Corat-Coret IV

Desember yang dingin. Di tempat saya, bintang jadi jarang terlihat. Senangnya, akhir pekan lalu saya bertemu adik saya, ssttt, anak sma itu tampak tambah cantik (hehe, jangan terlalu serius, abang memuji adiknya, wajar kan?). Sampai-sampai saya ragu menggandeng tangannya ketika menyebrang dari Gramedia ke BIP. Khawatir ada paparazi yang motret, lalu masuk infotainment, fans pada komplain. Untuk kalimat terakhir, tentu saja itu khayalan tingkat tinggi :p

Hmm, banyak yang telah dilakukan, ternyata lebih banyak lagi yang belum diselesaikan. Banyak kejadian saya alami, tidak semuanya sempat tertulis. Beberapa di antaranya saya respons dengan corat-coret berikut ini. Selamat membaca🙂
===============================================================================

Coretan satu:
Menurut saya, remunerasi adalah ide paling konyol untuk memberatas korupsi. Ketika melakukan kecurangan, yang bermasalah itu mentalnya, bukan gajinya. Anggaplah remunerasi itu sebesar 100 juta. Lalu, apa sulitnya bagi oknum penguasa dan pengusaha untuk menaikkan suap hingga 10 kali lipat?

 

Coretan dua:
Kalau hari ini kamu shaum sunah hari Kamis, maka besok waktumu untuk solat Jumat. Kalau kamu solat Jumatnya dua hari kemudian, itu namanya “keyakinan yang terbelah”. Eh, mirip yang dilakukan beberapa orang saat Idul Adha yang lalu ya? hehe

 

Coretan tiga:
“Lebih baik meminta maaf daripada meminta izin,” begitu kata seorang teman yang terlanjur (sengaja?) menggunakan barang orang lain tanpa meminta izin terlebih dahulu. Saya tidak habis pikir, padahal ada keridhoan yang mendatangkan berkah dalam setiap izin yang diberikan kepada kita.

 

Coretan empat:
Di pekan ke-2 bulan November saya mengikuti pelatihan Android, di akhir pekannya saya diminta untuk bicara tentang legal drafting.
Di pekan ke-3 bulan November saya menyusun proposal lomba Android, di akhir pekannya saya diundang untuk bicara tentang kepenulisan.
Di suatu pekan Desember ini, saya mengakrabi Ruby on Rails, di akhir pekannya saya didaulat menyampaikan motivasi dasar kepenulisan.
Hmm, penghasilan dan hobi itu punya jalannya masing-masing. Penghasilan berguna untuk kehidupan, hobi berguna untuk kesenangan. Bagus kalau bisa disatukan: pekerjaan kita, ya hobi kita. Kalau tidak bisa? Selama punya kapasitas, kesempatan, merasa enjoy, dan bermanfaat, lakukan keduanya secara bergantian🙂


Coretan lima:
Uang itu terasa kecil bila diucapkan, namun terasa besar kalau sudah dalam genggaman. Uang 20 juta itu sepertinya enteng bila dilisankan. Sedangkan uang dua juta terasa besar bila sudah di tangan. Salam salut untuk sahabat-sahabat yang menolak gratifikasi, “meski” hanya satu juta.

 

Coretan enam:
Selama masih di kepala, ketakutan itu adalah ilusi. Ubahlah ia menjadi sesuatu yang nyata untuk dihadapi, lalu posisikan sebagai tantangan. Ada dua kemungkinan: menang atau kalah. Kalaupun kalah, itu jauh lebih melegakan daripada kamu tidak melakukan apa-apa karena tak punya nyali!

 

Coretan tujuh:
Menulis itu… kamu meniupkan “ruh” kepada huruf-huruf, lalu membiarkannya berjalan-jalan mewakili dirimu untuk menyapa orang lain.

 

Coretan delapan:
Kamu bisa punya uang banyak, harta berlimpah, dan kehidupan yang “wah”.  Tapi tanpa keharmonisan keluarga, semuanya bisa berubah jadi neraka. Sebaliknya, dalam keluarga yang harmonis, hidup sederhana terasa seperti surga🙂

22 thoughts on “Corat-Coret IV

  1. Ping-balik: Wakabareskrim Laporkan Gratifikasi Kenduri ke KPK | Berita Indonesia Terbaru - Harian-Berita.com

  2. banyak masalah bangsa yg blm diselesaikan dan berlalu begitu aja😦
    coret coret ini adalah kondisi bangsa yg meninggalkan kasus demi kasus gitu aja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s