Jangan-jangan, Kitalah yang Seharusnya Meminta Maaf

Hasan dan Husain. Kedua permata hati Rasulullah itu suatu saat bertengkar. Mereka mendiamkan satu sama lain selama beberapa waktu. Terus begitu. Hingga akhirnya Husain mengirim surat kepada Hasan. Begini intinya:

 

Saya tahu kebaikan dan pahala bagi orang yang memulai berbicara dan memaafkan setelah bertengkar. Hanya saja, saya tidak ingin mendahului kakak untuk mengambilnya.

 

Tertegun saya mendapat kisah tersebut. Salut saya dengan cara Husain menyelesaikan perselisihan. Tapi lebih salut lagi ketika ia memberi kesempatan bagi saudaranya untuk mengambil kemualiaan. Kemuliaan yang harus diambil dengan pengorbanan, tentu.

 

Tapi mungkin di situlah masalah kebanyakan orang. Banyak yang menginginkan kemuliaan, tapi tidak semua bersedia berkorban. Dalam kisah Hasan dan Husain tersebut, ada ego yang harus dikorbankan. Sanggupkah kita meneladaninya?

 

Hampir setiap mendapat kisah saling memaafkan antara dua tokoh besar, kita merasa kagum. Lalu “ingin” mencontoh mereka. Tapi ternyata ingin saja tidak pernah cukup. Harus ada tekad kuat untuk mewujudkannya.

 

Lha, tapi kita bukan tokoh besar, kan? Kalau kita berselisih dengan teman sekampus misalnya, lalu saling memaafkan, bukankah itu soal biasa? Ah, kata siapa! Tidak ada yang biasa-biasa saja dalam peristiwa saling memaafkan. Meskipun kita sekecil semut sekalipun, perbuatan memaafkan tetaplah dicatat sebagai amal yang mendatangkan kemuliaan.

 

Astaghfirullah. Saya jadi melihat diri pribadi. Jangan-jangan, sebenarnya sayalah yang lebih layak mendapat maaf dari orang-orang terdekat, semisal adik, anak, istri, dan seterusnya. “Mendapat maaf” itu maksudnya sesuatu yang diberikan kepada saya setelah saya “meminta maaf”.

 

Karena bisa jadi, tanpa saya sadari, saya yang lebih banyak melakukan kesalahan kepada mereka. Karena tanggung jawab saya lebih besar daripada mereka, tentu peluang saya melakukan kesalahan akan lebih besar. Mungkin ada hak istri yang terabaikan. Mungkin ada hati yang diam-diam terluka.

 

Merinding saya membayangkan, jika suatu saat anak istri menyindir dengan menulis surat:

 

Ayah, sebenarnya kami tahu keutamaan dan pahala bagi orang yang meminta maaf terlebih dahulu. Tapi Ayah sebagai kepala keluarga, yang seharusnya memberi contoh yang baik-baik, namun solat tahajudnya terlihat asal dan terburu-buru di tengah jeda el clasico, tentu lebih pantas mendapat kesempatan untuk mengambil kemuliaan itu.

 

 

Astaghfirullah. Wallahu’alam.

 

4 thoughts on “Jangan-jangan, Kitalah yang Seharusnya Meminta Maaf

  1. Sementara untuk yang horizontal (sesama manusia), sarananya adalah forum silaturahim dan saling memaafkan tadi. ”Sehingga usai Ramadhan, kita terbebas dari aneka dosa,” ujar Kiai Ma’ruf.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s