

Tentang Mentalitas
=================

Didukung oleh pemain-pemain kelas dunia, diarsiteki oleh pelatih brilian, dan disokong uang berlimpah, nyatanya Madrid masih kalah juga. Apa yang salah dengan Madrid?

Tentu ada banyak analisis. Tapi kalau saya boleh angkat bicara, hasil ini tidak bisa dipisahkan dari sesuatu yang disebut “mentalitas”. Menurut KBBI Daring, mentalitas adalah keadaan dan aktivitas jiwa (batin), cara berpikir, dan berperasaan.

Dan kalau boleh lancang, beginilah rumusan (tanpa penelitian) saya  tentang “kemampuan”, “mentalitas”, dan “hasil”:

 

Para pemain Madrid memang oke punya, tapi itu semua tak berarti tanpa mentalitas. Dua gol yang dibuat pemain Barca pada 20 menit pertama, cukup membuat mentalitas pemain Madrid terganggu. Sepengamatan saya, wajah Iker Casillas dan Xabi Alonso paling menunjukkan rasa frustasi. Parahnya, kejadian serupa terulang lagi di babak kedua.

Mungkin rasanya seperti ketika kamu baru kenal dengan seseorang, lalu tiba-tiba ia menyerangmu. Tinju dan terjangnya tepat mengenai dada dan kepalamu. Mungkin kamu berusaha membalas, tapi sudah tertinggal langkah. Bertahan saja sudah terasa payah, apalagi melancarkan serangan. Lalu, takdir kekalahan segera menyergapmu.

Nah, seperti itulah. Kalau mentalitas sudah jatuh, sehebat apapun kemampuan tidak akan mendatangkan hasil yang memuaskan. Tapi, walaupun “tidak jauh lebih mendingan” (maksud saya: “hanya” sedikit lebih mendingan), kalau mentalitasnya baik, masih ada kemungkinan memetik hasil menyenangkan, asalkan berhasil mengembangkan dan meningkatkan kemampuan (hehe, kekeuh pake embel-embel “kemampuan”).

Sebenarnya rumusannya tidak simpul mati seperti itu. Kan kita juga yakin dengan takdir Allah, toh kita masih juga harus berharap dengan ridho Allah. Dan pesan cinta-Nya juga menyeka hati kita, “Innallaha laa yughoiyyiru maa biqoumin hattaa yughoiyyiru maa bianfusihim.” (Kalimat dalam kurung ini bukan terjemahannya hehe…. Hayuklah sama-sama lihat QS. Ar-Ra’d 11. Oh, masih berkaitan dengan “kemampuan” juga ternyata🙂 ).

Salam semangat, sahabat! ^_^

 

12 thoughts on “Madrid Vs Barcelona (Bicara Mentalitas)

  1. saatnya solat subuh di masjid (hehe, ga nyambung ya :p). sedang serius baca lalu diselingi tulisan ini.. gubrag!!😛

    kalo kata guru ppkn saya mah dengan memelihara mentalitas pemenang sebelum bertanding sama artinya dengan memenangkan 50% pertandingan, sisanya tinggal serahkan pada kemampuan… *bener ga? :D*

    tapi mentalitas emang yang paling susah sih kang, gimana dong?😛

  2. ahahaha……..
    kalo versi pelatihnya madrid, barca tuh tim yang dah jadi… sedangkan madrid tim yang baru dibentuk, jadi butuh waktu yang cukup lama agar madrid siap….
    emangnya sulap… bim salabim jadi apa prok….prok…prok….
    hehehhe😀

  3. keren-keren..
    timnas sekarang di piala AFF harus punya mentalitas juara untuk meraih gelar di AFF
    mampir ke blog saya yah,, bola semua di blog saya mah,, heheheee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s