Ketakbergunaan dan “Sebenarnya…”

Kita bisa punya banyak hal, tapi belum tentu berguna. Kalaupun berguna, tapi penggunaannya sangat minimal, menurut saya itu masuk kategori “tak berguna”. Tanpa disadari, mungkin banyak kejadian serupa yang kita alami.

Kita punya banyak buku, tapi ada buku yang sampai lapuk dimakan rayap, atau rusak terendam banjir, kita tak sempat membacanya –entah karena memang sibuk, entah memang tidak pernah menyempatkan diri. Kita punya banyak pakaian, tapi ada pakaian yang sampai berjamur, ada juga yang menguning karena disimpan terlalu lama di lemari, padahal baru dipakai sekali dua kali.

Tapi ada juga saat sesuatu menjadi “tak berguna” ketika sesuatu itu tidak dapat menjadi solusi dari permasalahan yang ada dalam satu waktu. Seorang anak yang lapar, bertanya kepada ibunya, “Ada sayur apa, Bu?” Dengan nada minta dimengerti, si ibu bilang, “Sebenernya ada banyak sayur di kulkas, tapi ibu lagi males masak, kita beli aja ya di warung padang.”

Nah, itu contoh ketika “sayuran di kulkas” tidak menjadi solusi dari problem “lapar” si anak. Betul ada sayuran, tapi menjadi tak berguna (pada saat itu) ketika tak dimasak. Kata “Sebenernya ada…” itu semacam sinyal awal bahwa kata selanjutnya tidak sesuai harapan. Kata “Sebenernya ada” memiliki rasa yang sama dengan “Sebenarnya bisa…”, “Sebenarnya pintar…”, “Sebenarnya baik…”. Kesemuanya –dan tentu masih banyak lagi contoh lainnya, menunjukkan bahwa kalimat setelahnya merupakan sesuatu yang idealnya tak terjadi.

Bagaimana, apakah kita masih sering menciptakan ketakbergunaan? Emm, sebenarnya saya…. Ah, mulai lagi!

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s