Sepotong Rabithah di Suatu Ashar

Hari sudah Ashar. Langit terang. Cuaca tidak terik, juga tidak mendung.

Sambil mengendarai motor keluaran sepuluh tahun lalu, saya mendendang sebuah lagu. Rabithah, dari Izzatul Islam (Izzis). Acak saja memilihnya. Sedapatnya saja.

Sampailah saya di lirik ini:

Lapangkanlah dada kami, dengan karunia iman

Dan indahnya tawakal pada-Mu

Saya ulang-ulang lirik itu. Semakin saya ulang, semakin saya tersentuh. Mata saya basah pada akhirnya.

Ya, Allah… karunia iman… karunia iman. Dada yang lapang karena karunia iman. Adakah kenikmatan lain yang saya harapkan melebihi itu?

Ketika secuplik kisah Rasulullah tergambar di benak, rasa haru makin menjadi.

Saya mengira-ngira, bagaiman kecamuk hati kaum Anshar saat mereka dikumpulkan oleh Rasulullah usai perang Tha’if? Bagaimana gejolak dada mereka saat kata-kata Rasulullah menggedor-gedor nurani mereka? Penduduk asli Madinah itu dikumpulkan sebab ketidakpuasan terhadap pembagian harta rampasan perang.

Ada kasak-kusuk yang kudengar dari kalian. Dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadapku,” pemimpin agung itu membuka pertemuan. “Bukankah dulu aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian? Bukankah kalian dulu miskin, lalu Allah membuat kalian kaya, juga menyatukan hati kalian?” tanyanya, menyegarkan ingatan bertahun-tahun silam.

“Begitulah, Allah dan Rasul-Nya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya,” jawab kaum Anshar.

Tidakkah kalian ingin menjawab seruanku, wahai semua orang Anshar?

“Dengan apa kami harus menjawab? Milik Allah dan Rasul-Nya semua anugerah dan karunia.”

Jika kalian mau, kalian bisa berkata:Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan, lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah, lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir, lalu kami memberi tempat. Engkau datang dalam keadaan papa, dan kamilah yang menampungmu.’,” terang Rasul.

Tidak ada yang buka suara. Semua menyimak dengan sungguh.

Wahai semua orang Anshar, apakah kalian tidak berkenan di hati, jika orang lain pergi membawa domba dan unta, sedangkan kalian kembali bersama Rasul Allah ke tempat kalian tinggal? Demi yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku termasuk orang-orang Anshar. Jika orang-orang menempuh suatu jalan di celah gunung, dan orang-orang Anshar menempuh suatu celah di gunung yang lain, tentu aku memilih celah yang ditempuh orang-orang Anshar,” kata Rasul.

Keharuan makin mendekap. Mereka menangis sejadinya. Jenggot mereka basah dengan air mata.

Ya, ya… adakah harapan yang melebihi harapan untuk “pulang” bersama Rasulullah? Dada orang-orang Anshar yang semula sempit, tiba-tiba menjadi luas karena iman yang meluap-luap. Adakah kebahagiaan yang melebihi itu?

Lalu, saya membayangkan pejuang-pejuang Islam yang sekuat tenaga menjalankan perintah Allah. Di antara mereka ada yang disiksa, dikucilkan, difitnah, bahkan dibunuh. Dan saya hanya menemukan ketegaran dalam kisah hidup mereka. Bagaimana bisa?

Ya, dengan iman di dada, apa yang dapat menyempitkan hati mereka? Mereka sudah mengusahakan apa yang mereka bisa, tinggal menyerahkan hasilnya pada Allah. Indah, bukan?

Hmm, maka saya maklum dengan doa Hasan Al-Banna –yang menjadi inspirasi lagu Izzis di atas:

lapangkanlah dada kami dengan karunia iman

dan indahnya tawakal pada-Mu.

3 thoughts on “Sepotong Rabithah di Suatu Ashar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s