Hikmah Menulis: Meski Tak Berlanjut, Tapi Tak Pernah Habis

Saya tidak mengenal Novilia Lutfiatul secara pribadi. Saya hanya sepintas mengetahui kabarnya dari twitter dan facebook. Dialah salah satu korban meninggal bus PO Raharja yang mengangkut rombongan FULDFK (Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran) Seluruh Indonesia pada 4 November 2012 di Batu Raden, Purwokerto.

Pagi ini saya sempatkan main ke blognya. Posting terakhirnya pada 1 November 2012 berudul “BANJIR HIKMAH DI FK #PART 1”. Isinya tentang kebesaran Allah mendesain tubuh manusia. Ini kutipannya:

Mengapa makanan yg berproses di lambung dan di usus halus masih bisa dimuntahkan? karena pembatas antar organ tersebut hanyalah SPHYNCTER berbentuk cincin yang bisa membuka ketika mendapat rangsang tekanan.

Mengapa makanan yg berproses dalam usus besar tidak bisa dimuntahkan? karena Allah Maha Cerdas.
Dia ciptakan KATUP seperti daun pintu yang hanya bisa membuka ke satu arah. Dengan tekanan tinggipun, katup tsb tak akan bisa membuka ke arah yang berlawanan.

kalau Allah tidak cerdas, feses di usus besar akan bisa dikeluarkan juga melalui mulut.

# Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Saya terpaku pada judul tulisannya. Ada embel-embel “part 1”-nya. Langsung saya berpikir, andai penulisnya masih bisa menulis, sampai part berapa kiranya tulisan itu? Bisa jadi itu tulisan yang tak pernah berakhir. Bayangkan, dengan cerdiknya dia menulis tentang hikmah. Siapa yang bisa membatasi hikmah kecuali Allah?

Namun akhirnya Allah juga yang menentukan. “Part 1” itu menjadi tulisan terakhir yang diposting Novilia. Tulisan berseri itu harus berakhir ketika penulisnya baru memulainya.

Tapi, “akhir” itu tidak selalu berarti “habis”. Tulisan  Novilia pada akhirnya memang harus berakhir, namun hikmahnya bisa jadi terus berlanjut. Dan dari tulisan yang dipostingnya semasa hidup itulah, saat ini kita bisa menemukan berbagai hikmah.

Selamat jalan Novilia. Semoga engkau –seperti yang kau impikan– menjadi perempuan yang dicemburui bidadari surga. Allahumma aamiin.

Wallahu’alam.

One thought on “Hikmah Menulis: Meski Tak Berlanjut, Tapi Tak Pernah Habis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s