Nostalgi(l)a

Ah, kenangan. Kecuali untuk hal-hal yang memang sangat sensitif, kenangan-kenangan ringan nan kocak memang begitu enak diulang. Sorry, maksudnya begitu enak diceritakan ulang.

 

Iya, cuma bisa diceritakan ulang. Ga mungkin dong mengulang masa lalu? Kejadiannya memang bisa sama persis, misalnya makan bakso di suatu tempat, tapi pasti suasananya beda. Nah, itu kenapa semua kenangan cuma bisa diceritakan ulang. Singkat kata, sejarah memang untuk dikenang, bukan diulang.

 

Iya, cuma enak untuk diceritakan ulang. Ga percaya? Coba deh, tanya sama orang-orang yang punya kenangan-kenangan itu, apa benar-benar mau mengulang masa lalu? Pertama jawab, mungkin dia jawab mau. Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin jawabannya tidak.

 

Karena kisah hidup silih berganti. Setiap ada kenangan manis, pasti ada kenangan pahit. Setiap ada cerita sukses, pasti ada cerita gagal. Setiap ada pertemuan, pasti ada perpisahan. Setiap ada keberhasilan, pasti ada pengorbanan. Seterusnya, begitu.

 

Mungkin memang ada yang mau kembali ke masa SMA, merasakan indahnya pertama kali jatuh cinta. Tapi, ayolah, SMA ga cuma jatuh cinta aja, kan? Siapa mau mengulang saat-saat belajar siang malam untuk kemudian deg-degan menunggu pengumuman lulus ujian nasional? Siapa mau pontang-panting mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi? Silakan kalau ada yang mau mengulang itu semua, saya tidak  :-)

 

Sekali Lagi: Hanya untuk Dikenang

 

Seorang ustadz pernah cerita. Dulu, dua bulan setelah menikah, ia harus meninggalkan istrinya ke Arab Saudi. Bukan untuk jadi TKI, tapi belajar dengan fasilitas beasiswa. Hari-hari dilalui dengan perasaan rindu berat. Handphone belum ada, apalagi Skype dan sejenisnya.

 

Maka komunikasi dijalin dengan merekam suara lewat kaset. Setiap hari merekam suara dan setiap hari mengirimkannya lewat kantor pos. Dilakukan setiap hari agar tidak ada “delay”. Jadi setiap hari bisa menerima kiriman kaset berisi suara pasangan tercinta.

 

Hingga saat bertemu kembali di bandara setelah menyelesaikan kuliah. Hatinya merasa gempita, senang tak terkira. “Itu salah satu kenangan paling indah dalam hidup saya,” katanya. Tapi ketika ditanya apakah ia mau mengulangnya kembali? Buru-buru ia jawab, “Tentu tidak.”

 

Saya juga pernah mengalami kejadian serupa tapi tak sama. Dua pekan setelah menikah, saya harus meninggalkan istri untuk ke Jerman. Saat itu ada training dan internship di kota Berlin dan Munchen. Beruntungnya, di jaman saya teknologi video call sudah familiar digunakan.

 

Hampir tiap hari Skype-an. Kalau di apartemen sinyalnya lagi jelek, saya nangkring di pinggir jendela. Kalau di kereta lagi ga ngobrol dengan teman, biasanya kirim message via Facebook. Saat itu musim gugur. Saya sempat corat-coret begini:

 

Di sini daun-daun mulai menguning dan gugur,

Sedang cintaku berbunga tak henti-henti

Srihani, kau kah itu,

Yang seperti kata Iqbal, meniup kuncupku mekar jadi bunga?

 

Bagi saya, ini salah satu kenangan indah dalam hidup saya. Saat-saat cinta diuji di awal pernikahan. Indah untuk dikenang. Enak untuk diceritakan. Tapi, apa saya mau mengulangnya? Jawabnya pasti: tidak!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s