Obrolan Malam Kamis: Orang-orang di Parlemen

Seorang teman protes ketika melihat spanduk penolakan kenaikan BBM. Pikirannya kemudian mengalir ke milyaran rupiah yang digunakan untuk kampanye saat pemilu. Kebetulan spanduk itu dibuat oleh seorang anggota dewan dari suatu partai. Kalau benar ingin sejahterakan rakyat, kenapa hamburkan uang agar terpilih jadi anggota dewan? Tidakkah lebih baik jika uang milyaran rupiah itu digunakan untuk membangun sekolah atau fasilitas umum lainnya? Lebih konkret, kan?

Saya mencerna logika teman saya itu. Benar adanya. Dan saya hampir setuju. Jika ada uang satu milyar, lalu digunakan untuk membangun TK, masjid, atau klinik, hasilnya langsung bisa dirasakan, kan? Apalagi kalau dipinjamkan ke masyarakat untuk membangun usaha. Efeknya tentu langsung terasa.

Tapi kemudian saya berargumen. Untuk pendahuluan, saya ajukan pertanyaan retoris ke teman saya itu. Apakah permasalahan bangsa ini hanya sebatas yang terlihat oleh mata masyarakat saja? Apakah menciptakan kesejahteraan itu sebatas mendirikan gedung-gedung fasilitas umum? Sebatas bagi-bagi pinjaman untuk membangun usaha?

Ternyata tidak! Bangsa ini perlu orang-orang baik di parlemen. Orang-orang yang berjuang melahirkan kebijakan yang membuat rakyat jadi lebih sejahtera. Orang-orang yang memikirkan bangsa, bukan sebatas diri dan keluarganya sendiri. Orang-orang yang menyumbang untuk negara bahkan dunia, bukan tersekat di batas kampungnya saja.

Bangsa ini butuh orang-orang yang menyetujui anggaran pendidikan diperbesar. Butuh orang-orang yang mengawasi penggunaan anggaran negara. Butuh orang-orang yang bersedia berjuang menyelamatkan kekayaan bangsa hingga masih bisa dinikmati generasi selanjutnya.

Kalau uang miliaran rupiah itu hanya digunakan untuk membangun TK, klinik, atau fasilitas umum sejenisnya, berapa orang yang bisa menikmatinya? Mungkin sekitar orang satu kampung. Tapi kalau uang milyaran rupiah itu bisa mengantarkan seorang menjadi anggota dewan yang memperjuangkan 20% anggaran pendidikan misalnya, berapa anak bangsa yang mengecapnya? Satu negara!

Dan lagi, sangat mungkin anggota dewan tersebut juga membangun fasilitas-fasilitas umum. Kalau kita tidak tahu tentang itu, bukan berarti hal itu tidak terjadi, kan? Kalau parlemen dan jabatan strategis terus diduduki oleh orang-orang oportunis-materialistis, kapan nasib rakyat jadi lebih baik? Betul orang-orang di parlemen dan pemangku jabatan strategis di negeri ini belakangan banyak terlibat kasus korupsi. Tapi bukan berarti sudah tidak ada lagi orang yang bisa dipercaya, kan?

Pertanyaan pamungkas itu saya tujukan ke teman saya. Saya menunggu suara tanda setujunya. Sedetik, dua detik, tiga detik… tidak terdengar suaranya. Saya mengangkat kepala. Saya tatap langsung ke matanya. Dia juga langsung menatap mata saya. Saya angkat dua alis saya, dia juga langsung angkat dua alisnya. Saya menghela napas. Di saat yang bersamaan dia juga terlihat menghela napas. Saya alihkan pandangan ke barang-barang di belakangnya, ternyata sama seperti barang-barang yang ada di belakang saya. Hanya saja, barang-barang dan wajah dia berkebalikan secara horizontal dengan saya. Astaga!

Dedi Setiawan

Manhattan Hotel, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s