Bergigih-Gigih Dahulu

Setiap kita pernah bertemu dengan orang seperti ini: semangat di awal, lalu semaput ketika menjumpai kesulitan. Selanjutnya, dadaaah, hilang entah ke mana.

Saya sering menjumpai orang jenis ini di dunia tulis-menulis. Ada orang yang awalnya semangat gabung di komunitas kepenulisan. Lalu setelah lima kali pertemuan, hilang entah ke mana. Semoga mereka yang “hilang” itu adalah mereka yang sudah menjadi jago dalam menulis. Sehingga memutuskan tidak perlu ikut komunitas lagi. Atau minimal mereka punya kesibukan lain yang lebih bermanfaat. Itu prasangka baiknya, dan saya harap itu yang terjadi.

Lantas, bagaimana kalau ternyata alasan mereka menghilang itu karena “merasa” gagal? Sudah lima pertemuan, kok belum berhasil juga jadi penulis? Kok belum nongol juga hasil karya di koran? Kok belum bisa nulis buku juga?

Haloooo… apapun itu, butuh proses. Bahkan sesuatu yang disebut “mie instan” juga butuh proses untuk siap dimakan. Bepergian dengan kereta super cepat juga butuh proses untuk sampai ke tempat tujuan. Semua orang butuh waktu untuk punya kemampuan. Kalau ga punya waktu, jangan bermimpi tentang hasilnya.

Kalau memang punya ketertarikan di suatu bidang, teruslah berlatih. Meskipun belum ada kemajuan yang terlihat. Karena bisa jadi, ketika kita memutuskan berhenti, sebenarnya kita sedang di ambang keberhasilan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s