Seperti Dua Mata

 

/ i /

Perjalanan Lampung-Bandung bulan Oktober itu terasa begitu berbeda. Sudah sering saya melakukan perjalanan serupa, sebagaian besar waktu biasanya dihabiskan untuk tidur. Perjalanan malam memang tidak mengizinkan mata ini menangkap bayang bukit barisan yang berderet-deret, atau sekadar takjub menyaksikan pohon pisang yang berbaris-baris, yang ketika daunnya tertiup angin seolah melambai mengucap sayonara. Apa kiranya pilihan kegiatan paling lumrah dalam kegelapan seperti itu? Tidur.

 

Perjalanan Lampung-Bandung bulan Oktober itu terasa begitu berbeda. Sudah sering saya melakukan perjalanan serupa, sebagian besar waktu biasanya dihabiskan untuk tidur. Ketika lampu bis sudah dimatikan sejak awal perjalanan, ketika itu juga mata mulai meredup. Saat bis memasuki kapal laut dengan tujuan BakauheniMerak, itu merupakan saat-saat paling membosankan karena menyaksikan antrian panjang atau menunggu kapal menepi di dermaga. Apa kiranya pilihan kegiatan paling lumrah dalam kebosanan seperti itu? Tidur.

 

Perjalanan LampungBandung bulan Oktober itu terasa begitu berbeda. Sudah sering saya melakukan perjalanan serupa, sebagian besar waktu biasanya dihabiskan untuk tidur. Waktu kapal laut mengarungi Selat Sunda, itulah waktu ketika isi perutmu seperti dikocok-kocok oleh air laut yang mengombak. Percayalah, perjalanan malam sama sekali tidak mengizinkan matamu mendokumentasikan birunya laut atau menyaksikan satu dua lumba-lumba berenang-renang menyejajarkan diri dengan kapal laut. Jika nekat menghabiskan malam di geladak atas kapal, maka terjangan angin laut, ditambah guncangan ombak, akan membuatmu merasa mual. Jadi, apa kiranya pilihan kegiatan paling lumrah dalam keadaan serba-salah seperti itu? Tidur.

Tapi seperti saya bilang di atas: perjalanan kali itu begitu beda. Perjalanan bulan Oktober 2010 lalu berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Benar saya memilih tidur ketika bis mulai berjalan, tapi ketika bis akan memasuki kapal, saya sudah tidak bisa tidur lagi. Saya sudah mencoba berbagai trik untuk tidur, mulai dari menghitung domba sampai mengosongkan pikiran, tapi hasilnya nihil. Mati-matian saya memejamkan mata, tapi tidak juga tertidur.

 

Saya ambil mushaf, lalu saya tilawah. Lampu bis saat itu belum dinyalakan, saya membaca dengan mengandalkan lampu handphone. Dengan begitu, saya berharap segera disergap kantuk. Saya tahu, ketika mata saya lelah karena membaca dalam remang, ketika itulah saya akan mengantuk. Benar saya menguap, tapi tetap tidak bisa tidur.

 

Bis sekarang sudah berada di atas kapal, lampu bis dinyalakan. Sia-sia sudah usaha saya mengundang kantuk. Kalau dalam remang saja sulit tidur, apalagi saat benderang. Saya tutup mushaf, saya terdiam beberapa lama, pikiran saya mengawang entah ke mana.

 

Selanjutnya saya baca buku Dalam Dekapan Ukhuwah, karya Salim A. Fillah. Buku inilah yang mengisi libur lebaran selama di Lampung. Pada perjalanan laut dari ujung Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa malam itu, saya sampai di bab “Memilih Sikap Selembut Nurani”.

Bab ini menerangkan detik-detik kejatuhan Khalifah ‘Ustman ibn ‘Affan. Disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn Saba’, Yahudi yang pura-pura masuk Islam, adalah pangkal mula fitna

h zaman itu. Dialah yang membesar-besarkan perbedaan antara ‘Ustman dengan ‘Abdullah ibn Mas’ud tentang salat qashar di Mina dan pemusnahan mushaf yang berbeda dengan mushaf al-Imam untuk menghindari perselisihan umat. Dia juga yang menyebabkan perbedaan pandangan antara ‘Ustman dan ‘Ali tentang pengangkatan beberapa pejabat sehingga menjadi masalah yang memuai. Dia membawa kabar ikhtilaf itu ke mana-mana disertai dengan dengki dan semangat penghancuran, agar masyarakat membenci ‘Ustman radhiyallaahu ‘anhu.

 

Pada bab ini juga menceritakan kelembutan hati ‘Ustman ketika menengahi perselisihan antara Ka’b al-Ahbar, seorang bekas rahib Yahudi, dengan seorang oposan sejati, Abu Dzar al-Ghifari. “Orang yang telah berzakat, telah terbebas dari kewajiban lain atas hartanya,” begitu Ka’b mendebat Abu Dzar.

 

Abu Dzar tidak terima. “Hai anak Yahudi! Ada apa kau di sini dan mau apa?!” Abu Dzar menghardik seraya melayangkan tangan ke kepala Ka’b al-Ahbar. Ka’b tersungkur, luka menganga di kepalanya.

 

‘Ustman yang melihat itu semua tidak ganti membentak Abu Dzar atau menghardik Ka’b, ia justru menangis. Hatinya memang halus dan lembut. “Wahai Abu Dzar, saudaraku,” katanya tersedu, “takutlah kepada Allah. Jagalah manusia dari lisan dan tanganmu.”

 

Kalimat singkat yang dilisankan oleh ‘Utsman itu membuat Abu Dzar bergetar. Tungkai kakinya seakan tidak mempu menahan beban tubuhnya. Kenangannya mengembara saat Nabi menegurnya, “Sungguh di dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah.” Sebuah teguran karena ia mencaci Bilal sebagai keturunan budak hitam. Rasa sesal segera menyergap, melumpuhkan emosinya. Matanya berkaca-kaca. Selanjutnya, ia siapkan diri mematuhi titah ‘Utsman.

 

“Seandainya ‘Utsman memerintahku agar berlaku seperti budak hitam Habasyah, aku pasti akan mendengar dan taat,” begitu Abu Dzar berkata menanggapi tawaran ‘Utsman agar dirinya pindah dari Madinah ke Rabdzah.  Lalu ia melanjutkan, “Bahkan, jikapun ‘Utsman menyalibku di atas batang kayu, aku juga pasti menaatinya dan kuanggap hal itu sebagai kebaikan bagi diriku.”

Subhanallah, sulit saya menahan agar mata ini tidak berembun ketika membaca kisah ini. Bahkan oposan sejati sekaliber Abu Dzar al-Ghifari pun begitu mudah mengakui bahwa dirinya bersalah dan begitu hormat ia kepada pemimpinnya. Sifat kritis yang tidak tergoda untuk menjadi sinis. Luar biasa!

 

Kemudian berlanjut ke kisah ketika Sa’d ibn Abi Waqqash didatangi keponakannya. Saat itu Ali ibn Abi Thalib telah wafat, lalu Mu’awiyah ibn Abi Sufyan mengambil bai’at untuk dirinya sendiri sebagai raja. Banyak juga umat Islam yang geram atas kelancangan Mu’awiyah tersebut.

 

“Wahai paman, sesungguhnya di belakangku terhunus seratus ribu pedang. Mereka semua bersumpah atas nama Allah bahwa engkaulah satu-satunya sahabat Rasulullah yang terjamin masuk surga dan merupakan anggota syura ‘Umar yang masih hidup, adalah orang yang paling berhak atas khilafah ini!” kata keponakan Sa’d berapi-api.

 

Sa’d tersenyum. Ia paham bahwa perang hanya akan melahirkan tragedi. Tragisnya, kedua belah pihak sama-sama meninggikan asma Allah. Maka ia pun mengalah. “Duhai putra saudaraku, yang kuinginkan hanyalah sebilah pedang saja. Yang kukehendaki adalah sebilah pedang yang mampu menebas keras tanpa ampun, membelah tubuh orang kafir. Namun luluh lembut tak berdaya di hadapan orang mukmin. Demi Allah, jangan sampai ada darah insan beriman tertumpah atas nama diriku,” begitu Sa’d dengan kelembutan hatinya mencegah pertumpahan darah.

 

Bab ini ditutup dengan mengisahkan akhir hayat ‘Utsman bin ‘Affan. Itulah hari-hari ketika Madinah tampak kelam. Para pemberontak semakin beringas. Mereka memukul ‘Utsman hingga pingsan, lalu mengepung rumahnya selama empat puluh malam.

 

‘Ali lalu memerintahkan Hasan dan Husain untuk berjaga di rumah ‘Utsman. Terkumpullah sekitar 700 orang bersenjata lengkap, siaga membela kehormatan ‘Utsman. Hasan menemui ‘Utsman, “Demi Allah, hai amirul mukminin, perintahkanlah kami untuk bertindak!”

 

‘Utsman tak sudi terjadi pertumpahan darah. Tapi ia juga tak mau meletakkan amanah yang telah dititipkan kepadanya hanya untuk memenuhi tuntutan pemberontak.

“Pulanglah, wahai penghulu pemuda surga,” kata ‘Utsman, penuh kelembutan.

Hasan menyimak sepenuhnya.

“Setelah ini ayahmu akan menghadapi persoalan yang jauh lebih pelik daripada apa yang aku hadapi. Pulanglah dan dampingi dia. Demi Allah dia telah berbuat baik,” pungkas ‘Utsman.

 

Itulah hari terakhir ‘Utsman. Sebelumnya ia bermimpi bertemu Rasulullah yang sedang bersama Abu Bakar dan ‘Umar bin Khattab. Dalam mimpinya itu Nabi bersabda, “Hai ‘Utsman, engkau akan berbuka bersama kami hari ini, insya Allah.”

Betapa agungnya kehidupan para sahabat. Abu Dzar, Sa’d bin Abi Waqqash, Ali bin Abi Thalib, dan ‘Utsman bin Affan, mereka adalah bintang di langit zamannya. Sampai di akhir kisah ini, saya sudah tidak bisa lagi menahan tangis. Sekuat tenaga saya menahan isak, namun akhirnya pecah

juga. Buru-buru saya mengusap mata, kuatir ada penumpang lain yang melihat, lalu dibilang gila. Tapi, andaikan karena menangis yang disebabkan keinsafan tentang ukhuwah setelah membaca buku ini, lalu saya dibilang gila, maka saya rela.

 

 

/ ii /

Isi buku ini seolah menampar-nampar wajah saya. Saya jadi semakin sadar, ukhuwah atas dasar keimanan itu h

arusnya seperti Umar dan Abu Bakar, seperti Utsman dan Ali, seperti Rasulullah dan para sahabatnya. Ada landasan yang mengukuhkan ikatan batin di antara mereka.

 

Bohong kalau bilang ukhuwah tapi masih tak bisa menolelir kesalahan saudara sendiri. Percuma terlisan doa rabithah kalau tak jua ringan membantu saudara yang kesusahan. Tak berguna bertumpuk materi tentang ukhuwah, jika tak teraplikasi di kehidupan nyata.

 

Tapi di sisi lain, buku ini juga menyadarkan pembacanya, minimal saya, bahwa ukhuwah jangan sampai membuat kita tidak profesional. Contohlah misalnya ‘Umar bin Khattab, yang juga disebabkan karena ukhuwah, ia bisa menyebutkan kekurangan-kekurangan sahabatnya sedemikian detail. Dengan cara begitu, ia kemudian lebih memilih ‘Utsman bin ‘Affan sebagai khalifah selanjutnya, dibanding lima sahabat lainnya.

 

Maka tak salah rasanya, mengutip sajak dalam buku ini, saya mengambil perumpamaan dua mata sebagai analogi dari ukhuwah. Bukankah dua mata yang memandang ke arah yang baik bisa saling kuat-menguatkan? Bukankah jika salah satu mata melihat ke arah yang haram, mata yang lain bisa terpejam, sebagai reaksi ketidaksetujuan atas tindakan tetangganya? Dua mata, mereka dua fisik, namun tetap dalam satu jiwa. Mereka bisa saling kuat-menguatkan atau ingat-mengingatkan. Indah. Indah sekali.

 

Duhai sahabat, jika engkau bagaikan sebuah bola mata, maka izinkan aku menjelma menjadi sebuah bola mata lagi, yang mengambil tempat di sisimu. Dengan begitu, aku akan membersamaimu, mempercantik wajah ukhuwah kita. Dengan begitu, kita bisa menangis bersama dalam haru, menyorotkan binar dalam riang, saling jaga dari yang haram, saling menguatkan dalam kebaikan. Allahumma aamiin. Wallahu’alam.

 

 

 

Judul Buku      : Dalam Dekapan Ukhuwah

Penulis              : Salim A. Fillah

Penerbit           : Pro-U Media

 

*Kisah ini untuk diikutsertakan dalam Lomba Kisah Menggugah Pro-U Media 2010 di http://proumedia.blogspot.com/2010/10/lomba-kisah-pendek-menggugah-pro-u.html

10 thoughts on “Seperti Dua Mata

  1. pertamax has been occupied

    wah bung dedi, apa mungkin kita waktu itu naik di kapal yang sama?? saya juga pulang ke lampung bulan oktober kemaren dan melihat feri bertuliskan “we love indonesia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s