Dedi Setiawan

Sebagai dokumentasi, inilah isi page Dedi Setiawan di blog ini, periode 9 Desember 2010 – 26 Februari 2013. Selama periode itu, Blogger yang komentar biasanya menyoroti tentang “kelengkapan” datanya hehehe. Saya memang mau berbagi tentang beberapa info pribadi saat itu🙂

*****

 

Saya dibesarkan dalam kultur keluarga yang sangat menghargai ilmu (ayah dan ibu saya guru sodara-sodara). Dididik oleh seorang ayah yang tegas, ibu yang penuh kasih sayang, dan berkembang sebagai anak laki-laki satu-satunya, membuat saya memiliki sifat ambivalen: keras kepala sekaligus mau mengalah, punya sifat manja sekaligus mandiri dan dewasa.

Tumbuh di lingkungan masyarakat Lampung membuat saya mudah memulai pertemanan dengan siapa saja. Saya tidak sungkan menyapa orang yang saya temui di bis, atau berteduh saat hujan, atau ngobrol dengan pedagang di pinggir jalan. Bandung menjadi kota pilihan ketika melanjutkan kuliah. Di Kota Kembang inilah saya tertarik dengan banyak hal.

Pendidikan:
Kelas 1-4 SD Negeri 3 Perumnas Way Halim Bandar Lampung
Kelas 5-6 SD Negeri 1 Perumnas Way Halim Bandar Lampung
SMP Negeri 19 Bandar Lampung
SMA Negeri 2 Bandar Lampung
Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi (IT) Telkom, Bandung

Tambahan:

  • Saya gak terlalu ingin ikut campur urusan orang lain. Saya sangat jarang tanya sana-sini untuk mengetahui kehidupan seseorang.
  • Orang bilang saya supel? Hehe, buktikan sendiri aja ya, masing-masing orang kan punya penilaian sendiri.
  • Saya cepat mengembalikan semangat diri sendiri. Saya tidak ingin semangat saya dipengaruhi oleh ketidaksemangatan orang lain.
  • Ketika diberi pilihan, saya butuh waktu untuk benar-benar mempertimbangkannya.
  • Saya suka lupa waktu kalo udah ngutak-ngatik sesuatu yang berhubungan dengan website, entah itu coding, desain, atau sekadar mengatur tampilan posting🙂

 

Makanan dan Buah
================

Saya pemakan segala hahaha.
Tapi kalau boleh milih, ini makanan yang saya suka: sate kambing muda, bebek panggang, sambal tempe urag-arig (yang dipotong kecil-kecil itu lho) buatan ibu saya🙂
Untuk buah, yang paling saya sukai adalah buah durian.

Yang Tidak Biasa
===============

  • Orang bilang nonton di bioskop sendirian itu menyedihkan. Tapi, bagi saya itu justru menyenangkan.  Semacam sarana untuk melatih mental🙂
  • Kalau lagi jalan sendirian di trotoar, saya lebih tertarik jalan di sisi terpinggir.
  • Ketika membeli buku, saya rela mengalokasikan waktu untuk mengambil beberapa buku yang masih dibungkus plastik, lalu membandingkan mana yang paling bagus penampakannya. Haha, lucu ya, padalah bungkus plastik itu nantinya akan dirobek, lalu dibuang. Tapi, inilah saya🙂

 

Hal yang Tidak Disukai
====================

  • Buku yang dipinjam ama temen ternyata dibalikin dalam keadaan lecek, kotor, sampul atau halamannya terlipat, terlebih lagi kalau halamannya sobek T___T
  • Diajak ngobrol saat sedang membaca.
  • Gak tepat waktu. Menunggu adalah neraka, eh?

 

Cara mengusir BT
===============

Banyak cara mengusir BeTe. Jalan-jalan ke pantai? Of course. Tapi, dalam waktu yang sempit dan persiapan minim, saya melakukan hal berikut:

  • Main ke toko buku. Entah kenapa, melihat buku-buku berjejer di rak toko buku, membuat saya merasa senang.
  • Tidur. Saya melupakan sejenak permasalahan yang terjadi. Setelah bangun tidur, saya merasa ada semacam kepercayaan diri yang baru untuk menghadapi masalah. Filosofi saya: setelah bangun tidur, saya punya tenaga baru, semangat baru, mental baru, dan… hidup baru🙂

 

Memperindah Tarian Keyboard
==========================

Sekitar bulan September 2009 saya mulai bertanya, kenapa saya suka dan mau belajar menulis? Sekuat pikiran saya tamasya ke masa lalu, ini hasilnya:

  • Waktu kecil, saya ngobrol dengan kakek (almarhum, semoga Allah senantiasa melimpahkan kebaikan untuk beliau. Aamiin).

    Kakek  : Apa cita-citamu?
    Saya     : Jadi insinyur. Kayak Habibie, pinter, bisa buat pesawat. Kalo Kakek?
    Kekek  : Mau jadi penulis.
    Saya     : Kenapa?
    Kakek  : Penulis itu membagikan ilmunya untuk orang-orang. Kalau dapat uang ya Alhamdulillah, kalau gak juga ya gapapa. Kalau kita meninggal, ilmu yang kita bagikan itu tetap bisa jadi amalan kita. Pahala kita ngalir terus.

    Setelah dialog tersebut, beberapa kali saya menjawab “ingin menjadi penulis”, ketika ditanya tentang cita-cita. Meskipun waktu itu saya gak tau penulis itu kerjanya gimana.

  • Waktu latihan ujian nasional kelas tiga SMP saya meraih nilai tertinggi untuk Bahasa Indonesia. 9,75 atau 9,5, saya lupa pastinya, yang saya tahu, itu bukan hasil yang buruk🙂
  • Waktu kelas tiga SMA, saya suka membuat puisi dan menulis buku harian.
  • Waktu kuliah, sesekali saya menulis opini di mading kampus (seingat saya, dalam kurun waktu 2006-2009, sangat jarang mahasiswa menulis opini untuk ditempel di mading kampus saya).
  • Setelah selesai masa organisasi kampus, saya bergabung di Forum Lingkar Pena (FLP) Bandung. Saya berharap bisa menguasai teknik menulis secara cepat.

    Berbulan-bulan saya bergabung di FLP Bandung, tapi sepertinya tidak ada peningkatan kemampuan yang berarti. Memang ada teknik menulis yang saya dapatkan, tapi bagi saya itu tidak cukup. Saya hampir kecewa, tapi saya terus mengikuti acara rutin FLP Bandung, yaitu Kamisan.

    Kemudian saya sadar: ini bukan kursus, ini komunitas, dan yang terpenting, ini tentang pembentukan mental. Pertama kali yang harus dibenahi ketika mau jadi penulis adalah mentalnya. Tentang teknik menulis, itu bisa didapatkan dari mana saja. Ya, menjadi penulis itu bukan produk instan, harus melalui proses.

    Efek dari terbentuknya mental itu adalah saya jadi mulai mandiri. Untuk mengetahui teknik menulis, saya mulai cari di internet dan menyisihkan uang untuk membeli buku.

    Akhirnya, saya mulai mengirim tulisan untuk media cetak. Majalah Tarbawi, Harian Pikiran Rakyat, Kompas, dan Bandung Ekspres adalah media cetak yang “pertama kali saya kirim tulisan ke mereka, eh, langsung dimuat”🙂

 

Tentang Berbicara
================

  • Waktu kecil suka dengerin sandiwara radio dan nonton film action, seperti film silat, Return of The Condor Heroes, Kera Sakti, dan Satria Baja Hitam. Saat keadaan rumah sepi, saya mengikuti gaya Brama Kumbara atau tokoh lainnya (Tanpa saya sadari, ternyata pikiran saya secara otomatis menyusun alur drama dan menjadikan diri saya sebagai lakon utamanya).
  • Waktu kecil suka dengerin ceramah Zainudin MZ. Lalu mengulang-ulang gaya bicaranya. Selanjutnya, saya bicara sambil bercermin, lengkap dengan gerak tangan dan ekspresi wajah.
  • Waktu SMA saya bukan organisatoris. Kalau tidak sangat sangat kepepet, mana mau saya berbicara di depan umum. Nah, sewaktu SMA inilah ada pelajaran berpidato, sekaligus praktiknya. Karena dipanggil secara acak, tidak semua anak mendapat giliran. Saya termasuk yang disuruh pidato di depan kelas. Waktu itu saya bicara tentang “introspeksi diri”. Selesai saya pidato, kelas yang tadinya hening mendadak riuh dengan tepuk tangan.Arief Lukmansyah, sahabat yang selama tiga tahun selalu duduk di samping saya, bilang: “Gw ga pernah mau maju ke depan kelas buat pidato setelah Dedi maju. Karena grafiknya akan menurun!” Haha, kami tertawa saat itu. Pak Tamba, guru Bahasa Indonesia saat itu, memberi apresiasi yang baik sekali. Sepertinya sepele ya, tapi sungguh peristiwa ini memberi efek percaya diri yang luar biasa bagi saya.
  • Sewaktu kuliah saya menjadi seorang organisatoris. Otomatis harus punya keberanian untuk bicara di depan umum. Kemampuan dan keberanian bicara di depan umum terus terasah ketika saya menjadi ketua DPM KBM IT Telkom periode 2007/2008 dan ketua FLP Bandung periode 2009-2011

 

Orang Indonesia yang Menginspirasi
==============================

  • Muhammad Hatta (Menyelesaikan pendidikan di Belanda. Wakil Presiden ke-1 RI)
  • B.J. Habibie (Menyelesaikan pendidikan di Jerman. Presiden ke-3 RI)
  • Romi Satria Wahono (Menyelesaikan pendidikan di Jepang. Pendiri ilmukomputer.com)

fixposter

 

 

Karena dengan melangitkan cita, kita mengundang terbitnya asa
======================================================

  • Ingin keliling Indonesia. Banyak orang ingin jalan-jalan ke luar negeri, saya juga mau hehe. Tapi, kalo disuruh milih antara keliling Indonesia atau jalan-jalan ke luar negeri, saya pilih yang pertama.
  • Meraih gelar doctor di negara Eropa atau Jepang.
  • Saya ingin memiliki lembaga pendidikan (lembaga kursus, bimbingan belajar, sekolah, dan/atau universitas).
  • Soal pekerjaan, saya tidak ngotot harus bekerja di mana dan sebagai apa. Yang pasti, apapun pekerjaan saya, baik soal teknis maupun manajerial, saya ingin terus mengasah kemampuan menulis dan berbicara. Apapun profesinya, saya tetap akan meretas jalan untuk menjadi penulis dan pembicara handal di bidang teknologi, manajemen, dan pendidikan.

16 thoughts on “Dedi Setiawan

  1. aku juga suka banget ke toko buku.
    Kadang, walaupun ngga beli apa-apa, tetep aja rasanya bahagia.

    Sangat detail ya penjelasannya.
    Cita-citaku juga ingin jadi penulis.
    Semangat terus mas.
    Semoga bisa jadi penulis handal dan bermanfaat dunia akhirat.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s