Syukur

Atas segala nikmat yang dititipkan Allah kepada kita, sudah semestinya kita bersyukur. Dititipkan, ya, karena memang semuanya “hanya” titipan. Akan ada masa ketika segala kenikmatan kembali diambil oleh Sang Pemilik. Dan kita bersyukur bahwa Allah percaya menitipkan nikmatnya kepada kita.

Dititipkan, ya, karena memang pada akhirnya semua akan lepas dari genggaman. Kalaupun tak lepas, minimal kita tak dapat menikmatinya lagi. Misalnya, kekayaan bisa jadi tetap melimpah, mau makan enak segala menu tinggal pesan ke koki. Tapi ketika gigi sudah tanggal satu per satu, lidah mulai tak cakap mengecap, lambung malah sering membuat limbung… apa mau dikata, batas-batas kenikmatan telah ditampakkan.

Dan kita bersyukur karena dipercaya Allah untuk merasakan nikmatnya, untuk kemudian dimaksimalkan bagi sebesar-besar kepentingan umat. Meski tak selalu pas, bolehlah kita ambil sebuah amsal. Ibarat teman yang menginvestasikan uangnya kepada kita. Kita tentu senang karena dia percaya kepada kita. Tapi uang itu titipan, kan? Betul saat ini ada di tangan kita, tapi tidak selamanya, kan? Untuk membalasnya, tak cukup hanya melisankan “terima kasih”. Karena yang lebih penting, uang tersebut harus digunakan untuk mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Nah, kalau terhadap titipan teman saja sudah begitu, apalagi terhadap titipan Allah.Mestinya kita berusaha lebih giat lagi untuk memaksimalkannya bagi kepentingan masyarakat. Orang lain harus merasakan efek dari rasa syukur kita. Begitulah cara kita membuktikan syukur.

Kalau kita bersyukur karena banyak harta misalnya, tentu tak cukup hanya syukur di lisan. Kita perlu memberi bukti tentang rasa syukur kita. Misalnya dengan memastikan bahwa orang-orang di sekitar kita ikut sejahtera. Kalau kita bersyukur karena banyak ilmu misalnya. Tentu tak cukup hanya mengucap syukur di lisan. Kita perlu membuktikan bahwa kita benar-benar bersyukur. Misalnya dengan memastikan bahwa orang-orang di sekitar kita juga ikut berilmu.

Begitulah di dunia ini, tempat kita membuktikan rasa syukur kita. Kalau sudah di alam kubur? Nah, lain cerita….

2 thoughts on “Syukur

  1. Apabila kita sudah dapat mempraktekan semua rasa syukur tersebut dengan ikhlas dan Ridho terhadap sesuatu yang diberikan Allah. Apapun yang akan kita terima, kita akan tetap bersyukur bahwa semua rezeki yang kita terima adalah titipan dari Allah yang tidak akan kita miliki selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s