Kontemplasi Pertemanan

 

Hari ini kita hidup di bumi yang kaya rasa. Bumi yang dihuni berjuta perangai. Dalam kondisi seperti itulah kita menjalin pertemanan dengan banyak orang. Sebuah hubungan pertemanan yang sebenarnya rentan retak bahkan pecah. Jika pada suatu masa dalam pertemanan itu kita menghadapi masalah, bijakkah kita menghadapinya dengan satu pendekatan saja? Padahal, sekali lagi, bumi ini begitu kaya rasa dan dihuni berjuta perangai.

 

Teman2 Terganteng🙂

 

Tidak, tidak… satu pendekatan dan sifat egois tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kita butuh saling pengertian, saling memahami, dan belajar untuk saling menyelami perasaan teman kita. Satu lagi, kita harus punya alasan kuat kenapa pertemanan itu harus dilanjutkan.

 

Mungkin kita sering mendengar dua sahabat bertengkar karena beda perangai, lalu berbeda jalan bahkan saling serang. Sejujurnya, bukan perangai masalah utamanya. Masalahnya adalah seberapa luas hati seseorang untuk memahami dan mengelola perbedaan. Bukankah Abu Bakar yang berhati lembut bisa berteman dengan Umar yang berperangai keras? Bukan sekali dua mereka silang pendapat. Tapi toh hati mereka tetap akrab. Mereka bisa saling memahami, mengapa kita tidak? Bukankah seharusnya kita juga punya seribu satu alasan yang dibingkai dengan pemahaman yang baik untuk mempertahankan pertemanan?

 

“Teman”, kata yang terdiri dari lima huruf itu telah berhasil menjadi kata ganti untuk orang yang terasa baik oleh kita, walaupun pada kenyataannya tidak selamanya baik. “Teman”, dialah orang yang membuat kita ingin memangkas jarak, ingin dekat meski tak ada yang perlu dibicarakan. Hadirnya ia mendatangkan kedamaian, juga kenyamanan.

 

Teman2

 

Di akhir episode kehidupannya, Rasulullah pernah meminta para sahabat untuk membalas jika mereka pernah disakiti oleh beliau. Lalu seorang laki-laki mengklaim bahwa tubuhnya pernah tersabet oleh Rasulullah di suatu peperangan. Sahabat yang lain unjuk suara, bersedia dicambuk untuk menggantikan posisi Rasulullah. Tapi laki-laki itu tetap pada pendiriannya, Rasulullah tak boleh digantikan, bahkan ia menyuruh Pemimpin kharismatik itu melepas bajunya. Sahabat yang lain geram, menganggap ini penghinaan! Ada yang sudah siap menebas lelaki itu dengan pedangnya. Di akhir cerita, kita tahu bahwa ini hanyalah strategi dari ‘lelaki nyeleneh’ itu untuk menunjukkan cintanya pada Rasulullah. Ia bermaksud memeluk tubuh orang yang dicintainya itu tanpa sekat, berharap syafaat dari dua kulit yang melekat.

 

Apa yang bisa kita pelajari dari kisah tersebut? Banyak. Salah satunya adalah sifat rendah hati Rasulullah untuk mempertahankan hubungan pertemanan. Bayangkan, seorang pemimpin dunia bersedia dihukum cambuk “hanya” karena ia tak sengaja mencambuk teman seperjuangannya.

 

Tuntas sudah beliau membayar kesalahan yang tidak disengajanya. Tinggallah sekarang kita di sini, menimbang-nimbang, sudah sesering apa kita kita berbuat salah kepada teman kita? Jangan dulu terlalu bersemangat mengingat yang tidak disengaja, mengingat kesalahan yang disengaja saja rupanya sudah menghabiskan banyak waktu. Bukan, bukan karena kita sulit mengingatnya, malah mungkin kesalahan itu terlalu banyak. Ingatan tentang kesalahan itu meledak-ledak, meronta-ronta ingin tertulis dalam daftar panjang kesalahan kita. Astaghfirullah…

 

 

=============================================================

Pada awalnya, tulisan ini hanya bermaksud merevisi tulisan lama yang berjudul “Seribu Teman belum cukup, Satu Musuh Terlalu Banyak”.

 

41 thoughts on “Kontemplasi Pertemanan

  1. Kalau saja ada mesin waktu seperti Quantum Lead, Time Voyager, Back to The Future atau apapun itu saya bakal mencegah diri saya di masa lalu untuk melakukan satu kebodohan, Tapi waktu tidak pernah bisa diputar barang sedetik. Pelajaran berharga buat saya, arti teman itu mahal sekali. Sampai detik ini saya merasa kehilangan sahabat saya yang dulu (koq jadi curcol ya?)

    • hhhmmm…
      iya yah… jadi kangen heheee….

      semoga dapet waktu yang pas….
      *bandung-jakarta kan deket… bisa lah klo nti ada agenda maen futsal bareng di akhir pekan hihii..

  2. di foto yg bawah ada ulet bulu besar ya kk😀
    (just kid)
    asiik ya bsa ngumpul2 lgi🙂

    #################################
    Mohon dukungannya atas event blog yang sedang saya ikuti..
    Mohon dibantu dengan mengklik “recomend facebook” dan mengcomment artikel saya
    Thanks ya semua

    mari kita menjadi pengguna IT yang sadar akan lingkugan
    “green computing to save our earth”

    >>> http://www.greand.co.cc <<<<
    #################################

  3. ya, sangat benar sekali… saya merasakan perasaan yang berkecamuk dalam hati waktu dulu. Saat masih muda dan bergaul menjalin pertemanan dengan orang sebaya,==> “Tidak, tidak… satu pendekatan dan sifat egois tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kita butuh saling pengertian, saling memahami, dan belajar untuk saling menyelami perasaan teman kita. Satu lagi, kita harus punya alasan kuat kenapa pertemanan itu harus dilanjutkan.”<==

  4. Sekarang susah mencari pertemanan yang abadi karena semua sibuk dengan urusan diri sendiri dan keluarga😆

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  5. sayangnya… saya selalu di posisi yang dimanfaatkan oleh sahabat2 sy… saya sih nganggap mereka sebagai sahabat… tapi ternyata mereka hanya butuh materi saya…(curcol) apaboleh buat… keinginan kadang tidak sesuai dengan kenyataan… kalo kata bondan “yasudahlah…”😀

  6. Assalaamu’alaikum wr.wb, Dhedhi…

    Apabila teman bertemu teman, maka kegembiraan akan timbul. Saya pernah membaca sebuah kalimat mutiara kata bahawa seseorang dapat dinilai dengan hanya melihat teman2nya.

    Kisah Rasulullah saw dengan sahabat di atas, sangat mengkagum dan mengharukan. Satu peluang yang baik untuk dapat mendakap tubuh insan mulia tanpa sebarang halangan. Kebijakan dari sebuah kisah sahabat yang tentunya menjadi teladan buat kita semua dalam menghindari permusuhan dan saling bermaafan.

    Salam persahabatan dari Sarikei, Sarawak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s