Menghibur Diri

Shock!

 

Itu yang saya rasakan ketika mobil saya bersenggolan dengan angkot. Saat itu saya mau parkir. Tapi rupanya ada angkot yang terlalu mepet. Saya tenangkan diri, meski tentu tidak berhasil sepenuhnya. Segera terbayang goresan di bumper depan.

 

Tapi bukan goresan semata yang jadi pikiran. Itu soal kecil. Percaya? Ya, ga, lah! Mobil baru tiga minggu diboyong dari dealer gitu loh! Ok, saya ralat: soal besar yang insya Allah solusinya gampang. Karena mobil itu sudah diasuransikan. Yang jadi masalah, perbaikannya butuh waktu, sedangkan motor lagi rusak. Alamat terhambat banyak aktivitas.

Saat masih menimbang-nimbang seperti itu, saya mundurkan mobil. Jelegggerrrr! Bumper belakang menghantam trotoar. Double shock!

 

Setelah itu apa?

 

Saya sadar, ini ada dua masalah: mobil dan hati. Mobil saya lecet. Hati saya ga terima kejadian itu. Dan tiap masalah ada solusinya masing-masing. Masalah mobil, ya ke bengkel. Masalah hati, ya hiburan. Ini hari minggu, semua bengkel tutup. Solusi untuk mobil berarti memang harus ditunda. Maka saya putuskan menghibur diri.

 

Betul hati masih kalut, tapi apa gunanya terus galau? Mobil rusak sudah merupakan satu kerugian, buat apa menambah beban dengan membiarkan pikiran mumet? Jika tidak bisa menyelesaikan keduanya, bukan berarti harus meninggalkan semuanya, kan?

 

Akhirnya saya ajak keluarga jalan-jalan. Pertama, mampir ke Rumah Buku di Supratman. Beli beberapa buku yang menarik. Kedua, memanjakan lidah di Sushi Tei di Trans Studio Mall. Terakhir, nonton film Premium Rush di XXI.

 

Saat milih-milih buku, saat makan sambil baca, dan saat nonton film, hati saya memang terhibur. Tapi setelah semua selesai… tek… kok saya hati saya masih merasa ga enak ya? Tapi saya sadar bahwa akan jauh lebih tidak enak seandainya setelah kejadian nyenggol angkot plus trotoar itu, saya terus mengutuk diri dan berdiam diri di rumah. Saya sadar, keputusan menghibur diri sesaat ini sudah tepat.

 

Kalau usai menghibur diri masih merasa ga enak hati, itu wajar. Sumber masalahnya, yaitu mobil, memang belum selesai. Dengan menghibur diri, saya ingin memberi waktu kepada hati saya untuk pulih. Mungkin semacam ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri.

 

Terbukti, setelah hati menjadi lebih tenang (bukan berarti tanpa beban ya), pikiran menjadi lebih jernih. Lalu saya melihat mobil lagi, memeriksa dengan lebih teliti. Saya bilang, “Oh, insya Allah bukan masalah besar. Mungkin hanya butuh waktu seminggu. Dan selagi memperbaiki motor, saya bisa bikin deal dengan pihak bengkel agar perbaikan mobil mengikuti keinginan saya.” Malam itu saya tidur nyenyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s